Berita > Seputar TKI
Jadi Korban Kapal Tenggelam dan Gaji Tidak Dibayar, Pelaut Ini Malah Diancam akan Dipenjarakan
05 Nov 2016 15:04:27 WIB | Syafii | dibaca 9772
Ket: Surat dari Syahbandar
Foto: Dok. Pri

Nasional, LiputanBMI - Zahari (28) pemuda asal Balohan, Sukajaya, Sabang NAD adalah salah satu pelaut yang menjadi korban atas tenggelamnya kapal TB Fransiscus 03, yang terjadi di sekitar perairan Karimun Jawa, Kepulauan Seribu pada tanggal 26 Juni 2016 lalu.

Ditemui LiputanBMI di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara tepatnya di sekertariat Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI), dirinya menceritakan permasalahannya tersebut, Rabu (5/11/2016).

"Kapal tempat saya bekerja tenggelam, semua dokumen kepelautan dan barang berharga saya ikut ludes tenggelam. Beruntung nyawa saya selamat, meski sempat terapung-apung dua hari di lautan," ujarnya dengan raut sedih.

Kesedihannya makin bertambah ketika ternyata pihak perusahaan yang mempekerjakannya yakni, PT. Tama Samudera Lines tidak mau bertanggungjawab atas derita yang ia alami.

"Semua sertifikat saya hilang tapi perusahaan tidak mau tangungjawab untuk mengganti biaya pembuatan sertifikat yang baru. Barang pribadi saya yang turut hilang, seperti handphone dan cincin emas," paparnya.

Tidak hanya itu, Zahari juga mengaku jika gajinya selama empat bulan pun belum ia terima.

"Saya juga diancam akan dipenjarakan jika mengadukan hal ini kepada pemerintah, dengan alasan bahwa saya dan teman-teman (7 orang) telah sengaja menenggelamkan kapal itu, padahal sama sekali tidak," ungkapnya yang menduduki jabatan sebagai Masinis II di kapal itu.

Menurut Zahari, semua teman-temannya telah pulang ke kampung halamannya masing-masing dengan hanya dibayar gaji, namun tidak diberi biaya ganti rugi dokumen kepelautan mereka yang hilang.

"Mereka semua udah pulang, hanya terima gaji dan suruh tanda tangan surat pernyataan setelah menerima gaji tidak akan menuntut apapun lagi," celetuknya.

Zahari berharap pemerintah dapat membantunya agar perusahaan yang beralamat di Pulogadung Trade Center (PTC) Jl. Raya Bekasi, Jakarta dapat membayarkan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun menurut Zahari, kerugian materiil yang dideritanya berkisar hingga Rp 30 Juta lebih. Itupun belum termasuk hak pesangon akibat kapal tenggelam sesuai PP No. 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan dan belum juga termasuk kerugian imateriil.

Untuk diketahui, Zahari menyatakan telah dibantu oleh tim advokasi PPI untuk mengadukan kasusnya ke Syahbandar terkait. Pihak Syahbandar sudah mengirim surat kepada pihak perusahaan, agar segera membayarnya. Namun, sampai sekarang tidak ada kabar.

"Tim advokasi PPI akan menyampaikan kasus saya kepada Ditjen Perhubungan Laut dan Kementerian Ketenagakerjaan," pungkasnya.

(IS, 05/11)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki