Berita > Ekosospol
Trauma Healing yang Digagas Komnas Perempuan Direspon Positif Pegiat Buruh Migran
04 Sep 2016 14:48:58 WIB | A Hadi Akram | dibaca 2755
Ket: ilustrasi
Foto: LBMI

Malang, LiputanBMI - Carut marut persoalan buruh migran Indonesia di luar negeri tetap menjadi isu dan tema utama pembahasan jilid II konsolidasi, penguatan jaringan buruh migran dan healing (pemulihan) pendamping korban. Konsolidasi ini diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, yang dilaksanakan sejak tanggal 28-31 Agustus 2016 di Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

Konsolidasi dihadiri oleh sekitar 30 orang yang mewakili 14 LSM, pegiat buruh migran dalam dan luar negeri. Perwakilan luar negeri, dihadiri oleh perwakilan JBMI (Hong Kong), IMA (Taiwan), BMI-SA (Arab Saudi), ATKI (Hong Kong), Serantau (Malaysia), IMWU (Macau), Pasopati (Taiwan) dan IFN (Singapura). Sedangkan dari dalam negeri dihadiri oleh SBMI, Migran Institute, Migran Care, Kabar Bumi, ATKI dan Garda BMI.

Dalam kesempatan tersebut, Komnas Perempuan, yang diwakili oleh Magdalena Sitorus menyatakan tujuan diadakannya konsolidasi adalah membangun mekanisme caring (memperdulikan) sebagai bagian dari program pemulihan trauma atau "trauma healing" terhadap pendampingan pekerja migran yang menjadi korban, meningkatkan pemahaman peserta tentang kebutuhan pemulihan diri pendamping, mengurangi dampak kelelahan kepedulian dan trauma sekunder, serta membangun konsolidasi dan dukungan antar organisasi pekerja migran di dalam dan luar negeri.

Ketika ditanyakan apa yang melandasi dan melatarbelakangi dilaksanakannya acara tersebut oleh perwakilan BMI-SA, Sri Nurherwati sebagai komisioner gugus tugas pekerja migran menjelaskan, bahwa organisasi dan paguyuban pekerja migran baik yang ada di dalam maupun luar negeri saat ini berada di garis depan dalam penanganan dan pendampingan kasus yang dialami pekerja migran dan anggota keluarganya.

Ia juga mengungkapkan jenis-jenis kasus yang didampingi dan ditangani sangat beragam, memakan jangka waktu yang panjang, lama dan melintas batas negara.

"Tidak bisa kita pungkiri hal-hal di atas dapat berdampak pada aktivitas pendamping yang menangani kasus secara langsung. Bagaimanapun, saat mendengar keluhan, menerima kemarahan dan keprustasian pekerja migran dan keluarganya yang sedang berhadapan dengan kasus, pendamping turut merasakan penderitaan dan kesakitan yang disampaikan pada mereka. Sehingga kemungkinan untuk mengalami kelelahan (burn out) sangat besar, ditambah lagi pendamping sering lebih merasa bersalah, karena merasa tidak cukup optimal membantu korban keluar dari masalah," terangnya.

"Kelelahan-kelelahan bertumpuk inilah, apabila tidak ditangani secara serius, akan menjadi trauma baru bagi aktivis dan pendamping yang pada akhirnya akan berdampak pada pelayanan dan pendampingan terhadap pekerja migran yang menjadi korban", tambahnya.

Gagasan ini pun direspon positif oleh pegiat buruh migran yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya diungkapkan oleh Jovi perserta dari Serantau, Malaysia yang menyebutnya sebagai pengalaman baru yang sangat diperlukan.

"Saya sangat senang dengan acara yang sangat positif ini, karena sangat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Ini sesuatu yang sering kita lupakan, kita care ke luar, tapi kadang kita kurang memperhatikan diri kita sendiri. Saya anggap ini sesuatu yang baru dan sangat kita perlukan, acara seperti ini tidak hanya kita saja yang perlu, tapi selayaknya instansi-instansi pemerintah pun harus dihealing," ujarnya.
(HDI, 04/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh