Berita > Opini
Apa yang Bisa Dibawa Pemuda ke Indonesia dari Arab Saudi?
27 Sep 2016 22:36:23 WIB | Redaksi | dibaca 14059
Ket: Hariri Cs
Foto: doc/fb

Jeddah, LiputanBMI - Tahun 2015 lalu, menjadi pengalaman menarik saat bertemu dengan salah satu pekerja Indonesia di Saudi Binladin Group (SBG) cabang Makkah yang awalnya hanya kenal melalui sosial media facebook. Usianya masih muda, 25 tahun. Seperti BMI lainnya, faktor ekonomi dan keinginan untuk mencari pengalaman yang membawanya ke negeri petrodollar.

Ketika bertemu, penulis dicurhati tentang banyak hal. Salah satunya adalah sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. Bahkan, dalam konteks wilayah Arab Saudi, pertanyaan tersebut termasuk pertanyaan yang konyol.

Namun, hingga kini pertanyaan tersebut masih terngiang di telinga. "Saya bingung, mas. Apa yang bisa saya bawa pulang ke Indonesia dari Arab Saudi?"

Ya, ini konyol. Sangat konyol. Arab Saudi adalah ladang pekerjaan. Tak mungkin ada tempat membangun, menampung serta gerakan memancing adrenalin pemuda Indonesia untuk berkarya di Arab Saudi.

Tujuan pemuda tersebut bertanya tentunya tentang bagaimana cara ia (yang masih muda) bisa ikut membangun Indonesia saat ini dan dari luar negeri, atau kelak sehabis masa kontrak (di Indonesia) dengan bermodalkan ilmu dan pengalaman dari tempat ia bekerja di Arab Saudi.

Ia bertanya dengan mengedepankan unsur nasionalisme. Sementara saran untuk bekerja hingga punya modal untuk berwirausaha tidak bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan ini.

Yang dibahas pemuda tersebut, tidak mengarah kepada para mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai Universitas di Arab Saudi. Melainkan kepada anak-anak ekspatriat asal Indonesia yang tidak melanjutkan studi ke tanah air. Pemuda Indonesia berusia 20 hingga 35 tahun yang sekolah hingga lulus SMA di sini dan sebagian besar dari mereka sudah bekerja.

Jika demikian, apa yang bisa dibawa pemuda kita dari Arab Saudi ketika pulang ke Indonesia nanti?

Di sini, jika pemuda ingin berkreasi, mereka harus menciptakan ladangnya sendiri. Bukti konkrit bahwa kepedulian masyarakat di bidang tersebut hampir nihil ialah sorotan media yang lebih tertarik pada permasalahan TKI saja. Dari hukuman mati, kinerja BNP2TKI yang terus dpertanyakan, TKI yang menjadi korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), penyelundupan, fitnah dari majikan, dll.

Terkait pemudanya? Sekolah Indonesia (tempat ia mengenyam pendidikan)-nya saja yang seksi diliput.

Jika semua dikerjakan sendiri, tanpa ada dorongan semangat, bimbingan dan campur tangan semua pihak supaya pemuda di sini berkualitas, tak salah apabila mereka menjadi generasi individualis dan hedonis, bukan?

Hedonis? Ya. Sebagian besar pemuda Indonesia yang tumbuh dan bekerja di sini hanya kembali ke tanah air untuk liburan dan menghambur-hamburkan uang. Menyedihkan.


Penulis: Hariri Thohir
Alummi SIJ dan Aktif di Gerakan Pemuda Ansor Arab Saudi
(RED, 27/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh