Berita > Seputar TKI
TKA ABK di Taiwan Menuntut Agar Terlindungi oleh Hukum Standart Tenaga Kerja
28 Dec 2016 04:37:03 WIB | Yully Agyl | dibaca 1198
Ket: Aksi para ABK
Foto: CNA Taiwan

Taipe, LiputanBMI - Tenaga Kerja Asing (TKA) Anak Buah Kapal (ABK) yang direkrut untuk bekerja di kapal pencari ikan Taiwan dan didukung oleh perwakilan dari kelompok sipil, melakukan protes menuntut berlakunya hukum standart tenaga kerja ( Labor Standards Act ) bagi mereka di luar kantor Dewan Pertanian ( the Council of Agriculture / COA), Selasa (27/12).

TIWA dan para ABK tersebut dalam konferensi pers di luar kantor Dewan Pertanian mengatakan agar diberi perhatian pada kurangnya hak asasi manusia yang diberikan kepada para TKA ABK yang bekerja di kapal ikan. Keinginan mereka supaya dilindungi hak pekerja dalam bekerja oleh hukum standart tenaga kerja.

Sebagaimana dilansir CNA Taiwan, Selasa (27/12), dalam orasinya dua orang ABK menyiapkan "sweatshop" seafood sup dan petisi untuk mendukung point inti mereka.

Seorang pejabat perikanan menjawab, bagaimanapun untuk mendapatkan pekerja ini termasuk dalam hukum perburuhan akan sulit.

Menurut wakil direktur jenderal Badan Perikanan, Huang Hung-yen (黃鴻燕), saat ini ada 10.000 TKA ABK yang dipekerjakan di laut dekat Taiwan dan kapal perikanan lepas pantai. Mereka dilindungi oleh undang-undang tenaga kerja karena mereka dipekerjakan setelah memasuki Taiwan .

Tetapi, 18.000 TKA ABK bekerja di kapal ikan laut lepas Taiwan dan dipekerjakan di luar negeri dan pada umumnya langsung ke tempat kapal beroperasi. Mereka inilah yang tidak memenuhi syarat untuk dilindungi oleh undang-undang tenaga kerja.

Ungkap Huang lebih lanjut, TKA ABK yang bekerja di kapal laut lepas yang masuk dalam hukum Standart Tenaga Kerja Labor akan memerlukan konsultasi dengan Departemen Tenaga Kerja. Diakui, bahwa peluang keberhasilan sangat tipis.

Tidak ada negara memberikan perlindungan yang sama saat ini. Seperti di Jepang yang memiliki banyak kapal ikan, bahkan TKA ABK yang disewa di dalam negeri dilindungi oleh undang-undang yang terpisah.

Pada kesempatan itu para ABK juga mengatakan, jika mereka tidak dilindungi oleh Hukum Standart Tenaga Kerja, tragedi Supriyanto yang meninggal di atas kapal ikan Taiwan pada bulan Agustus 2015, bisa terjadi lagi.

Supriyanto, meninggal karena keracunan darah dari luka yang terinfeksi karena ia tidak diberi pengobatan tepat waktu setelah dianiaya di atas kapal sekitar satu bulan sebelum ia meninggal.

Keluarga Supriyanto hanya menerima uang kompensasi NTD 100.000 (USD 3.098).

Huang mengatakan, pemilik kapal didenda NT $ 150.000, dan kasus tersebut telah dibuka kembali dan sedang diselidiki lagi.

Jika nakhoda dipastikan melakukan kejahatan, instansi terkait akan memberikan kompensasi kepada keluarga Indonesia ini sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Korban Kejahatan.
(YLA, 28/12)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki