Berita > Seputar TKI
Jaksa Buka Kembali Penyelidikan atas Kematian TKI ABK Supriyanto
19 Dec 2016 23:57:59 WIB | Yully Agyl | dibaca 5573
Ket: Keluarga alm Supriyanto. Alm Supriyanto (insert)
Foto: The Reporter web

Taipe, LiputanBMI - Penyelidikan kematian seorang pekerja perikanan (ABK) asal Indonesia di kapal Taiwan tahun lalu telah dibuka kembali oleh jaksa wilayah Pingtung sesuai instruksi dari Badan Pengawas dari pemerintah (Control Yuan), Senin (19/12).

Kasus ini akan dibuka kembali berdasarkan video dan bukti forensik yang dianggap penting dalam sebuah laporan di Badan Pengawas, demikian kata juru bicara Chen Yun-ju (陳韻如) sebagaimana dikutip LiputanBMI dari Apple Daily.

Dalam laporan Badan Pengawas bulan Oktober, TKI ABK berusia 40 tahun, yang diidentifikasi dengan nama Supriyanto, meninggal pada bulan Agustus 2015, septikemia dari luka yang terinfeksi karena ia tidak diberi pengobatan tepat waktu setelah mengalami penganiayaan sekitar satu bulan sebelumnya di kapal ikan Futzuchun.

Laporan tersebut mengatakan, luka Supriyanto menjadi terinfeksi karena kapten menolak untuk berlabuh di pelabuhan terdekat untuk mencari bantuan medis.

Laporan ini juga dikecam Badan Perikanan Taiwan, mengatakan bahwa peraturan dan pengawasan dari agen tenaga kerja dan majikan pekerja perikanan seperti Supriyanto tidak memadai.

Badan ini telah lalai dan terlambat dalam menyelidiki kematian Supriyanto dan pemberian kompensasi kepada keluarganya.

Dalam pemeriksaan atas kasus tersebut, Badan Pengawas menemukan bahwa jaksa telah mengabaikan bagian dari laporan forensik kematian Supriyanto dan telah kehilangan bukti penting dalam tiga video klip karena masalah terjemahan.

Dengan mempertimbangkan semua isu-isu, Badan Pengawas membuat permintaan formal untuk Kantor Jaksa Pingtung guna membuka kembali penyelidikan atas kasus ini.

Kantor jaksa melakukan penyelidikan pertama pada September 2015 dan kasus ditutup pada 10 November 2015 dengan kesimpulan bahwa Supriyanto telah meninggal karena infeksi.

Penutupan cepat dari kasus ini menarik perhatian di Taiwan dan di luar negeri juga media asing. Termasuk BBC melaporkan hal itu, dan kelompok-kelompok hak tenaga kerja lokal mengungkap bukti perlakuan tidak adil yang pekerja migran alami.

Pada hari Senin, Apple Daily di Taiwan menerbitkan headline terkait masalah tersebut dengan judul " Shame on Taiwan; Over 10,000 Fishery Workers Abused on Deep-Sea Fishing Boats" (Malu pada Taiwan; Lebih dari 10.000 Pekerja Perikanan Disalahgunakan di Kapal Ikan).

Surat kabar itu menuliskan berdasarkan informasi yang diberikan oleh situs berita non-profit Taiwan hasil penyelidikan dengan otorisasi eksklusif The Reporter.

Reporter itu mengatakan Supriyanto dipekerjakan melalui penyalur tenaga kerja ilegal di Taiwan dan Indonesia dan setelah kematiannya, keluarganya telah ditipu oleh calo Taiwan untuk menandatangani perjanjian agar tidak melakukan tindakan hukum atau mencari kompensasi.

Supriyanto yang mantan kondektur bus dari kota Tegal Indonesia, mulai bekerja di kapal Taiwan untuk pertama kalinya pada tahun 2014 dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang untuk menghidupi keluarganya.

Pada 2015, ia disewa untuk bekerja sebagai salah satu dari 11 anggota awak di kapal Futzuchun Kaohsiung, yang berangkat dari Tonggang, Pingtung untuk mencari ikan tuna di Samudera Pasifik barat.

Tiga bulan kemudian, Supriyanto meninggal di kapal.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan April, kelompok Internasional Greenpeace mengatakan, Taiwan tidak memiliki peraturan untuk melindungi hak-hak nelayan asing yang dikontrak dan tidak ada upah minimum tertentu atau jam kerja.

Greenpeace mengatakan undang-undang perikanan Taiwan baru dibuat tahun ini dan dijadwalkan berlaku pada bulan Januari tahun depan dan akan menjadi ompong kecuali itu diterapkan dengan benar.

Laporan itu menyusul "kartu kuning" peringatan dikeluarkan untuk Taiwan oleh Komisi Eropa pada 1 Oktober 2015 untuk membersihkan industri perikanan atau menghadapi sanksi ekonomi dari Uni Eropa.
(YLA, 19/12)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh