Berita > Kajian
Tiada Pikir Tanpa Dzikir dan Tiada Dzikir Tanpa Pikir
22 Jun 2015 00:14:55 WIB | Redaksi | dibaca 453
Ket: Kalender 2016 LiputanBMI.com
Foto: Portal Kita

Sukabumi, LiputanBMI - Telah diwajibkan kepada umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Khusus pada bulan Ramadhan ini, amal kebaikan umat Islam akan dibalas dengan berkah pahala yang berlipat ganda, bahkan bila kita menjalani puasa dengan sempurna, ketika hari lebaran datang, kita akan bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir kembali.

Maka kita sebagai umat muslim sudah seharusnya tidak melewatkan bulan Ramadhan dengan kegiatan yang sia-sia. Agar lebih termotivasi menjalani bulan puasa dan lebih memahami makna bulan ramadhan itu sendiri, ada beberapa dalil yang bisa kita pelajari dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Diantara keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan adalah :

1. Bulan diturunkannya Al-Quran
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) pertamakali diturunkan. Sesuai dengan QS. Al-Baqarah 185 yang artinya:
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

2. Amal Sholeh Yang Berlipat Ganda
Setiap amalan sholeh dari seorang muslim pada bulan Ramadhan ini akan mendapatkan balasan berlipat ganda, sampai 70 kali lipat sebagaimana terdapat dalam Hadist:
Khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sa`ban “Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaung. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu,nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Bukhori-Muslim).

3. Bulan Pernuh Keberkahan
Pada bulan puasa seorang muslim berkesempatan untuk kembali ke jalan yang baik dan mendapat keberkahan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Maka bila seorang muslim pada bulan puasa saja tidak juga memanfaatkan kesempatannya, bulan lain kemungkinan akan lebih buruk lagi. seperti hadits dibawah ini:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.” (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

4. Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa
Pada bulan Ramadhan juga seorang muslim berkesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, bahkan ibadah yang sempurna pada bulan puasa akan menjadikan seorang muslim suci kembali bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah Hadist Shahih:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)
“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

5. Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup
Selebar-lebarnya pintu untuk kembali ke jalan yang lurus pada bulan Ramadhan dibuka bagi umat Islam. Sebuah Hadist menyebutkan:
“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. Muslim)

6. Bulan yang Mendidik untuk Mencapai Ketaqwaan
Menahan haus, lapar dan amarah merupakan jalan menuju sifat-sifat sabar dan taqwa. Itulah mengapa berpuasa sebulan penuh pada Ramadhan dapat membimbing umat Islam mencapai ketaqwaan. Sebagaimana disebut dalam Al-Quran, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah 183)

7. Diturunkannya Malam Lailatul Qadar
Malam 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan waktu-waktu yang diantaranya terdapat malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr 1-3).

Lantas bagaimana kita dapat mensikapi keutamaan-utamaan bulan suci ini?. Dan bagaimana cara meraihnya ?
Salah satu satu metode untuk mencapai keutamaan-utamaan tersebut adalah dengan menyeimbangkan Dzikir dan Pikir. Karena itu, maka tugas Rasul adalah mengajarkan ilmu dan hikmah kepada umat manusia untuk tercapainya keseimbangan kehidupan (QS 2:151).

Ilmu terdapat dalam literature perpustakaan, dokumen-dokumen tertulis dan kitab suci yang diturunkan Allah SWT. Semuanya dilambangkan oleh Allah SWT. Dengan istilah ayatun (tanda-tanda kebesaran Allah SWT.) (QS 33:34).

Berbeda dari ilmu, hikmah bisa dipelajari tetapi tidak dapat diberikan. Ia bisa dipahami dan dimengerti, tetapi tidak dapat dimiliki hanya dengan olah pikir. Pemberian hikmah kepada manusia berada dalam otoritas Allah SWT. Semata dan tergantung sepenuhnya kepada kemauan-Nya (QS. 2:269).

Kita memerlukan penyeimbang kegiatan olah pikir untuk mencapai kebenaran yang diperlukan. Kalau olah pikir adalah kegiatan tak terbatas, maka yang diperlukan adalah kegiatan spiritual yang juga tak terbatas. Satu-satunya kegiatan spiritual yang tak terbatas adalah Dzikir. Dan bacaan dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah (tidak ada tuhan kecuali Allah).

Dzikir artinya ingat Allah, denngan lisan atau hati, yang dilakukan karena lupa atau karena ingin mengabdikan ingatan kita kepada Allah. Seperti halnya pikir, ia dapat dilakukan dengan segala sikap. Duduk maupun tidur, dengan suara nyaring maupun pelan tanpa suara (QS. 3:191). Berbeda dari ibadah-ibadah lain, dzikir diperintahkan untuk dilakukan dalam setiap sikap dan waktu (QS. 2:198). Allah juga memerintahkan kita untuk berdzikir sebanyak mungkin, tanpa batas angka (QS. 33:41).

Dzikir tidak akan sampai pada tujuannya bila dalam berdzikir kita tidak dapat meraskan kebesaran Allah SWT. Maka tak heran bila Allah di banyak ayat seringkali menggandeng perintah dzikir dengan pikir (QS. 3:191).

Betapa mudahnya berdzikir, betapa besar kegunaannya, betapa besar pahalanya. Marilah untuk menggapai keutamaan-utamaan bulan Ramadhan ini, kita jadikan semboyan sebagai jalan hidup kita : “Tiada Pikir tanpa Dzikir dan Tiada Dzikir tanpa Pikir”.


Writer : Abdul Hadi Akram S.Ag
(RED, 22/06)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki