Berita > Cerpen Puisi
Aku Dibenci Karena Jadi TKW
20 Oct 2016 15:03:47 WIB | Yully Agyl | dibaca 21204
Ket: ilustrasi
Foto: google

Hong Kong, LiputanBMI - "Apa tidak ada pekerjaan lain lagi, yang tidak usah jauh-jauh dari keluarga?" tanya Mas Wid, kakak sulungku.

"Selama ini aku kan juga bekerja, Mas, tapi tahu sendiri pabrik lebih sering tidak ada garapan, sepi," jawabku.

"Terus... siapa yang akan mengasuh anakmu? Bukankah suamimu juga bekerja?" Mas Fariz, kakak keduaku pun ikut bertanya.

"Yah... kalau aku bekerja di Hong Kong, emak yang mengasuh. Bengkel Mas Win beberapa bulan ini juga sepi, dia juga bisa gantian mengasuh. Sekarang banyak pelanggan bengkel mencari service yang lebih komplit menyediakan service plus ganti onderdil di satu tempat," jelasku.

"Kan, Win bisa meniru," sanggah Mas Wid.

"Modalnya?"
Semua terdiam, tidak ada yang menjawab pertanyaan.

"Saranku, jangan jadi TKW deh. Malu," celetuk mbak Sri, istri mas Wid.

"Iya, jadi TKW ujung-ujungnya banyak yang lupa pulang, lupa diri dan lupa keluarga," mbk En, istri mas Fariz menimpahi.

"Tidak memalukan jadi TKW, yang sukses juga banyak. Semua tergantung pribadi orangnya masing-masing," jawabku.

"Sudahlah, tidak udah diributkan, biar adikmu yang memutuskan sendiri. Cukuplah kalian mendoakan saja, agar dia bisa sukses."
Emak menengahi semua ketegangan yang ada.

Itulah percakapan yang masih terus teringat dibenakku. Ketika aku meminta izin untuk bekerja jadi TKW ke Hong Kong, dua tahun lalu. Kedua kakakku tidak setuju, tetapi mereka juga tidak memberi solusi yang lebih baik.

****
Kami, tiga bersaudara dari keluarga yang sederhara. Kedua orangtuaku pekerja keras. Aku dan kedua kakak semua lulusan SMA. Tetapi ada bedanya, Mas Wid kakak sulungku, kenakalannya semasa SMA membuat emak dan bapak ketakutan akan masa depannya. Dengan berbagai cara, salah satunya dengan uang pemulus, akhirnya Mas Wid berhasil menjadi seorang abdi negara. Mungkin itulah salah satu cara tepat, agar hidup Mas Wid punya martabat dan masa depan. Walaupun gajinya cuma habis untuk untuk keperluannya sendiri.

Mas Fariz beda lagi, dia seorang pemuda kreatif, tekun dan pekerja keras. Segala pekerjaan tak malu dilakukan asal halal. Bahkan semasa sekolah, juga mau menjadi kuli batu walaupun uang untuk jajan dan sekolah sudah dikasih. Sehingga banyak orang yang suka padanya dan setelah lulus SMK dia diajak seorang kontraktor untuk menjadi mandor proyek yang lumayan hasilnya. Apalagi dia seorang yang hemat.

Sedangkan aku sebagai anak perempuan bungsu, tidak pernah diizinkan untuk kuliah dengan alasan kuno emak dan bapak.

"Anak perempuan rugi sekolah tinggi-tinggi, nanti kalau sudah menikah tugasnya ya cuma di dapur, melayani suami dan mengasuh anak," kata mereka waktu itu.

Kedua kakak pun tak punya niat untuk membelaku, mereka asyik dengan dunianya masing-masing. Hingga akhirnya mereka semua menikah dan sibuk dengan rumah tangganya sendiri.

Mas Wid harus dinas di luar pulau. Setahun sekali pulangnya. Mas Fariz pun memilih tinggal dengan mertuanya, dengan alasan istrinya anak tunggal.


Waktu itu, aku hanya hanya bekerja di pabrik rokok hingga aku menikah. Suamiku yang tadinya bekerja di bengkel orang lain, kemudian mencoba membuka bengkel sendiri. Tetapi ternyata harus tertatih tatih menghadapi persaingan usaha.

Itulah yang akhirnya memunculkan ideku untuk menjadi TKW. Semata-mata karena ingin segera punya modal dan berdikari. Tidak peduli kedua kakak tidak setuju, aku terus melangkah.

Semenjak aku mengurus surat-surat yang dibutuhkan, hingga tinggal di penampungan PT beberapa bulan bahkan sampai mau berangkat, mereka juga istrinya tidak mempedulikanku. Jangankan menjenguk, sekedar berbasa basi menanyakan kabar saja tidak pernah kalau bukan aku yang bertanya lewat telepon atau sekedar SMS.

"Maafkan sikap kakakku ya Mas, kuharap jangan membenci mereka. Kita bersikap biasa saja, yang penting bukan kita yang menjauhi mereka. Mereka saja yang tidak bisa mengerti jadi TKW lebih mulia daripada para koruptor," kataku ke suami.

"Sudahlah, Dik. Aku tidak memasukkan dalam hati sikap mereka. Memang seharusnya aku yang mencari nafkah bukan kamu," jawab Mas Win.

"Kita sama-sama berusaha. Suatu saat mereka juga sadar sendiri. Toh kita tidak merepotkan mereka. Justru ini bisa jadi penyemangat, harus buktikan bahwa kita mampu tanpa mereka!" tegasku.

****
Banyaknya berita buruk tentang perilaku TKW, membawa dampak bagi yang lain. Padahal, banyak pula TKW yang berprestasi, sukses dan tidak macam-macam.

Apalagi saat ini, kecanggihan media internet membuat segalanya begitu cepat tersebar.
Berita buruk seperti lalat hijau menyerbu bangkai, berdengung keras dan saling berebut.
Tetapi sebaliknya dengan berita bagus, sepi dan seolah tidak terdengar suaranya.

Saat ini aku memang baru dua tahun mengais rejeki di negeri Andi Lau. Belum bisa punya banyak tabungan, tetapi setidaknya aku tidak merepotkan kakak-kakakku. Gaji yang kukirim tidak semua terpakai, karena suamiku juga selalu berusaha mendapatkan penghasilan sendiri.

"Mak, kenapa ya Mas Wid dan Mas Fariz tidak pernah menanyakan kabarku? SMS-ku pun sangat jarang di balas. Telepon juga gitu. Jarang banget mau menerima. Apa mereka malu adiknya jadi TKW, ya?" kataku ke Emak lewat telepon.

"Sudahlah jangan punya pikiran yang tidak-tidak. Mungkin mereka sibuk. Ke emak aja lho jarang telepon."

"Masa sih, Mak."

"Yang penting kamu kerja hati-hati, jangan boros untuk sesuatu yang tidak berguna. Biar cepat punya tabungan dan pulang," nasehat Emak.

"Iya Mak. Tapi aku kangen juga dengan mas Wid dan mas Fariz. Mereka tidak seperti waktu belum menikah dulu. Apalagi istri mereka, mungkin juga mempengaruhi."

"Kan kalian sudah sama-sama menikah. Tanggungjawab semakin besar. Sudah, jangan buruk sangka sama saudara, tidak baik."

Selain sujud dan doa kepada Tuhan, hanya emaklah yang bisa selalu membuat dingin pikiran dan hatiku dengan setiap nasehatnya.
Yah... mungkin mas dan mbak ipar tidak suka pekerjaan menjadi TKW, tetapi kelak bila aku bisa berdikari dari hasil kerjaku, yakin kebencian itu akan pudar dengan sendirinya.

Menjadi TKW hanya jembatan untuk mencari modal, bukan untuk dijadikan profesi selamanya, itu prinsipku.

*****TAMAT****
Cerita berdasarkan curhatan nara sumber kepada penulis.
(YLA, 20/10)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki