Berita > Kajian
Malam Tahun Baru, Kaum Nahdliyin Riyadh Mengadakan Peringatan Maulid Nabi SAW dan Haul Gusdur Ke-6.
04 Jan 2016 03:03:18 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 2251
Ket: Penyerahan kenang-kenangan kepada Elisa dan Sara
Foto: Gus Lik

Riyadh, LiputanBMI - Tidak hanya di Indonesia dan di negara-negara lain yang berafiliasi dengan Sunni, di Riyadh, ibukota Arab Saudi, banyak juga Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengadakan serangkaian acara untuk memperingati lahirnya manusia yang paling mulia di dunia, Nabi Muhammad SAW. Kendati bertebaran berita mengenai pembid’ahan ihtifal Maulid dari ulama Arab Saudi, namun Alhamdulillah semua acara yang diadakan oleh WNI berjalan dengan lancar. Salah satu perkumpulan WNI yang mengadakan perayaan Maulid adalah Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia di Riyadh (FSWNIR).

FSWNIR mengemas acara perayaan Maulid dengan bentuk pengajian. Kegiatan yang diadakan bertepatan dengan malam tahun baru 2016 (31/12/2015) tersebut dihadiri oleh seluruh jamaah FSWNIR dan beberapa kader Nahdlatul Ulama (NU) yang kuliah di Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud.

Acara dimulai pada pukul 21.00 waktu setempat, dengan dibuka oleh Ust. Matroji, yang kemudian dilanjutkan dengan hadlrah kepada para Anbiya`, Auliya` dan para sesepuh serta sanak keluarga yang telah meninggal hususnya Haul Gusdur yang ke-6. Setelah pembacaan hadlrah, surat surat Yasin dan tahlil, Grup Marawis Aswaja al-Banjari kemudian unjuk kebolehan dengan mendendangkan tembang kerinduan kepada Rasul, Ahmad Ya Habibi.

Acara inti kemudian dibuka oleh Ust. Rofiq, kemudian berturut-turut Ust. Ja’far membacakan hadlrah yang kedua, tilawah al-Qur`an oleh Ust. Khoiruddin, dan Ust. Anas Dliyaul Muqsith menyampaikan sambutan atas nama panitia.

Memasuki pukul 22.00, Ust. Abdullah Mukhtar Aly, Lc., S.Pd.I, mahasiswa S2 Jami’ah al-Imam berjalan menuju podium untuk menyampaikan mauizhoh hasanah. Setidaknya ada empat hal yang digarisbawahi oleh Ust. Abdullah.
Pertama, mengenai pentingnya silaturrahim. Menurut Ust. Abdullah, selain menambah keberkahan usia manusia, dengan silaturrahim pula kita mengamalkan hadis Nabi yang berbunyi

لا يدخل الجنة قاطع الرحم,
artinyati “Orang yang memutus (ikatan/ tali) rahm (hubungan/ welas asih) kidak akan masuk surga”.

Kedua, selain kelahiran Nabi Muhammad SAW., ada peristiwa penting lainnya yang terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, yaitu sampainya Rasul dan Abu Bakar di kota Madinah dalam rangka perjalanan hijrah. Kemudian ketiga, orang yang mampu meneladani sifat Nabi hanyalah orang yang khalish, yaitu orang yang tulus ikhlas, yang di dalam hatinya tidak terdapat keinginan duniawi sedikit pun.

Dan keempat, selain sifat ikhlash, Ust. Abdullah juga menguraikan syarat lain agar seseorang mampu meneladani sifat Rasul, yaitu: yarju Allah, yarjul yaum al-akhir, dzakarallah katsiran. Ketiga syarat tadi disarikan pembicara dari surat al-Ahzab ayat 21.

Setelah mauizhoh hasanah yang pertama rampung, acara selanjutnya adalah pembacaan puisi yang dibawakan Elisa dan Sara akhina, keduanya merupatakan putri dari seorang TKI Di Riyadh. Banyak para jamaah yang terpukau oleh unjuk kebolehan tersebut. Selain karena usia deklamator yang masih terbilang kecil, kualitas puisi mereka juga patut dipuji. Pembacaan puisi tersebut ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada mereka berdua.

Mauizhoh hasanah yang kedua kemudian disampaikan oleh Ust. Nur Hadi, M.A., calon doktor bidang Linguistik Terapan di Jami’ah al-Imam. Dari uraian beliau, ada tiga hal pokok yang perlu diketengahkan di sini. Pertama, menurut Ust. Nur Hadi, silaturrahim adalah majlis berkumpulnya jasad-jasad dan ruh-ruh yang diikat oleh keimanan. Atas dasar itulah, perlu perhatian khusus terhadap silaturrahim.

Kedua, sebagai bentuk pengejawantahan dari teori sifat ikhlas, pembicara menceritakan kisah tiga pemuda yang terjebak di gua, dengan batu besar menutupi mulut gua. Singkat cerita, tiga pemuda tersebut kemudian ber-wasilah melalui amal-amal baik mereka yang ikhlas agar Allah berkenan menggeser batu besar tersebut, sehingga mereka bisa keluar dari gua. Amal-amal yang mereka jadikan wasilah adalah birrul walidain, bertakwa kepada Allah ketika hati terbersit untuk melakukan dosa, dan memberikan hak kepada pekerja.

Adapun hal yang ketiga adalah pentingnya niat dalam setiap melakukan sesuatu. Ust. Nur Hadi menyitir salah satu hadis mengenai urgensi niat. Hadis tersebut berbunyi:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ يُكَبِّرُهُ النِّيَّةُ وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ يُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ.

Hadis ini bermakna, Begitu banyak amal yang kecil nan sederhana namun menjadi besar karena niat. Dan sebaliknya, begitu banyak amal yang besar, namun menjadi kecil nan remeh sebab niat.

Dua acara yang terakhir, yaitu pemberian santunan kepada WNI yang berkerja di syarikah Unistar dan laporan keuangan, dilaksanakan ketika waktu mendekati tengah malam. Setelah dua acara tersebut usai, kegiatan rutinan tersebut kemudian dipungkasi oleh pembacaan Maulid Simthud Duror oleh Grup Marawis Aswaja al-Banjari.

Penulis: Ust. Irza Syaddad Hafidzahullah

(RedEx 03/01)

(TTG, 04/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki