Berita > Cerpen Puisi
Tetap Kunanti Istriku Pulang dari Hong Kong
19 Aug 2016 14:39:00 WIB | Yully Agyl | dibaca 1385
Ket:
Foto:

Nasional, LiputanBMI - Tidak semua lelaki yang istrinya bekerja di luar negeri itu akan senang dan keenakan.
Namaku Anur, usiaku kini 45 tahun dengan tiga orang anak. Istriku, Rayu dulu adalah teman sekolahku.

Memang, tanpa seizinku, Rayu tidak mungkin bisa berangkat jadi TKW ke Hong Kong. Namun, aku mengizinkan Rayu pergi juga dengan keterpaksaan yang sangat. Semua karena desakan Rayu dan orangtuanya.

"Sudahlah Nur, izinkan istrimu pergi, toh semua juga demi masa depan kalian sekeluarga," kata ibu mertuaku.

"Bu, kalau Rayu pergi, siapa yang mengurus anak-anak? Aku kan harus bekerja," jawabku.

"Nanti kan Rayu kirim uang. Kamu bisa bekerja setengah hari. Lagian anak-anak juga sudah besar."

"Bu, kalau hanya untuk kebutuhan sehari-hari bukankah dari dulu aku sudah tanggung jawab? Dulu kami masih megontrak, dari pengantin baru hingga punya anak tiga semua baik-baik saja. Kenapa sekarang sudah punya rumah sendiri, justru mau pergi?"

"Kebutuhan semakin banyak, Mas. Anak-anak makin besar, makin banyak biayanya.  Aku ingin kita bisa seperti mereka, yang punya mobil dan semuanya. Pokoknya, aku harus berangkat," desak Rayu.

Tidak ada pilihan lain, akhirnya aku mengizinkan dia pergi. Kebiasaan Rayu dari kecil memang hidup serba kecukupan. Orangtuanya yang punya sawah luas dan menjadi carik waktu itu, benar-benar menjadikan dia sebagai gadis desa yang selalu terlihat menyolok.

Sementara aku, justru sebaliknya. Menikahi Rayu saat itu, hanya karena tidak tega mendengar curhatannya yang telah menjadi korban lelaki tidak bertanggung jawab. Demi nama baik dia, aku akui kehamilan Rayu sebagai perbuatanku di hadapan orangtuanya.

Pada dasarnya, aku memang mengagumi Rayu dari dulu. Orangtua Rayu tidak pernah menyukaiku hingga anak-anak kami lahir, karena aku dianggap telah merusak harapannya menikahkan Rayu dengan lelaki yang sepadan kedudukannya.

Rumah yang aku bangun memang di atas tanah pemberian orangtua Rayu. Semua karena desakan mereka. Aku dianggap tidak akan pernah mampu membeli tanah.
Walaupun sebenarnya membangun rumah tanpa bantuan sepersen pun, tetapi di luar sana, mereka mengatakan sebaliknya.

------
Proses keberangkatan Rayu ke Hong Kong tidak mulus. Entah apa sebabnya, ada saja halangannya. Job yang dibatalkan mendadak, orangtua yang mau dijaga meninggal dan juga hal lain. Setelah enam bulan di penampungan, akhirnya benar-benar berangkat. Namun lagi-lagi di Hong Kong dia mendapat masalah.

"Mas, bagaimana ini? Bos tiba-tiba membawa aku ke agen tanpa penjelasan," kata Rayu di telepon setelah enam bulan di Hong Kong.

"Lha terus gimana?" tanyaku kembali.

"Kalau aku dipulangkan, bagaimana?"

"Ya pulang, kamu kan punya keluarga," jawabku dengan enteng.

"Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil. Aku malu pada orang kampung," jawabnya tegas.

Rayu memang tidak pulang. Bagiku saat itu, asal tahu kabarnya sudah cukup. Ketika tepat satu tahun, dia baru mengatakan akan kirim uang dan menyuruhku untuk membuat rekening.

"Biar si sulung Radit saja yang bikin rekening, aku tidak ada waktu," jawabku berbohong.

"Kamu kenapa sih, Mas? Tidak mau ya terima uangku?"

"Kamu kirim ke anak-anak kan sama saja. Toh selama kamu tinggal, kami juga tidak kekurangan."

"Ya sudahlah kalau gitu."

Entah berapa uang yang di kirim, dan entah berapa kali Rayu kirim, aku tidak pernah mengurusnya. Kepada anak-anak pun aku melarang mereka memakai uang kiriman itu selagi aku masih mampu membiayai mereka.

"Kenapa sih, Yah, kami tidak boleh memakai uang ibu? Kan itu uang untuk kita?" tanya Radit disaat kami berkumpul nonton TV.

"Apa uang dari ayah kurang? Ibu dan bapak kerja keras, tapi kalau semua dihabiskan, kapan punya tabungan? Kalian ingin ibu cepat pulang, bukan?"

Ketiga anakku mengganguk.

"Dalam agama, lelaki adalah imam dan dalam rumah tangga, bapak adalah kepala keluarga yang harus bertanggungjawab kepada istri dan anaknya. Selagi bapak masih mampu, bapak akan berusaha," kataku tegas.

Aku beruntung, anak-anak mendengar kata-kataku. Uang istriku yang dikirim, hanya akan berkurang bila dia menyuruh untuk memberikan kepada orangtuanya sesuai jumlah yang disebutkan.

--------
Waktu terus berjalan. Ketika hampir melewati tahun ketiga, istriku mengatakan akan pulang. Senang aku mendengarnya, begitu juga anak-anak. Tetapi hingga waktu itu lewat, tidak ada tanda-tanda kepulangannya.

Telepon dan SMS istriku juga sedikit berkurang. Bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada anak-anak.

'Kenapa tidak jadi pulang, Dik. Kontrak kamu kan sudah habis?'
Tanyaku hanya lewat SMS.

'Aku lanjut perpanjang kontrak, sayang kalau pulang. Lagian pasportku masih berlaku. Nanti, begitu pasport mau habis masa berlaku, aku akan pulang,' balasnya.

Penantian demi penantian. Telepon istriku semakin jarang dan jarang. Aku dan anak-anak hanya bisa bersabar dan berdoa semoga dia baik-baik saja.

"Pak, Ibu sudah empat tahun lebih, kok uang kirimannya cuma segitu ya? Padahal katanya gaji di Hong Kong banyak," Kata Radit.

"Mungkin tidak semua uang dikirim pulang sama ibumu, sebagian ada yang ditabung sendiri.Nanti kalau dah mau pulang baru dikirim semua," jawabku sekenanya.

"Mungkin juga ya. Kok sekarang ibu juga jarang buanget telepon, SMS aja jawabnya telat-telat," kata Anggi anak nomer dua-ku.

"Namanya juga kerja ikut orang, Nduk. Tidak bisa bebas, sabarlah dan doakan ibu baik-baik saja di sana," nasehatku.

Masa berlaku pasport Rayu menurut perkiraanku tinggal beberapa bulan lagi. Aku hanya ingin Rayu pulang dan berkumpul kembali.

'Kamu sudah akan pulang kan, Dik?"

SMS yang kukirim tidak ada balasan. Aku coba untuk missed call, tersambung tetapi tidak diangkat.
Semua inbok dari anak-anak juga tidak direspon.

Waktuku hanya untuk bekerja dan untuk anak-anak. Walaupun mereka telah bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi aku harus tetap memonitor. Aku tidak ingin anak-anak salah langkah dalam pergaulan.

-----
Lima tahun terlewat. Rayu benar-benar tidak kembali. Nomer HP yang biasa digunakan tidak aktif. Facebook, Line, BBM-nya semua off.

'Aku sudah kirim uang lima belas juta, tolong dicek. Tetapi maaf, Mas, aku tidak pulang. Kuperpanjang kontrak lagi. Selagi tenagaku masih bisa menghasilkan uang, aku ingin terus bekerja.'

Sebuah SMS kuterima dari nomer yang tidak aku kenal, tetapi kuyakini itu Rayu.
Itulah SMS terakhir yang ketika aku balas, sudah tidak bisa lagi.

Hingga kini...
Hingga cerita ini tertulis, sudah tujuh tahun Rayu pergi menjadi TKW ke Hong Kong dan tidak pernah sekalipun pulang.

Anak sulungku telah lulus SMA empat tahun lalu, putri keduaku kini SMA kelas 3, dan si bungsu harusnya SMA kelas 1, tetapi setelah lulus SMP  tidak mau sekolah lagi, yang salah satu penyebabnya karena kecewa ibunya hanya berjanji untuk kembali namun tidak.

Aku tidak pernah membedakan anak-anakku, walau si sulung bukan darah dagingku. Hanya Tuhan, aku dan Rayu yang tahu.

Orangtua Rayu juga bingung, karena kabar tentang Rayu tak pernah ada.
Entah kapan Rayu akan kembali. Sendainya dia mengerti, hingga kini uang kirimannya itu masih utuh. Karena aku juga tak mau dianggap lelaki yang hanya ingin gesek-gesek ndledek.
Aku dan anak-anak hanya ingin Rayu kembali.

Tamat

Cerita berdasarkan kisah nyata.
(YLA, 19/08)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh