Berita > Kesehatan
Dampak Buruk Kabut Asap Bagi Masyarakat
05 Oct 2015 13:46:43 WIB | Saritya | dibaca 870
Ket:
Foto:

Taiwan, LiputanBMI - Bencana kabut asap di enam provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan belum juga hilang meski telah enam bulan melanda. Kondisi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bahkan makin membahayakan warga.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jarak pandang di Palangkaraya kini hanya 100 meter. Angka ini jauh di bawah jarak pandang di daerah lain di Kaliamantan seperti Pontianak 1.000 meter, Sintang 400 meter, dan Ketapang 800 meter.

Untuk jarak pandang beberapa daerah di Sumatra masih di batas 500 meter, seperti Pekanbaru 500 meter, Jambi 500 meter, dan Palembang 700 meter.
Seperti dilansir pada beberapa media bahwa kabut asap yang sekarang terjadi sudah banyak memakan korban. Sudah ada 43.386 jiwa rakyat Riau yang terpapar ISPA (infeksi saluran pernapasan akut).” bahkan ada beberapa korban anak- anak yang meninggal akibat korban terdanpak kabut asap
Perlu diketahui selain mengurangi jarak pandang yang tentunya sangat menggangu aktivitas, kabut asap juga berdampak buruk pada kesehatan
Kandungan Zat Berbahaya Pada Asap Kebakaran Hutan
Dikutip dari laman laman Bakti Pemuda Nusantara, bahwa asap adalah produk pembakaran yang sempurna dan tidak sempurna, yang terdiri dari partikel partikel gas dan uap serta unsur unsur terurai yang dilepas dari suatu bahan yang terbakar.

Semua bahan yang dapat terbakar akan menghasilkan karbon monosida (gas CO) dan karbon dioksida (gas CO2) dalam jumlah besar. Selain itu juga akan mengeluarkan zat zat beracun seperti : Nitrogen monoksida dan dioksida, gas sulfur, formaldehida (dikenal sebagai formalin), hidrokarbon, partikel dan zat oksidan, serta puluhan bahan beracun lainnya.

Bahaya Kabut Asap Kebakaran Hutan Bagi Kesehatan
Kabut asap tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan, namun juga menjadi ancaman yang cukup serius bagi kesehatan. Gangguan kesehatan akibat kabut asap akan lebih mudah terjadi pada orang yang gangguan paru dan jantung, lansia, dan juga anak-anak.

Ada dua jenis dampak yang muncul karena kabut asap akibat dari kebakaran hutan. Yaitu dampak secara langsung dan dampak secara tidak langsung.
Menanggapi musibah ini, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Jumat (14/3), mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan waspada terhadap 8 masalah kesehatan akibat kabut asap.

Pertama, kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungki juga infeksi.

Kedua, kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, dan penyakit paru kronik.

Ketiga, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah serta mengalami kesulitan bernapas.

Keempat, bagi yang berusia lanjut dan anak-anak , yang punya penyakir kronik dengan daya tahan tubuh rendah serta wanita yang sedang hamil, akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.

Kelima, kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.

Keenam, secara umum berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.

Ketujuh, bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi juga mungkin dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.

Kedelapan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lebih mudah terjadi. "Terutama karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh, pola bakteri atau virus penyebab penyakit dan buruknya lingkungan," kata Tjandra.

Untuk melindungi diri dari risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap tersebut, menurut Tjandra, masyarakat perlu melakukan 8 langkah berikut.

Pertama, masyarakat perlu menghindari atau kurangi aktivitas di luar rumah/gedung, terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan.

Kedua, jika terpaksa pergi ke luar rumah/gedung maka sebaiknya menggunakan masker.

Ketiga, minumlah air putih lebih banyak dan lebih sering.

Keempat, bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, mintalah nasehat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. "Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain," kata Tjandra.

Kelima, selalu lakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), seperti makan bergizi, jangan merokok, dan istirahat yang cukup.

Keenam, upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah / sekolah / kantor dan ruang tertutup lainnya.

Ketujuh, penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.

Kedelapan, buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Disamping bahan makanan dan minuman yang dimasak perlu di masak dengan baik.
(SRT, 05/10)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki