Berita > Opini
Loket Pelayanan KBRI Riyadh Memprihatinkan
06 Sep 2016 15:45:58 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 6039
Ket: Suasana loket pelayanan warga, KBRI Riyadh
Foto: LBMIRUH

Riyadh, LiputanBMI - Rupa-rupanya apa yang menjadi keprihatinan para pegiat TKI dan LSM se-Riyadh belum mendapat respon sepenuhnya dari KBRI, salah satu yang menjadi sorotan adalah penyediaan air minum bagi pengunjung di ruang pelayanan konsuler dan ketenagakerjaan.

Saat upacara HUT ke-71 RI beberapa waktu lalu, para pegiat TKI dan LSM se-Riyadh menyampaikan apresiasi, temuan, rekomendasi dan permohonan informasi secara langsung kepada Duta Besar RI, Agus Maftuh Abegebriel.

Para pegiat TKI mengajukan permohonan supaya disediakan air minum di ruang loket pelayanan warga mengingat tidak adanya kantin umum di area gedung KBRI sebagaimana lazimnya di pusat pelayanan warga di Indonesia.

Dalam pantauan Liputan BMI, pada Minggu, (4/9/2016) di sudut ruangan pelayanan teronggok dispenser tak berfungsi dengan galon kosong di atasnya. Hal ini sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama.

Siang itu pengunjung cukup padat menambah sesaknya ruang loket pelayanan KBRI Riyadh yang sempit, ditambah cuaca di luar yang mencapai 43 C, serta sistem antrian yang masih tradisional, kondisi ini sungguh memprihatinkan.

Untuk sekedar membeli air mineral, pengunjung harus keluar area gedung KBRI, letak toko terdekat berjarak sekitar 200 meter. Pengunjung yang tidak membawa persiapan air minum kemasan harus menahan haus selama berjam-jam dalam antrian jika tidak ingin kehilangan giliran.

Standar kualitas pelayanan yang masih rendah tergambar dari sikap petugas loket yang kadang tidak ramah kepada sebagian TKI, khususnya TKW yang kurang paham dalam mengisi formulir atau menjawab pertanyaan saat interview.

Selain itu sistem antrian masih seperti di tempat penjual tamis (roti khas Arab), belum menggunakan sistem penomoran. Alhasil para TKI (maaf) yang lugu, berdesak-desakan dalam barisan antrian. Pemandangan yang tidak elok di zaman Facebook ini.

Dispenser air minum di ruang loket pelayanan warga, KBRI Riyadh
Dispenser air minum yang tidak berfungsi di ruang loket pelayanan warga, KBRI Riyadh
Sumber: LBMIKSA

Namun di balik semua itu, penulis beruntung menjadi saksi ketegasan staf KBRI, yaitu saat petugas loket menemukan TKI PLRT yang sudah bekerja selama enam (6) tahun dan masih digaji SAR 800 per bulan (di bawah standar). Petugas loket langsung bertindak.

TKI PLRT yang diantar majikannya tersebut disuruh masuk ke dalam loket dan tidak diperbolehkan mengikuti majikannya yang enggan menaikkan gajinya. Sang majikan bengong dan pergi meninggalkan loket kehilangan pekerjanya.

Ketegasan petugas KBRI seperti ini patut diapresiasi, dan sudah saatnya para TKI tidak takut atau ragu menyampaikan keluhan atau permasalahan yang dialami kepada para staff/petugas KBRI dan KJRI, utamanya saat berada di dalam lingkungan kantor kedutaan atau konsulat.

Penulis berharap, seluruh elemen masyarakat di Riyadh, baik ekspatriat, WNI yang beruntung ataupun yang belum beruntung, para TKI, pelajar dan mahasiswa agar bersama-sama mendesak pemerintah pusat supaya secepatnya melakukan perbaikan standar pelayanan dengan menambah luas ruang pelayanan berikut jumlah petugasnya.

Jangan lupa ganti dispenser dan isi galonnya! Waktu itu penulis kehausan.

Penulis: Tatang Muhtar Abu Rayyan (TKI di Riyadh)

(TTG, 06/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh