Berita > Opini
Menguak UANG PELOLOS, Praktek Percaloan di Lembaga Pendidikan Pelayaran
27 Jul 2016 15:10:35 WIB | Syafii | dibaca 851
Ket: Ilustrasi
Foto: Google-PicsArt

Nasional, LiputanBMI - LiputanBMI - Dengan adanya tuntutan standar pelaut yang ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO), pelaut dunia termasuk dari Indonesia harus mengikuti syarat dan ketentuan Standards of Training, Certifitation and Watchkeeping (STCW) Amandemen Manila 2010.

Seperti dikutip dari publikasi pada website resmi Kementerian Perhubungan pada tanggal 9 April 2015,  dinyatakan bahwa, mulai tanggal 1 Januari 2017, sertifikat kompetensi (COC) ataupun sertifikat keterampilan (COP) yang belum di- update mengikuti standar STCW Amandemen Manila 2010 diangap tidak berlaku, sehingga para pelaut tersebut tidak akan bisa berlayar. Para pelaut bisa melakukan updating kompetensinya sesuai standar STCW paling tidak sampai tanggal 31 Desember 2016.

Dunia pelayaran dalam negeri akhir-akhir ini sedang menggeliat
untuk menyetarakan sertifikasi pelaut- pelaut Indonesia dengan peraturan terbaru sesuai STCW Amandemen Manila 2010. Kondisi ini, di lapangan marak terjadi praktek percaloan yang dilakukan oleh oknum–oknum pegawai di lembaga pendidikan pelayaran di Indonesia untuk mengeruk rupiah dari calon-calon pelaut.

Sebagai contoh, praktek percaloan seperti itu terjadi di salah satu lembaga pendidikan pelayaran di wilayah Banten, tepatnya di Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang.

Penulis secara tidak sengaja bertemu dengan seorang nara sumber, sebut saja YAP (nama samaran) di lingkungan sekitar lembaga pendidikan pelayaran tersebut di atas, yang mengaku kecewa atas ribetnya persyaratan untuk mendaftar di lembaga itu dan adanya praktek percaloan terselubung untuk meloloskan calon pelaut.

Dalam perbincangan Penulis dengan YAP di sebuah kedai kopi, ia menyatakan bahwa ada oknum pegawai di BP2IP Tangerang yang melakukan praktek percaloan. Berikut kronologinya;

- Pada tanggal 17 Mei 2016 adik YAP mendaftar untuk pendaftaran seleksi penerimaan calon taruna pelayaran dan bertemu dengan seorang oknum pegawai di BP2IP Tangerang, pada saat bertemu, YAP bertanya bagaimana prosudernya, lalu si oknum pun meminta sejumlah uang dengan jumlah yang tidak sedikit yakni, sebesar Rp. 35 juta dengan iming–iming akan membantu meloloskan seleksi tersebut, yang akhirnya disepakati untuk pembayaran yang disebut "UANG PELOLOS".

- Pada tanggal 1 Juni 2016, ternyata hasil pengumuman dari seleksi penerimaan calon taruna pelayaran, menyatakan bahwa adiknya YAP tidak lolos. Merasa kecewa, YAP mendatangi oknum tersebut dan meminta uangnya dikembalikan. Setelah dirundingkan, si oknum bersedia mengembalikan uang itu namun meminta tenggang waktu.

- Tanggal 7 Juni 2016, oknum tersebut mengembalikan uang itu tapi hanya sebesar Rp. 32 Juta dari total yang diserahkan YAP sebesar Rp. 35 Juta. Saat ditanya kemana sisanya yang Rp. 3 Juta, oknum itu mengatakan bahwa yang Rp. 3 Juta sudah habis terpakai untuk dibagi-bagikan kepada panitia seleksi.

Dengan berbekal informasi dan wawancara dengan nara sumber di lapangan, akhirnya penulis menuliskan pengalaman ini sebagai acuan dan bukti bahwa di lembaga pendidikan tersebut masih
marak sitem percaloan dengan jumlah imbalan yang tidak sedikit.

Atas hal tersebut di atas, yang menjadi pertanyaan penulis adalah:

1. Apakah di semua lembaga pendidikan pelayaran di Indonesia seperti ini?

2. Sudah berapa lama praktek percaloan dikalangan dunia pendidikan pelayaran ini terjadi?

3. Apakah pihak terkait (Kementerian Perhubungan) mengetahui akan hal ini?

Pesan moral dari penulis adalah, meminta kepada pihak Kementerian Perhubungan untuk lebih meningkatkan pengawasan pada lembaga-lembaga pendidikan pelayaran, agar tidak terjadi lagi praktek-praktek percaloan dan penindakan tegas terhadap oknum-oknum pegawai lembaga-lembaga pendidikan di seluruh Indonesia serta memberikan pemahaman kepada masyarakat yang berniat menjadi pelaut agar melalui jalur yang prosedural sesuai ketentuan Undang-Undang yang berlaku.

Jakarta, 27 Juli 2016,
Penulis: Aris Sandy (Aktivis Pelaut)
Editor: Imam Syafi'i
(IS, 27/07)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh