Berita > Cerpen Puisi
Kesabaran dan Kesetiaan Seorang Suami Ditinggal Istri Jadi TKW
14 Jul 2016 04:32:08 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1612
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Jeddah, LiputanBMI - Pada hakikatnya hidup berumah tangga harus dijalani bersama kala suka dan duka, namun pilihan berat rupanya sedang dialami Salimin semenjak Sarinah (istrinya) meminta izin untuk bekerja ke Arab Saudi. Delapan tahun berumah tangga dengan Salimin dalam kondisi ekonomi pas-pasan membuat Sarnah membulatkan tekad untuk hijrah mencari rizki ke negeri orang.

Salimin yang merupakan buruh tani hanya mampu menafkahi istri dan satu anaknya secukupnya, tidak seperti tetangga disekitar kampungnya yang mempunyai rumah dan alat transportasi mewah, hal itulah yang membuat Sarnah iri hati.

"Kang coba lihat tetangga kita sudah pada punya kendaraan bagus, rumah mewah dan perhiasannya juga banyak, apa kita akan terus seperti ini, hidup di rumah jelek, makan seadanya, jangankan punya mobil, motor butut kamu aja sering rusak," keluh Sarinah kepada Salimin dengan mendesak suaminya agar mengizinkan pergi ke Arab Saudi.

"Sabar mah, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Kalau kita bersyukur insyaAllah Allah SWT akan menambah rezeki kita," ucap Salimin menenangkan istrinya.

"Mamah sudah dari dulu sabar kang, bertahun tahun kita hidup dengan seperti ini. Apa akang tidak mau punya rumah bagus, pakai motor bagus, anak kita di sekolahkan tinggi sampai sarjana," timpal Sarinah.

Salimin yang tidak mau berdebat panjang dengan istrinya kemudian langsung pergi mengambil wudhu untuk shalat isya, dalam setiap lantunan do'anya, Salimin berharap istrinya diberikan rasa syukur atas ni'mat yang telah diberikan Allah.

Bukannya sadar atas nasehat yang diucapkan suaminya, hasrat Sarinah untuk bekerja ke luar negeri rupanya tak terbendung lagi. Diam-diam rupanya ia telah mendaftarkan diri ke salah satu sponsor yang merupakan tetangga kampungnya.

"Kang hari Senin saya mau berangkat ke PT, ikut sponsor Pak Haji Dudu. Saya mau berangkat ke Arab Saudi, ini uang dua juta rupiah dikasih sponsor untuk bekal akang dan Agung anak kita, nanti kalau mamah sudah di Saudi pasti dikirimi uang untuk beli motor bagus, biar akang bisa usaha ngojek, jangan jadi buruh tani terus kang," ucap Sarinah dengan mimik bahagia.

"Astagfirullah mah, bukan ini yang akang harapkan, kita dapat berkumpul bersama dan bisa makan saja sudah merupakan kebahagiaan dan anugrah yang paling berharga, kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi mah," ucap Salimin kembali mengingatkan istrinya.

"Udahlah kang jangan ceramah terus, apa akang bisa bikin rumah bagus, apa akang mampu beliin perhiasan dan baju mahal untuk mamah," tukas Sarinah.

"Pokonya mamah mau kerja ke luar negeri, ini pun demi masa depan kita kang," ucap Sarinah dengan nada tinggi.

Hari perpisahan itu pun tak dapat dielakan lagi, Haji Dudu sang sponsor menjemput Sarinah dari rumahnya.

Dengan membawa tas kecil berisi pakaian, Sarinah nekad meninggalkan suami dan anaknya demi sebuah ambisi nafsu duniawi.

"Agung, mamah pergi dulu yah, nanti mamah pulang bawa oleh-oleh buat Agung," ucap Sarinah kepada anaknya yang masih berusia lima tahun.

"Mamah mau kemana, jangan tinggalin Agung dan Bapak," isak Agung melihat Ibunya akan pergi.

"Mamah mau cari uang buat Agung agar bisa beli mainan yang bagus" bujuk Sarinah agar anaknya tidak menangis.

Sementara Salimin hanya terpaku berdiri sambil memegang tangan anaknya.

"Kang, mamah pergi dulu yah, jaga anak kita baik baik," ucap Sarinah sambil memegang tangan Salimin.

Salimin pun hanya diam tanpa sepatah kata, saat Sarinah mau mencium tangan Salimin, ia tetap mengepalkan tangannya, seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak meridhoi kepergian istrinya.

Langkah demi demi langkah Sarinah mengayunkan kakinya menaiki mobil Haji Dudu yang akan membawanya ke PJTKI di Jakarta. Sementara Salimin masih tetap berdiri, tak mau melihat kepergian istrinya, terlihat raut wajah kekecewaan yang dirasakannya, sesekali ia pun mencoba mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Setelah ditinggal Sarinah, Salimin pun tinggal berdua bersama putra semata wayangnya. Sebagai buruh tani tidak mudah mengurus anak yang masih kecil, namun Salimin tetap berusaha menjadi Bapak yang baik untuk anaknya.

Sementara Sarinah tidak butuh waktu lama untuk terbang ke Arab Saudi, hanya menunggu dua minggu di Jakarta, ia pun langsung terbang ke negeri petrodollar.

Tiga bulan waktu berlalu, Sarinah rupanya tak kunjung memberi kabar. Kecemasan mulai dirasakan Salimin, meski ia tidak menyetujui kepergian istrinya, namun kasih sayang dan perhatian Salimin terhadap Sarinah begitu besar. Ia pun lantas mengadukan hal tersebut kepada pak Dede selaku kepala Desa.

"Pak Lurah, istri saya sudah tiga bulan tidak ada kabar, ia berangkat ke Arab Saudi melalui sponsor Pak Haji Dudu," keluh Salimin kepada Kepala Desa.

"Apa, ke Arab Saudi ?" tanya Pak Lurah dengan nada heran.

"Iya Pak" jawab Salimin sambil menundukan kepala.

"Pak Salimin, bukankah pengiriman TKI ke Arab Saudi sudah ditutup sejak tahun 2015 oleh Menaker melalui Permenaker No 260 tahun 2016," tukas Pak Lurah.

"saya tidak tau Pak, maklum saya tidak punya televisi di rumah," jawab Salimin yang mulai cemas mendengar jawaban Pak Lurah.

"Kalau begitu, bisa jadi istri Pak salimin merupakan korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) atau biasa disebut Human Trafficking. Kalau gitu saya akan mengirimkan surat meminta bantuan BNP2TKI dan Kemlu," jelas Pak Lurah.

"Ya udah sekarang Pak salimin yang sabar aja yah, saya akan coba bantu untuk mencari kabar Sarinah." tambah Pak Lurah sambil menenangkan.

Mendengar penjelasan Pak Lurah, Salimin setiap harinya hanya bisa melamun memikirkan kabar istrinya, bahkan disetiap sepertiga malam, Salimin selalu melakukan shalat tahajud mendoakan Sarinah.

Selang satu bulan, Pak Lurah kemudian mendatangi rumah Pak Salimin. Melihat kedatangan Pak Luarah, Salimin langsung menghampirinya, tak sabar ingin mengetahui kabar istrinya.

"Gimana Pak, apakah sudah ada kabar tentang istri saya" tanya Salimin tak sabar.

"Begini Pak Salimin, menurut kabar dari BNP2TKI dan Kementerian Luar Negeri, bahwa Sarinah dan 24 TKI lainnya diketahui sebagai korban TPPO, hal tersebut diketahui dengan adanya laporan dari salah satu LSM di Arab Saudi kepada KBRI," ucap Pak Lurah membacakan surat.

Mendegar penjelasan Pak Lurah, Salimin tak kuasa menahan tangis. Ia pun langsung duduk bersandar di pintu.

"Tenang Pak Salilim jangan khwatir, Sarinah saat ini sudah diselamatkan dan kini sudah berada di KBRI Riyadh. Saya sudah meminta Kemlu untuk secepatnya memulangkan Sarinah," ucap Pak Lurah sambil menenangkan dan mengusap bahu Salimin.

"Terimakasih Pak Lurah atas segala bantuannya, kalau ada kabar terbaru tolong kasih tahu saya," ucap Salimin dengan mata sayu.

Sejak mengetahui kabar buruk yang dialami Sarinah, Salimin pun nampak kurus, ia yang yatim piatu hanya bisa mengurus anaknya sendirian, sementara rumah mertuanya sangat jauh.

Beruntung saja Pak Dede selaku Kepala Desa tempat tinggal Salimin sangat baik dan perhatian terhadap warganya. Semenjak kejadian yang dialami Salimin, Pak Dede langsung membuat pengumunan kepada warganya agar tidak berangkat ke negara Timur-Tengah yang telah dilarang Menteri Tenaga Kerja.

Setelah mendapatkan kabar kepulangan Sarinah, Pak Lurah membawa Salimin memakai mobil dinasnya ke Bandara Soekarno-Hatta.

"Assalamulaikum Pak...Pak Salimin" teriak Pak Lurah didepan rumah Salimin sambil mengetuk pintu.

"Waalaikumsallam, iya pak" terlihat Salimin membukakan pintu dengan kondisi kurang sehat.

"Pak Salimin kurang sehat ya" tanya Pak Lurah.

"Iya Pak, hanya meriang" jawab Salimin sambil membetulkan sarungnya.

"Begini Pak, saya sudah mendapat kabar bahwa hari ini Sarinah pulang, mari kita ke Jakarta menjemputnya, silahkan Pak salimin ganti pakaian," ujar Pak Lurah.

"Yang betul Pak, Alhamdulillah," jawab Salimin.

Pak Lurah didampingi sopirnya kemudian membawa Salimin dan anaknya menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah tiba di Bandara, Pak Lurah langsung membelikan Salimin makanan, terlihat ia dan anaknya sangat lapar.

Duduk di ruang tunggu, Salimin nampak tak sabar menanti kahadiran istrinya. Karena hampir dua jam menunggu dengan kondisi kurang sehat, akhirnya ia ketiduran, sementara anaknya duduk dipangkuan Pak Lurah.

"Pak Salimin, Pak bangung Pak, Sarinah sudah tiba," Pak Lurah membangunkan Salimin.

"Iya Pak" Salimin sambil mengusap matanya.

Terlihat jelas sosok wanita yang berdiri adalah Sarinah. Salimin kemudian langsung memeluknya erat.

"Mah, kamu jangan pergi lagi tinggalkan aku dan Agung" lirih Salimin.

"Iya kang, maafkan Sarinah udah tega ninggalin akang dan Agung, Mamah nyesel banget tidak mendengarkan nasehat akang, mungkin ini balasan dari Allah karena tidak menuruti ucapan suami," Sarinah menangis menyesali perbuatannya.

"Mamah janji mulai saat ini akan menerima dan bersyukur apa yang telah diberikan Allah, maafkan mamah kang," Sarinah sambil mencium tangan Salimin.

----------Tamat-----------------

Penulis: Iyad Wirayuda
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat.
(IYD, 14/07)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki