Berita > Sosok
Mengenal Sosok Hunkintan, Sang Maestro Healing Bagi Buruh Migran Indonesia
05 Sep 2016 07:14:26 WIB | A Hadi Akram | dibaca 2004
Ket: Intan Darmawati/Hunkintan
Foto: doc/fb

Depok, LiputanBMI - Hunkintan, nama yang tak asing lagi bagi kawan-kawan jaringan buruh migran sebagai master healing Komnas Perempuan. Wanita kelahiran 1973, Jember, Jawa Timur ini sebenarnya mempunyai nama asli Intan Darmawati. Nama Hunkintan adalah gabungan dari panggilan nama kecilnya (Hunk) dan (Intan) nama aslinya.

Hunkintan pada awal mulanya hanya belajar secara otodidak tentang psikologi dan terapi-terapi sederhana lewat teater, olah tubuh dan suara. Pada tahun 2007 pasca bencana tsunami, perempuan berusia 43 tahun lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 1996 mulai belajar teknik healing lewat seni, terutama seni parca, yang lebih dikenal sebagai arpillera

“Saya tertarik pada dunia healing sejak mahasiswa S1 dan kepenasaran saya terhadap isu-isu perempuan, kenapa banyak korban yang jadi korban tafsiran agama, yang kemudian disalurkan dengan melakukan pendampingan pada adik-adik angkatan, terutama mereka yang punya masalah dalam perkuliahan dan psikologis,” ujarnya kepada LiputanBMI beberapa hari yang lalu.

Perjalanan Hunkintan dalam dunia healing sangat luar biasa, padahal bertolak belakang dengan dunia pendidikan yang diambilnya. Bahkan pada tahun 2009, Hunkintan lebih menekuni dan memperdalam dunia barunya dengan mengikuti kursus hipnoterapi bersertifikat (Nathalia Sunaidi) dan membuka klinik atau praktek selama satu tahun.

Tidak puas sampai di situ, untuk lebih menguasai teknik-teknik healing, Hunkintan terus belajar teknik-teknik healing lainnya sampai tahun 2014 tentang capacitar.

“Saya menggunakan keterampilan healing ini dalam workshop atau kelompok, tidak hanya kepada individu, layaknya hari ini saya terapkan kepada para aktivis buruh migran," terangnya.

Terkait profesi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Hunk menjelaskan sebenarnya sejak dulu ia sudah tertarik dengan psikologi, namun sempat mendapat tentangan dari orang tuanya.

"Sama orang tua dibilangin mau ngapain, karena jaman dulu belum begitu populer dan dianggap tidak punya masa depan. Tapi tetap, namanya minat, saya belajar sendiri. Apalagi saat kuliah saya aktif diberbagai bidang, dan menemukan bahwa pentingnya merawat urusan psikologis," ungkapnya diakhir wawancara.


(HDI, 05/09)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh