Cerpen Puisi - Liputan BMI

Dua Puluh Tahun Berpisah, Bertemu Lagi Dengan Mantan Kekasih di Tanah Suci Makkah

Posted by: Jafry Aljawad | 20 July 2016 19:05 WIB | dibaca 820 kali

Dua Puluh Tahun Berpisah, Bertemu Lagi  Dengan Mantan Kekasih di Tanah Suci Makkah
Ilustrasi
Photo : Portal Kita

Riyadh, LiputanBMI - Yadi adalah anak seorang buruh tani penyadap karet di daerah Penyandingan, OKU Sumatera Selatan. Orang tua Yadi berasal dari tanah Jawa yang merantau ke Sumatera. Kehidupan keseharianya hanya buruh menyadap karet milik orang lain. Sekalipun orang tua Yadi tidak punya kebun karet sendiri, tapi dari buruh menyadap itu bisa mencukupi kebutuhan sekolah anak-anaknya karena orang tua Yadi ulet dan tidak boros dalam mengatur kebutuhan rumah tangga.

Sejak sekolah di SMP Yadi memilih sekolah swasta yang masuknya siang hari dengan maksud agar pagi harinya bisa membantu orang tuanya buruh menyadap karet. Disamping pemuda yang taat beragama Yadi dikenal juga pemuda yang senang olah raga yaitu volley ball. Tiap hari sore sepulang sekolah Yadi langsung main volley ball dengan teman-temanya baik pria maupun wanita. Ada dua lapangan berdampingan yang disediakan untuk pria dan wanita. Yadi disenangi banyak teman wanitanya di kampungnya karena akhlaknya yang baik.

Salah satu gadis yang diam-diam mencuri hati Yadi adalah Nita anak seorang kepala desa. Kalau hari Minggu ada pertandingan persahabatan ke lain desa Nita selalu mendekati Yadi. Nita bersekolah di SMA Negeri Baturaja yang masuknya pagi hari sementara Yadi sekolah di Aliyah swasta yang masuknya sore hari. Memang sulit bagi Nita untuk menyatakan cintanya kepada Yadi karena jarang ketemu berdua secara langsung, kalaupun ketemu di lapangan volley sore hari tak ada waktu untuk menyatakan kata hatinya. Yadi memahami perasaan hati Nita yang suka kepadanya walaupun belum dikatakan, tapi Yadi bersikap biasa saja seperti kepada teman lainya.

Suatu ketika saat ada lawatan pertandingan persahabatan ke lain kecamatan, Nita sengaja meminta waktu bicara berdua dan menyatakan cintanya. Yadi yang cuma anak seorang buruh menyadap karet itu tahu diri, tidak serta merta menerima cinta Nita. Yadi meminta waktu untuk menimbang (menerima atau menolaknya), walaupun kata hatinya iapun suka kepada Nita. Karena sering didesak Nita dengan berbagai alasan bahwa cinta itu tak mengenal status sosial dan sebagainya, akhirnya Yadi menerima cinta Nita.

Kisah percintaan Nita dan Yadi diketahui teman-temanya dan sampai juga ke telinga Pak kepala desa (Kades). Pak Kades tidak menganggap serius percintaan anaknya karena masih sekolah di SMA. Setamat SMA Nita kuliah di kota Palembang mengambil jurusan D3 Perpajakan. Sementara Yadi karena anak orang tak mampu tidak melanjutkan kuliah, ia mengikuti jejak orang tuanya buruh menyadap karet dan menjadi ketua Remaja Masjid di kampungnya.

Hubungan cinta Nita dan Yadi tetap berlanjut sekalipun sekarang kedua harus berpisah dan tidak bisa tiap hari bertemu. Nita yang tergolong anak orang kaya dan menjadi kepala desa tiap dua minggu sekali pulang kampung, bahkan kadang-kadang seminggu sekali ia pulang. Setiap pulang kampung Nita mencari akal bagaimana caranya bisa ketemu Yadi baik melalui olah raga volley ball atau acara lain.
Suatu ketika di hari Minggu pagi Nita dan Yadi ketahuan Pak Kades berlari pagi berdua
Seketika itu juga Nita dipaksa pulang dengan naik motor oleh Pak Kades . Sebelum
pulang Pak Kades berkata kepada Yadi :

“Hai anak muda, berani-beraninya kau mengajak anakku berlari pagi. Aku tunggu kau jam 10.00 nanti di rumahku ada yang ingin kukatakan. Jika kau tak datang, jangan salahkan saya bila ada Babinmas (polisi pembina desa) datang ke rumahmu”.

Sesampainya di rumah Nita dimarahi dan diinterogasi ayahnya. Sambil menangis Nita jujur mengatakan bahwa ia mencintai Yadi sejak di bangku SMA. Sementara ibunya hanya diam ikut larut dalam kesedihan Si Nita.

“Bapak tidak setuju kamu menjalin cinta dengan Yadi pemuda miskin anak buruh sadap itu. Mulai sekarang kau harus putuskan dan lupakan dia”, kata Pak Kades kepada anaknya.

Tepat pukul 10.00 pagi dengan pakaian rapi Yadi datang ke rumah Pak Kades dengan naik sepeda yang biasa dipakai ke kebun. Pak Kades sudah menunggu di teras depan rumahnya sambil duduk membaca koran.

Setelah mengucapkan salam Yadi bermaksud menjabat tangan Pak Kades tapi ditolak, Pak Kades langsung mempersilakan Yadi duduk. Dengan nada geram Pak Kades berkata :

“Hai Yadi, mulai saat ini kau tinggalkan desa ini atau kau lupakan anakku Si Nita selamanya. Tak pantas kau mencintai anakku, orang tuamu cuma buruh nyadap karet sementara aku orang terpandang dan kepala desa di sini. Jika kamu nekad berhubungan dengan anakku, kau akan tahu akibatnya”, gertak Pak Kades kepada Yadi

Yadi menyatakan minta maaf kepada Pak Kades karena menerima dan menjalin cinta dengan anaknya. Yadi pamitan pulang dan ingin menyalami tapi lagi-lagi ditolak Pak Kades sambil berkata :

“Sudah pulang sana bantu orang tuamu buruh nyadap kebun karet”.

Dengan kepala menunduk dan hati pedih penuh bayangan hampa Yadi mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Nita. Sementara dari kamar depan Nita mengintip dan mendengar apa yang diucapkan ayahnya kepada Yadi. Hati Nita hancur dan sedih, ia menangis tak kuasa menahan duka lara karena cintanya dihalangi orang tuanya. Hari-hari Nita diliputi kesedihan yang mendalam, Nita tak mau melanjutkan kuliah yang membuat orang tuanya marah.

Suatu hari Yadi didatangi ketua pemuda di desa itu menyampaikan pesan Pak Kades agar Yadi meninggalkan desa itu, karena Nita tak mau melanjutkan kuliah dan Pak Kades marah. Maka Yadi berketapan hati ingin merantau mengubah nasib ke negeri jiran Malaysia.
Sesuai dengan ketrampilan yang dimilikinya Yadi bekerja di perkebunan karet. Disamping tekun bekerja Yadi mengajari anak-anak TKI belajar membaca Alqur’an di perantauan. Selama di Malaysia, Yadi hanya sekali mengirim surat kepada orang tuanya dan sekali kepada Nita, tapi tidak mencantumkan alamat yang lengkap. Kepada orang tuanya Yadi hanya minta doa restu saja semoga merantaunya berhasil. Sementara kepada Nita ia menulis :

“Nita, maafkan aku. Aku terpaksa menghilang dan menjauh dari kehidupanmu demi kebahagiaan orang tuamu. Aku tahu betapa dalamnya cintamu padaku, aku tahu juga betapa pedih hatimu, tapi apa boleh buat karena menurut orang tuamu sangat jauh perbedaan status sosial antara keluargamu dan keluargaku sehingga aku tak pantas bila menjadi pendamping hidupmu”

“Nita sayang, segeralah lupakan aku dari kehidupanmu untuk selamanya, turutilah kehendak orang tuamu sebagai tanda bakti kepadanya. Percayalah andaikan kita tak bisa berjumpa lagi di dunia Insya Allah kita akan bertemu di akherat kelak”.

Membaca surat itu tentu saja Nita menangis dan bertambah sedih hatinya. Tadinya Nita berharap bisa berkomunikasi dengan Yadi melalui surat tapi ternyata Yadi tak memberikan lamat lengkap di Malaysia.

Tiga tahun Nita menunggu Yadi pulang tapi tak ada kabar beritanya. Orang tua Nita mulai sadar melihat sikap Nita yang tak kukuh pada pendirianya untuk mencintai Yadi. Suatu ketika diam-diam isteri Pak Kades mengutus seseorang datang ke rumah orang tua Yadi menanyakan alamat Yadi di Malaysia, tapi nihil karena Yadi hanya sekali mengirim surat itupun tidak memberikan alamatnya yang lengkap.

Lima tahun berlalu, Nita dinikahkan oleh orang tuanya karena sudah menginjak gadis dewasa. Nita dijodohkan dengan anak seorang pengusaha karet dari desa sebelah. Sementara pada tahun kelima bekerja di Malaysia Yadi mengirim uang kepada orang tuanya yang jumlahnya cukup lumayan, uang itu dibelikan sebidang tanah untuk ditanami karet.

Pada tahun ke tujuh Yadi bekerja di Malaysia ia pulang, alhamdulillah rumah orang tuanya sudah dibangun permanen dan sudah punya kebun karet sendiri. Pada saat yang sama Yadi menikah. Sementara Nita dalam membina rumah tangga mengikuti suaminya di desa sebelah.

Setelah tiga bulan Yadi di rumah kemudian ia kembali ke Malaysia sementara istrinya tetap di kampung. Tiga tahun di Malaysia Yadi bisa membuat rumah sendiri, kemudian ia pulang.

Sebagai muslim yang taat beragama Yadi berfikir bagaimana caranya bisa melaksanakan umrah/haji ke tanah suci. Dengan pergaulanya yang semakin luas dan banyak kawan dari luar daerah Yadi mendaftarkan diri menjadi TKI ke Arab Saudi dengan job sebagai sopir pribadi.

Alhamdulillah niat Yadi dikabulkan Tuhan, ia ditempatkan di Taif sebuah kota yang tidak jauh dari Makkah Al Mukaramah. Yadi merasa senang ia bisa melaksanakan haji dan umrah sesuai keinginanya. Tiga tahun bekerja di Saudi Yadi pulang cuti, di kampung Yadi banyak yang memanggil dengan sebutan haji, ia didaulat untuk menjadi imam dan khatib saat shalat Jum’at. Karena ia dulu sekolah di Madrasah Aliyah maka tak sulit bagi Yadi memenuhi permintaan masyarakat untuk menjadi imam dan khatib.

Dari desa sebelah Nita mendengar kabar bahwa Yadi pulang dari Saudi. Nita bermaksud menemui Yadi sekedar silaturahmi, tapi tak mendapat ijin dari suami. Sejak berpisah tiga belas tahun lalu Nita dan Yadi memang belum pernah ketemu, kini statusnya masing-masing sudah bersuami/istri.

Suami Nita sebut saja namanya Doni karakternya keras dan pemarah. Ia gemar main judi dan suka mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Memang ia anak orang kaya, kebun karet, rumah dan mobil ia sudah punya. Sekalipun materi serba ada tapi hati Nita sebenarnya tidak bahagia melihat karakter suaminya. Dengan terpaksa Nita selalu mengalah demi keutuhan rumah tangga dan kedua anaknya.

Suatu ketika dalam kondisi mabuk Doni menyetir mobil dan mengalami kecelakaan, Doni meninggal seketika di tempat kejadian. Nita benar-benar sedih merenungi nasib yang dialaminya. Agar cepat melupakan sikap suaminya semasa hidup, ia kembali ke rumah orang tuanya yang kini sudah tak lagi menjabat kepala desa. Hari-hari Nita banyak diliputi kesedihan, orang tuanya seminggu sekali mengadakan pengajian di rumahnya untuk mengobati bathin Nita yang terguncang.

Tiga tahun setelah kematian suaminya Nita dan orang tuanya serta kedua anaknya ingin melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci untuk mencari ketangan hati. Ia merencanakan berangkat ke tanah suci pada bulan Ramadlan, alhamdulillah niat itu terkabulkan.

Dia Arab Saudi Yadi bekerja sudah masuk tahun kesepuluh, pada bulan Ramadlan ia melaksanakan umrah lagi. Setelah thawaf, sa’i serta mencukur rambut Yadi istirahat di Masjidil Haram sambil membaca Alqur’an. Saat itu memang sedang musim umrah, sehingga banyak jamaah umrah dari luar Saudi termasuk Indonesia yang datang ke tanah suci.

Nita dan keluarganya sudah tiba di tanah suci, setelah menyelesaikan rukun umrah Nita berjalan mengelingi bagian dalam Masjidil Haram.
Saat berjalan itu Nita mengenal suara yang pernah ia dengar dua puluh tahun silam,
suara itu sedang membaca Alqur’an. Ia menoleh ke samping dan melihat seorang laki-laki duduk bersila masih mengenakan pakaian ihram membaca kitab suci Alqur’an. Nita, berusaha mendekat ke laki-laki itu diikuti kedua anaknya, sementara kedua orang tuanya tetap di tempat memandang ke ka’bah menyaksikan ribuan jamaah umrah mengelilingi ka’bah (thawaf).

Nita membuka kaca matanya dan melihat dari dekat sosok laki-laki yang membaca Alqur’an itu. Nita sangat yakin bahwa yang dilihat itu adalah Yadi bekas kekasihnya yang berpisah dua puluh tahun lalu. Nita terbayang dua puluh tahun lalu saat masih remaja bermain volley ball bersama. Hati Nita ingin menjerit dan memanggil Yadi, tapi ia menahan diri karena malu kepada dua anaknya yang mulai menginjak usia remaja. Nita menunggu Yadi selesai membaca Alqur’an baru akan memberi salam dan menegurnya.

Merasa ada orang yang berdiri di depanya agak lama, Yadi menutup bacaan Alqur’an. Setelah meletakkan Alqur’an pada rak yang disediakan, Yadi melihat siapa yang berdiri agak lama di depanya itu. Betapa terkejutnya, saat ia memandang ada seorang wanita cantik berkerudung berdiri di depanya. Wanita itu adalah Nita bekas kekasihnya yang ia tinggalkan dua puluh tahun silam, karena orang tua Nita yang tak menyetujuinya.
Walaupun Nita kini usianya sudah empat puluh tahunan tapi sisa kecantikanya masih kelihatan. Wanita yang ia tinggalkan dua puluh tahun silam itu bertemu lagi di tanah suci saat semuanya telah berubah dan berganti.

Hampir bersamaan Yadi menyebut nama Nita dan Nita menyebut nama Yadi.
“Nii..ta”, kata Yadi.
“Yaa..di”, kata Nita pula.
Kemudian keduanya bersalaman tapi tidak bersentuhan telapak tangan.
Pikiran Nita kacau dan melayang-layang terbayang kejadian dua puluh tahun silam. Ingin rasanya menjerit dan menangis. Kalau saja bertemunya bukan di Masjidil Haram dan tidak disaksikan kedua anaknya rasanya Nita ingin merebahkan diri ke dada Yadi.
Walaupun sudah berubah status tapi dalam hati Nita masih memendam cinta kepada Yadi, sebab berpisahnya dulu bukan karena dusta dan benci.

Melihat kejadian dan perubahan mimik wajah ibunya setelah menyebut nama Yadi, kedua anak Nita bengong dalam hatinya bertanya :”siapa Om ini?”.
Pada saat yang sama kedua orang tua mendekat. Walaupun kini usianya sudah tua kedua orang tua Nita tidak lupa sama wajah Yadi. Yadi yang merasa usianya lebih muda mendahului menjulurkan tangan sambil mengucapkan salam.

Suasana hening setelah orang tua Nita berdekatan dengan Yadi. Orang tua Nitapun tak lupa dengan apa yang pernah dikatakan kepada Yadi dua puluh tahun lalu.
“Yadi, untung saya masih hidup andaikan sudah meninggal, dosa saya akan terbawa mati. Kebetulan ini bulan Ramadlan dan berada di tanah suci, saya mohon maaf atas sikap dan kata-kata saya kepada kamu dua puluh tahun lalu”, kata ayah Nita kepada Yadi sambil menunduk.
Lagi-lagi kedua anak Nita bengong mendengar ucapan kakeknya itu kapada Yadi.

“Ya Pak, nggak apa-apa saya sudah lama melupakanya kok”, kata Yadi.

Suasana kini mulai cair Yadi mulai menyapa Nita sambil menatap matanya :

“Nita, gimana kabarnya, kedua anak ini siapa?”.
“Alhamdulillah baik, kedua anak ini putriku”, kata Nita.
“Oh iya, kemana suami kamu kok tidak ikut umrah sekalian?”, tanya Yadi kepada Nita.

Mendengar pertanyaan itu Nita dan orang tua serta kedua putrinya menunduk tak ada yang menjawab. Nita justeru mengusap air matanya dengan kerudung yang dikenakanya, ia kelihatan menangis. Kedua anak Nita terbawa sedih melihat ibunya menangis, ia teringat peristiwa tiga tahun lalu saat ayahnya meninggal dengan tragis.

Kedua orang tua Nita juga tak berkata apa-apa, ia membayangkan betapa hancur perasaan hati Nita. Dulu, dua puluh tahun lalu Yadi dihina dan Nita dihalangi cintanya. Ternyata suami Nita tak bisa membahagiakan bathinya. Dan kini bertemu Yadi dengan orang yang dicintai saat semua sudah berubah dan berganti. Andaikan waktu bisa diputar balik, rasanya ingin menebus kesalahan masa lalu dengan tidak menghalangi cinta Nita dan Yadi.
Disaat suasana hening itu terdengar suara adzan khas Masjidil Haram Makkah Al Mukaramah yang dikumandangkan oleh Syaikh Naif Ibnu Shaleh Faydah, maka sementara selesailah perjumpaan Nita dan Yadi yang berpisah selama dua puluh tahun dan kini bertemu di tanah suci.

(Jaf)


(JWD, 20/07)

Share this post :

Kegiatan / Even TKI

PSSTKI

Kajian