Berita > Cerpen Puisi
Aku Memilih Bercerai, Karena Suami Berzinah
27 Nov 2016 22:03:11 WIB | Yully Agyl | dibaca 8293
Ket: ilustrasi
Foto: google

Taipe, LiputanBMI - Kalau orang lain ingin mempertahankan perkawinannya, aku justru menginginkan perceraian. Tentu saja semua ada sebabnya.

Keberangkatanku ke Taiwan lima tahun yang lalu karena usaha kami yang bangkrut dengan meninggalkan hutang yang tidak sedikit. Penagih yang datang silih berganti, menambah stres pikiranku dan satu-satunya jalan menjadi TKW.

Masih tetap tersimpan dalam memori otakku, ketika baru satu tahun di Taiwan mendengar kabar perselingkuhan suami.
Apalagi si perempuan yang merasa menang menaklukkan suamiku itu dengan pede-nya dia meneror lewat SMS-SMS pedas.

'Mas Agus tuh cinta mati sama aku, kamu pasti diceraikan. Jangan banyak berharap deh.'

'Kamu tuh ya, sudah dianggap gak ada rasanya, hambar. Mending ngalah aja. Aku lebih cantik dari kamu. Dasar perempuan tua!'

SMS-SMS seperti itu yang hampir tiap hari kuterima dari perempuan yang bernama Krisna. Mungkin dia mendapatkan nomer HP-ku dari HP suami. Bila mengingatnya sungguh membuat hatiku bagai disayat sembilu. Sakit.
Tetapi mas Agus tidak pernah mengakui perselingkuhan itu. Saudara-saudaranya juga menyangkal.

Aku hanya bisa berurai airmata setiap hari. Apalagi bila malam tiba, hanya bisa mengadu kepada Tuhan, agar diberi kekuatan.
Kabar itu makin lama makin santer. Pertengkaran dengan suami tidak bisa dielakkan lagi. Walau aku mengerti kebutuhan biologisnya tetapi tetap saja tak bisa menahan cemburu dan tak ingin diduakan.

"Tuhan, inikah cara-Mu membuatku kuat?"

Kata itu sering kuucap diantara doa-doa. Kepada teman yang kumintai pendapat, lebih banyak yang menyarankan untuk bercerai.

Tidak! Aku hanya ingin keputusan terbaik, sebisa mungkin bukan perceraian. Tiada henti aku menimbang baik buruk keputusan yang mau kuambil.
Menyelamatkan pernikahan kami, juga menghindari dosa besar perzinahan suami yang tentu saja aku ikut menanggungnya.

"Bu, tolong bilang ke mas Agus, alangkah lebih baik dia nikahi perempuan itu," kataku kepada ibu mertua lewat telepon setelah beberapa bulan kemudian.

"Apa kamu waras? Kamu mau dimadu?"

"Apa ibu tidak malu, mendengar gunjingan orang-orang tentang kelakuan mas Agus? Aku saja yang tidak mendengar langsung, malu Bu."

"Apakah bisa menikah sementara dengan kamu tidak bercerai?"

"Menikah sah jelas tidak mungkin, setidaknya menikah siri. Aku akan terus belajar ikhlas, saat ini tidak kulihat secara langsung. Lama-lama pasti juga terbiasa," jawabku datar, tanpa rasa di hati.

Izin yang kuberikan tidak ditanggapi mas Agus. Fitnah berbalik, aku dikatakan punya simpanan lelaki lain di Taiwan.
Memang, niat baik tidak selalu mendapat tanggapan baik. Kesabaran dan mencoba ikhlas untuk "berbagi" suami dengan baik-baik dan sah menurut agama, nyatanya berbuah sangkaan negatif.

Hanya Tuhan dan orang-orang di sekitar tempat kerja yang tahu keadaanku. Tinggal hanya berdua dengan pasien yang kurawat. Jangankan untuk libur, izin keluar lebih dari 20 menit saja tidak berani, karena tidak ada yang menjaga pasien.

*****
Semakin lama, komunikasi dengan suami semakin jarang. Nomer HP-nya sering berganti-ganti. Bagiku, mengetahui kabar anak-anak sudah cukup, yang penting aku tidak pernah telat memberi jatah dan terus kontak dengan anak-anak. Demikian juga dengan hutang-hutang itu, semua dibebankan kepadaku.

"Mbak, perempuan itu jadi TKW ke Hong Kong," kata Eva, adik mas Agus.

"Sejak kapan?"

"Nggak tahu. Tetapi paling tidak sekarang mas Agus tidak punya selingkuhan."

"Alhamdulillah, semoga saja, mas kamu benar-benar insyaf."

Apa yang dikatakan Eva, aku tidak tahu benar tidaknya atau mungkin sekedar menenangkanku. Entahlah. Aku tak ambil pusing. Hanya tinggal satu tahun finish kontrak, pulang dan akan tahu semuanya.

*****
Jaman sekarang, apa yang terjadi di belahan bumi kutub utara dalam hitungan menit orang di kutub selatan akan mengetahuinya.
Apalagi kalau gosip negatif.

"Ada kabar mas-mu nikah siri dan tinggal dengan wanita lain lagi, benar gak?" tanyaku ke Eva ketika kontrak kerjaku kurang enam bulanan.

"Walaa... . Mbak jangan didengarkan. Keluargaku lho gak dengar hal itu, kok justru mbak yang jauh tahu. Kata ibu, gak akan menganggap menantu perempuan yang merusak rumah tangga kalian."

"Benarkah? Syukurlah. Tapi kalau iya, lihat saja nanti."

Cara Tuhan menunjukkan sebuah kebenaran, tidak ada satu pun umatnya yang tahu, kapan dan bagaimana. Demikian juga dengan yang kualami. Orang yang tidak kukenal sama sekali mengirimkan foto-foto mesra suamiku dengan janda beranak tiga itu lewat inbok Fb-ku.

Di satu sisi hatiku kembali terluka, namun di sisi lain aku mengucap syukur. Aku bisa tahu semua lebih awal, dan itu bisa jadi penentu langkahku berikutnya.
Foto-foto tetap kusimpan dan bisa kujadikan bukti. Lagi-lagi, keluarga mas Agus menjawab tidak tahu menahu akan hal itu.

Tiga tahun kontrak kerja kujalani dengan tekanan batin yang dasyat. Majikan baik, pekerjaan bisa dibilang ringan tetapi godaan dari keluarga yang berat. Hanya anak-anak yang selalu membuatku kuat.

*****
"Kemana mas Agus, Va?" tanyaku.

"O... eh... Mas Agus lagi kerja, belum pulang," jawabnya gugup.

Rumah Eva, menjadi tempat berkumpul keluarga mereka. Sengaja aku tidak memberitahukan kepulanganku, karena ingin melihat sendiri kenyataan sebenarnya.
Tak kutemui sosoknya. Hingga dua hari dua malam aku di sana, dia juga tidak pulang.

"Sebenarnya kamu di mana? Kenapa tidak pulang? Beginikah selama aku tinggal?"
Pertanyaanku kepadanya beruntun di telepon.

"Nanti kalau aku pulang, kita bicara. Kita selesaikan semua," jawabnya singkat dan menutup telepon.

Seseorang akan dipercaya kalau dia bisa menepati janji dan omongannya sendiri. Nyatanya... mas Agus tidak bisa menepati omongannya sendiri. Jangankan menyelesaikan masalahnya, menemuiku saja tidak.
Hingga aku kembali ke Taiwan, dia tidak menampakkan batang hidungnya.

Tiada guna aku mengharap dia lagi. Kepercayaannya sudah dikhianati, kesempatan yang kuberikan untuk menghindari zinah pun tidak diindahkan. Teruskanlah petualangan nafsumu, jangan bawa istri dan anak-anakmu ikut menanggung dosa.
Lebih baik aku bercerai, daripada terus sakit hati karena terus terkhianati.

*****Tamat*****
Taiwan, 28 November 2016

Cerita diangkat dari kisah nyata
(YLA, 27/11)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh