Berita > Komunitas
Para Mantan TKI di Banyuwangi Ini Sukses Bikin Usaha Jajanan
28 Jun 2016 19:48:26 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 925
Ket: Para mantan TKI di Banyuwangi sedang memproduksi jajanan
Foto: Kabarpas

Nasional, LiputanBMI - Pengalaman pahit ketika merantau dan menjadi buruh imigran di Taiwan, membuat pasangan Krisna Adi (43) dan Ani Sugiyanti (28) memilih mandiri dan membuka produksi aneka kue di kampung halamannya. Berawal dari modal yang minim, kini usaha mereka berkembang dan kerap dijadikan oleh-oleh rekan sesama buruh migran.

"Sebelum ini, saya usaha antar jemput TKI dan banyak nganggurnya. Yang punya ide istri dan saya yang memasarkan karena netizen di facebook saya banyak. Kirim ekspor ke Taiwan, Hong Kong dan Singapura," ujar Krisna seperti dilansir Detikcom, Selasa (28/06/2016).

Kue yang diproduksi oleh pasangan Krisna dan Ani adalah aneka jajanan tradisional seperti keciput, kuping gajah, pastel kering, dan carang emas. Keduanya juga mengaku menjual kue kering yang diproduksi oleh rekan sesama eks buruh migran yang tergabung dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Banyuwangi. Melalui organisasi tersebut, mereka saling bantu untuk memasarkan produk masing-masing dan saling bertukar ilmu.

"Kebanyakan teman-teman kalau pulang bingung usaha. Teman-teman kita rangkul dan ajak wirausaha. Sudah dari sana kita punya modal dan punya skill, mau belajar ya monggo. Jadi salah satu teman ada kelebihan biar diajarkan ke orang lain. Jadi setiap pulang nggak inget Taiwan lagi, apalagi sekarang Banyuwangi berkembang pesat," ujar Ani.

Sejak awal bulan Ramadlan, mereka telah menembus produksi sebanyak empat kuintal kue. Meski juga melayani ekspor, mereka tak membedakan harga karena menyadari ongkos kirim yang sudah mahal.

"Bulan ini baru awal puasa sudah 4 kuintal jadi kue. Pastelnya saja 1 kuintal. Favorit carang emas karena sekarang (jajanan tersebut) sudah agak langka. Kami jualnya harga Rp 40.000/kg, harga lokal dan luar sama," kata Krisna menambahkan.

Jajanan yang menjadi primadona adalah carang emas yang terbuat dari potongan ketela yang berbentuk bulat dan dibalut gula merah. Resep membuat carang emas dipelajari Ani dari sang ibu, mulanya dia mengaku kesulitan, setelah beberapa kali mencoba akhirnya usahanya berbuah manis.

"Saya belajar 1 kg, ubinya itu lembek. Sudah tak sisihkan, bikin lagi agak keras, sampai ada yang jadi batu. Belajar terus sampai akhirnya habis ubi sekitar 20 kg baru bisa, itu saja belum sempurna. Saya punya HP benar-benar tak manfaatin buka Google dan Youtube untuk cari resep dan belajar," kata Ani.

Sementara untuk daerah di dalam negeri biasanya pesanan datang dari rekan sesama eks buruh migran yang mengirimkan untuk keluarga mereka. Satu kali pengiriman pun bisa satu dus kue dengan bobot sekitar 6 kg.

"Lokal kirim ke Malang, Trenggalek, Blitar, Madiun, Ponorogo, Yogyakarta, Pacitan, Jakarta, Lampung, yang pesan eks TKI dikirim buat keluarganya. Carang mas paling banyak pas lebaran 65 kg, kemarin kirim ke Trenggalek 17 kg," kata Ani.

Anggota KAMI yang lain, Siti Umaiyah (41) asal Desa Benculuk, Kecamatan Cluring ini juga sukses mengembangkan bisnis kue kering. Bahkan, di bulan Ramadlan, dia kebanjiran order kue kering buatannya yang rata-rata dibanderol per kilo Rp 50.000-Rp 70.000. Di rumahnya, ada sekitar delapan anggota KAMI dan tetangga yang diperbantukan untuk proses produksi.

"Kalau pesanan antara 6 kuintal semuanya. Paling jauh ke Jawa Tengah dan paling dibawa teman untuk oleh-oleh ketika balik ke Taiwan, Hong Kong atau Malaysia," kata Siti yang pernah bekerja selama enam tahun di Taiwan ini.

Tak hanya membuka lapangan pekerjaan, mereka juga mengajak rekan sesama eks buruh migran untuk berkarya. Mereka memilih untuk mengembangkan diri di negara sendiri ketimbang harus bekerja ikut orang di negeri seberang.

"Saya mau belajar nggak mau terus jadi TKW, Alhamdulillah atas bantuan dan dukungan teman-teman senior saling tukar informasi. Pengennya malah teman-teman khususnya dari Banyuwangi kita ubah pola pikir seperti itu (kerja sebagai TKI) mending usaha di Indonesia. Saya kepengennya membesarkan ini dulu dan produk yang kita buat masuk ke mini market tapi belum tahu jalannya gimana," tandas Ani.
(JWD, 28/06)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh