Berita > Opini
Dilema Pemuda Ekspatriat Indonesia di Arab Saudi, Bekerja atau Pulang Lanjutkan Sekolah
13 Aug 2016 08:04:58 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 905
Ket: poto penulis: Hariri
Foto: doc/fb

Jeddah, LiputanBMI - Menurut data Bank Indonesia (BI) yang dikutip detikFinance (8/5/2015), setidaknya 1,3 juta ekspatriat asal Indonesia berada di Timur Tengah pada akhir tahun 2014. Arab Saudi menjadi negara di Timur Tengah yang menampung paling banyak WNI, yakni 1,01 juta jiwa.

Berbicara mengenai WNI di luar negeri, tentu erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka yang dibawa dari Indonesia maupun yang lahir di tempat mereka tinggal dan bekerja, baik dari segi pola asuh, cara berpikir, gaya hidup (lifestyle), fasilitas pendidikan, minat, bakat dan potensi, rasa nasionalisme, dll. Tak ayal menjadi sesuatu yang terlupakan bagi para pejuang TKI di Indonesia.

Belum ada data akurat soal jumlah keseluruhan anak-anak Indonesia di Arab Saudi. Namun, di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), sekolah Indonesia di salah satu provinsi di Arab Saudi, yang kini tercatat 1.400 anak didik. Jumlah ini di luar anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah internasional di Jeddah. Ada pula mereka yang bermukim di Makkah, Madinah, Thaif, Riyadh dan kota-kota lainnya. Ini juga belum termasuk usia balita serta yang memasuki usia 18-21 tahun atau masa remaja akhir (late adolescence).

Diyakini angka tersebut kian bertambah, mau tidak mau perhatian kita harus tertuju pada kualitas kehidupan tunas-tunas bangsa di luar negeri.

Penulis merupakan salah satu anak ekspatriat di Arab Saudi yang menyadari betapa berbedanya kehidupan serta cara pandang antara anak-anak Indonesia di Arab Saudi dan di Indonesia, yang sangat menonjol adalah tingkat nasionalisme dan keluasan ruang gerak pemuda-pemudinya.

Arab Saudi adalah lahan pekerjaan bagi orang asing. Maka konsen orangtua tertuju pada pembangunan kehidupan finansial yang stabil untuk di sini dan di Indonesia kelak, sedangkan kami (anak-anak Indonesia) seringkali seperti hanya diapit dua pilihan usai masa SMA. Melanjutkan pendidikan formal di tanah air atau mencari pekerjaan di Arab Saudi.

Tak semua ekspatriat berhasil di negeri rantau, juga tidak mudah mengenalkan kampung halaman kepada anak-anaknya karena kendala biaya. Selain dari cerita mulut ke mulut, sebagian dari kami hanya melihat Indonesia via sosial media dan berbagai gambar maupun artikel di internet.

Tentunya hal ini tidak berlaku bagi para ekspatriat yang berhasil, minimal mampu menghidupi kehidupan rumah tangganya secara berkecukupan. Mereka bisa kembali ke Indonesia sambil membawa dan menghabiskan waktu libur akhir tahun ajaran sekolah si anak, setidaknya tiga tahun sekali. Namun perlu diingatkan ulang, tak semua ekspatriat berhasil di negeri rantau.

Bagi sebagian kami, pergi dan hidup di Indonesia terkadang menjadi hal dilema. Tak mengenal Indonesia, tak melulu menjadi alasan kuat untuk menetap di Arab Saudi. Toh masih ada sanak famili yang bisa menemani di sana. Meninggalkan orang tua yang sedang berjuang demi keberlangsungan hidup keluarga kami. Bukan hanya untuk satu rumah tangga, pundak mereka menanggung ibu, ayah, ponakan, kakak, nenek, dan keluarga lainnya di sana pula. Ini magnet kuat supaya kami tetap tinggal.

Menetap dan bekerja serta menempuh study di Universitas Terbuka (UT) di sini layaknya menjadi opsi terbaik. Mengejar beasiswa untuk kuliah di tanah air juga bukan solusi yang mudah karena jumlah kami setidaknya ada 1400 kepala.

Penulis tak sedang mengajak pembaca menyalahkan siapa dan apapun termasuk fakta yang terus berlangsung. Juga tidak mengajak agar bagaimana kita terlibat dalam pengambilan keputusan masa depan setiap anak ekspatriat. Paparan di atas ialah fakta, bahwa kurangnya nasionalisme pemuda-pemudi kita di sini merupakan impact dari kurangnya kemampuan finansial untuk merasakan kenikmatan hidup di negeri sendiri.

Ruang gerak kami terbatas, apalagi bagi yang perempuan. Selain dikarenakan Arab Saudi yang patriarkis, lahan dan fasilitas untuk mengembangkan daya kreativitas kami tidak tersedia. Ini bukan sarkasme, sanepo, sinisme atau apapun untuk pemerintah. Penulis meyakini kemampuan anak-anak Indonesia yang mandiri dan nyaman hidup tanpa berharap kepada negara.

Kami tinggal di Arab Saudi, dan SIJ adalah Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) dengan jumlah murid terbanyak di muka bumi. Ia multikultural, sayangnya berapa banyak dari kami yang tahu kalimat legendaris Voltaire yang berbunyi, “Saya tidak sependapat dengan Anda. Tapi saya menjamin, akan berusaha mati-matian agar Anda dapat mempertahankan pendapat Anda”?

Latar belakang kami memang beragam, cara berpikir kami cenderung seragam. Sebabnya, sedikit sekali kesempatan untuk kami dapat berkecimpung di forum-forum yang terbiasa menerima perbedaan pendapat. Padahal, masa usai SMA adalah titik awal mengenal kehidupan yang nyata didalamnya penuh hiruk pikuk. Pelajaran di sekolah bukan selalu menjadi modal kami bersosialisasi, maka potensialitas pemuda sudah saatnya maksimal diberdayakan.

Bagaimana dengan festival seni budaya? Workshop fotografi, tulis menulis, public speaking, misalkan?. Pelatihan kepemimpinan atau seminar enterpreneurship? Pagelaran seni? Gerakan kemanusiaan yang digalakkan oleh anak-anak ekspatriat? Adakah? Kapan? Sedang me-underground-kan dirikah?. Bukankah kita seluruh masyarakat Indonesia sebaiknya bersinergi membangun tunas-tunas yang berkualitas? Menyediakan tempat minimal? Sepakat? Kita sudah bisa mulai?

Kalaupun rutinitas anak-anak di desa harus kami adopsi, di sini tak ada sapi untuk digembalakan, belut kami tangkap, jangkrik kami adu atau sawah yang bisa dibajak. Apakah energi pemuda yang meluap-luap tersebut hanya cukup dilampiaskan ke dunia kerja serta sosial media seperi facebook, snapchat, twitter, bigolive atau online sosmed 24 jam?

Saya banyak menemukan potensi dan bakat pemuda-pemudi kita di sini yang luar biasa. Energi mereka sedikit terkuras untuk membangun wadah ekpresinya sendiri terlebih dahulu, dan sebagian dari mereka sedang mencari jalannya.

Para ekspatriat, Ormas/LSM, lembaga pendidikan dan anak-anak Indonesia di Arab Saudi, sudah waktunya memulai kerja sama. Mari sediakan jalan atau fasilitas bagi mereka, merangkul dan berbaur, melaksanakan prinsip gotong royong, menghormati tumpah darah para sesepuh. Karena membangun Indonesia dimulai dari membangun manusianya. Oh iya, mungkin ada yang terlewat untuk disebutkan...Pemerintah? Ya, sudah optimalkah peran pemerintah dalam membangun SDM anak-anak bangsa di luar negeri ?.


Penulis: Hariri Thohir (22 Tahun)
Aktif di Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi
(IYD, 13/08)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh