Sosok - Lansir

Sugeng Haryono, Mantan TKI Yang Merintis Usaha Penangkaran Burung Murai

Posted by: Jafry Aljawad | 01 March 2016 01:00 WIB | dibaca 279 kali

Sugeng Haryono, Mantan TKI Yang Merintis Usaha Penangkaran Burung Murai
Sugeng Haryono, di rumah penangkaran burung murai
Photo : KR Yogya

Nasional, LiputanBMI - Bermacam-macam usaha atau pekerjaan sukses dilakukan oleh para mantan TKI. Salah satu usaha yang dilakukan mantan TKI yang satu ini adalah penangkaran burung murai.
Burung murai adalah burung yang banyak disukai orang penghobi burung ocehan. Di alam bebas/hutan makin langka burung ini, karena penangkapan liar oleh para pemburu. Burung murai memang suaranya merdu, dan harganya yang lumayan mahal. Di hutan Jawa, apalagi hutan Kabupaten Banyumas, keberadaan burung murai sudah sulit dijumpai. Berawal dari niat melestarikan burung murai, Sugeng Haryono (40), pria asal Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Banyumas berjuang habis-habisan melakukan penangkaran burung murai di rumahnya.
Kesukaannya pada burung murai, burung mungil yang makin langka dengan variasi ocehan yang merdu itu membuat Sugeng Haryono tak tanggung-tanggung dalam upaya menangkar burung tersebut. Ia sampai rela menjual mobil dan sawah setengah hektar sebagai modal membangun kandang, pagar keliling dan membeli indukan burung murai. “Saya sepulang kerja di Korea Selatan sebagai TKI, 4 tahun lalu, langsung memborong puluhan pasang burung murai untuk ditangkar. Sebab saya lihat di hutan rakyat Gumelar dan sekitarnya tidak ada yang menangkar burung murai, sementara pecinta burung murai sangat banyak,” katanya, seperti dilansir Kedaulatan Rakyat Yogya Minggu (28/2/2016).

Ia mengaku modal nekad menangkar burung murai. Para tetangganya pun tak sedikit yang mencibir untuk apa menangkar burung dalam jumlah puluhan dan keluar biaya ratusan juta lagi, tapi ayah dua anak ini tetap berupaya memelihara puluhan murai sampai menetas. “Kurang dari tiga tahun saya merintis penangkaran burung murai ini. Total menghabiskan biaya Rp 900 juta. Alhamdulillah beberapa diantara sudah ada yang menetas, makin besar sehat, dan ngoceh. Tapi ada pula yang sudah menetas lalu mati,” ucapnya.

Menangkar burung murai, imbuhnya memang cukup sulit dibanding burung kicau lainnya. “Harga burung murai memang fantastis. Berkisar puluhan juta hingga ratusan juta rupiah perekornya. Kenapa mahal, karena tak gampang untuk menangkapnya, apalagi menangkarnya, lebih sulit lagi. Modal utama bila mau menangkar harus berdasar hobi. Selain itu butuh proses yang lama dan modal materi yang tak sedikit,” jelas Sugeng Haryono.

Di belakang rumahnya tersebut berderet kandang burung murai serta burung jalak, kacer dan goci sebagai tambahan.“Saya masih tahap belajar. Penangkaran burung ini harapan saya anak cucu kita kelak masih bisa menikmati kicauan murai, sebab di alam bebas sekarang nyaris punah,” ungkapnya.

Untuk menangkar, kata Sugeng Haryono, dalam satu kandang, Ia isi satu pejantan dan dua betina agar lebih cepat bertelur. Menurutnya hal itu tak lazim, lantaran umumnya satu pejantan dan satu betina saja sekandang. Atas hasil jerih payahnya itu, ternyata kini para tetangga yang sulit nyari burung murai, jalak, kacer maupun goci bisa membeli kepadanya. "Untuk murai baru bisa ngoceh awal kami hargai Rp 1 juta/ekor" paparnya.

Tak hanya menjual, ia juga masih kerap membeli burung murai yang sudah tua buat ditangkar. “Biasanya para penghobi murai setelah tak lagi bisa dilombakan sebab usia tua dan suaranya tak lagi merdu akan dijual. Bagi saya tetap berharga untuk ditangkar, dengan demikian, keturunan murai akan terjaga,” ujar mantan TKI yang kini sukses dengan usaha penangkaran burung murai tersebut.


(JWD, 01/03)

Share this post :

Kegiatan / Even TKI

PSSTKI

Kajian