Berita > Opini
Pengembangan Pemuda-pemuda Indonesia, Semua Harus Aktif Berperan
19 Aug 2016 02:34:58 WIB | Redaksi | dibaca 1405
Ket:
Foto:

Jeddah, LiputanBMI - Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 sudah berlalu. Nuansa nasionalisme serta patriotisme masyarakat Indonesia masih bisa kita rasakan meski tak sekhidmat kemarin. Seperti biasa, pertanyaan tentang apakah kita sudah betul merdeka atau masih terjajah menjadi pertanyaan rutin di bulan Agustus ini.

Timing, nuansa, dan kondisi psikologi kedua belah pihak (komunikan) akan selalu menjadi rujukan bagi seseorang dalam membangun sesuatu dengan cara mengutarakan pendapat. Tentunya pertengahan bulan Agustus adalah momen yang memenuhi kriteria di atas. Maka menjadi hal yang wajar bagi rakyat Indonesia apabila mempertanyakan hal tersebut. Merdeka atau belum?

Beberapa hari setelahnya pertanyaan itu mengendap karena masing-masing dari kita akan kembali memusatkan pikiran dan tenaga pada tugasnya yang belum selesai. Yakni, memerdekakan diri dan keluarga sendiri.

Tontowi Ahmad (29) dan Liliyana Natsir (30), pebulu tangkis ganda campuran yang berhasil meraih medali emas olimpiade di Rio Jenerio kemarin, serta Rio Haryanto (23), satu-satunya pembalap asal Indonesia di ajang F1, adalah contoh pemuda-pemudi Indonesia yang sedang bersaing di kancah internasional demi mengharumkan nama bangsa dengan keahlian juga kemampuan yang mereka miliki.

Saya teringat kalimat dari Pramoedya Ananta Toer, “Indahnya dunia ini jika pemuda tahu perjuangan!”. Melihat Indonesia ke depan bisa dilihat dari kualitas pemudanya sekarang.

Tentunya negara akan terus bahkan wajib terlibat dalam rangka memaksimalkan potensi dan daya pemuda-pemudi Indonesia (sebisa mungkin) untuk menggapai prestasi di tingkat nasional sampai internasional. Dimulai pendidikan, pembinaan, dukungan dana dan moral, akomodasi, serta hal-hal yang terkait.

Ciri khas pemuda sebagai individu yang revolusioner dan labil, serta kedudukannya sebagai penerus bangsa menjadi alasan kuat agar seluruh unsur masyarakat Indonesia berperan aktif dalam penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda sebagai bentuk pembangunan nasional.

Sebagaimana yang termaktub di Pasal 9 UU Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan bahwa pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat berkewajiban untuk bersinergi dalam melaksanakan pelayanan kepemudaan.

Melihat semakin pesatnya pertumbuhan daya kreatif pemuda-pemudi Indonesia di Arab Saudi belakangan ini dan pelayanannya yang belum mencukupi, penulis meyakini bahwasanya sekarang ialah momentum yang baik untuk kembali mengajak pemerintah dan masyarakat Indonesia menaruh perhatian khusus kepada anak-anak Indonesia di luar negeri, khususnya Arab Saudi.


Penulis berandai-andai, Gedung Balai Nusantara Wisma Konjen RI Jeddah yang digunakan hanya pada waktu-waktu tertentu bisa difungsikan sebagai pusat pengembangan kepribadian, karakter, potensi, bakat, kreativitas dan media informasi tentang Ibu Pertiwi untuk pemuda-pemudi Indonesia di Arab Saudi.

Para ekspatriat akan diminta bergabung menularkan berbagai skill kepada pemuda juga terhadap sesama BMI. Musik, seni audiovisual, seni rupa, seni bela diri, diskusi kebudayaan, bedah buku, seminar sastra, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya berlangsung di gedung tersebut.

Dengan ini pemuda akan semakin mudah bersosialisi dengan para BMI, di sisi lain pemerintah dan masyarakat akan sangat mudah bekerja sama sesuai yang diharapkan pada undang-undang yang diutarakan di atas.

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya, dan mencintai tanah air dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”, ini cuplikan dari pernyataan Soe Hok Gie. Kalau nantinya kami pemuda-pemudi Indonesia di luar negeri tak mengenal dan mencintai negaranya sendiri karena ketidakpedulian kita. Tak apa-apa?

Penulis: Hariri Tohir
Alummi SIJ dan Aktif di Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi

(RED, 19/08)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki