Berita > Cerpen Puisi
Izinkan Aku Menikah Lagi
23 Nov 2016 19:15:03 WIB | Redaksi | dibaca 4493
Ket: ilustrasi
Foto: Google

Jeddah, LiputanBMI - Dalam kematangan usiaku saat ini, memang sudah saatnya untuk menikah. Hampir tiga puluh lima tahun sudah usiaku, teman sebaya rata-rata mereka sudah menikah, bahkan sudah memiliki anak lebih dari satu.

Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga urusan asmara tidak pernah terpikirkan.
Alhamdulillah, aku sudah mendapatkan penghasilan yang cukup. Sebuah rumah dan kendaraan pun sudah kumiliki hasil dari keringat sendiri. Sedikit-sedikit juga ikut membantu orang tua membiayai pendidikan dua orang adikku. Semuanya kulakukan tanpa kendala, hingga terlupakan akan masa depanku sendiri.

Kalau bukan ibu yang menegur, mungkin sampai saat ini juga aku belum terpikirkan untuk menikah.
Ibu memilihkan calon istri untukku, seorang gadis putri dari temannya di pengajian. Maryam namanya, tiga bulan yang lalu dia baru pulang dari luar negeri, ibunya juga kebetulan sedang mencarikan jodoh untuknya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, seakan sudah menemukan jodohnya, jalan kemudahanpun diberi-Nya. Setelah kami berdua dipertemukan, seketika itu aku langsung jatuh hati kepada Maryam, begitupun sebaliknya. Akhirnya tak menunggu lama, pernikahan kami pun segera dilangsungkan.

Setelah menikah, Maryam langsung aku boyong kerumah. Malam-malam kunikmati dengan penuh kebahagiaan. Alangkah indahnya pernikahan, andaikan dari dulu aku tau kenikmatannya, mungkin tak akan kusia-siakan usiaku hingga baru menikah sekarang, sungguh sangat menyesal.

Walaupun aku dan Maryam tidak pernah pacaran dan saling mengenal, namun di dalam rumah tangga ini kami sudah merasa sangat mengenal sejak lama. Hari-hari berlalu dengan bertaburkan kebahagiaan, rasanya sedetikpun kami tidak ingin terpisah, alangkah sempurnanya dunia kurasakan saat itu.

Tak terasa sudah memasuki bulan kedua pernikahanku. Pagi itu Maryam mendapatkan telepon dari majikannya di luar negeri. Dia menginginkan Maryam kembali, karena sudah cocok dan akan diberikan gaji yang tinggi.

Sebenarnya Maryam memang sedang menunggu panggilan dari majikannya itu sepulangnya dia cuti, Maryam berjanji akan kembali lagi kalau memang mereka masih membutuhkannya. Namun sudah hampir 4 bulan di rumah, tak ada kabar dari mereka sehingga Maryam pikir sudah tidak lagi dibutuhkannya.

Majikannya sangat baik dan tidak pelit, Maryam kerasan kerja di sana sampai empat tahun dia tidak pulang ke rumah cuti. Sekarang dia minta izin kepadaku untuk pergi lagi selama dua tahun saja.

Sebenarnya aku sudah menolaknya, namun karena alasan Maryam ingin punya modal membuka salon, akhirnya aku mengizinkannya, dengan satu syarat hanya untuk dua tahun saja, tidak boleh lebih.
Masa dua tahun sangatlah cepat, dan pasti bisa aku melaluinya. Akhirnya dengan seizinku, berangkatlah Maryam kembali keluar negeri.

Sebulan dua bulan semuanya baik-baik saja. Setiap malam lewat Internet kami selalu berkomunikasi dengan video call. Tak ada yang berubah, cinta dan kerinduan ini masih sama seperti saat kami dekat, walaupun sebenarnya jarak kami sangat jauh.

Akhirnya setahun sudah berlalu tanpa terasa, beruntung rumahku berdempet dengan orang tuaku, sehingga ibu selalu memantau keadaan rumah ketika kupergi bekerja. Sehari-hari ibulah yang melayani segala kebutuhan di rumah.

Bulan ini musim dingin, hujan deras hampir setiap hari melanda. Kerinduan akan belaian kehangatan semakin terasa disaat seperti ini. Sebagai seorang lelaki yang normal, tentu saja keinginan itu sangat menyiksa. Sedangkan Maryam tidak dapat dihubungi karena signal Internet sering error di kala hujan seperti ini.

Semakin aku menahan keinginan, terasa perut sangat sakit. Dokter yang memeriksa mengatakan, kalau aku sering menahan kencing, dan ini yang menimbulkan rasa sakit di perut. Andaikan kau tau Dokter, bukan hanya kencing saja yang kutahan, tapi nafsu syawat juga tidak tersalurkan.

Mungkin bagi orang lain ini hal yang biasa saja, namun tidak buatku. Penderitaan yang kualami setiap malam, begitu sangat menyiksa. Tapi aku tidak mau berbuat dosa, semuanya kutahan dengan sabar untuk menunggu kekasih halalku yang akan mengobati penyakit ini.

Maryam tau betul penderitaan ini, dan dia merayuku untuk bersabar sedikit lagi menunggu kepulangannya. Kini tak terasa tinggal dua bulan saja hari kepulangannya. Hari yang sangat aku dambakan sudah mulai terbayang, rasanya semakin tak sabar untuk segera melewatinya.

Seminggu sebelum hari kepulangannya, Maryam meminta maaf karena ternyata dia tidak bisa pulang tepat waktu. Majikannya meminta untuk nambah lagi setahun, tentu saja aku sangat marah dan kecewa. Maryam tak bisa berbuat apa-apa, dia memintaku untuk mau bersabar lagi setahun.

Dengan setengah hati akhirnya aku menerima permintaannya, tapi dengan catatan bahwa ini untuk yang terakhir kalinya aku menunggu. Aku tak tau lagi harus berbuat apa, seandainya sampai setahun lagi Maryam tidak bisa untuk pulang.

Sebagai seorang lelaki yang memang sudah waktunya, hasratku terasa sangat meluap-luap tak terbendung. Namun aku masih mempunyai iman, tak mau berbuat dosa dengan berzinah, padahal banyak waktu dan kesempatan andainya aku mau melakukan.

Apa yang menjadi kekawatiranku terjadi juga, Maryam tidak bisa pulang lagi dengan alasan pembantu yang dipesan majikannya belum juga datang. Majikannya berjanji kalau pembantu penggantinya datang, Maryam akan dipulangkan detik itu juga.

Tapi kapan?

Aku sudah tidak dapat mentolerir hal ini, kesabaranku terasa sudah dipermainkan, aku tidak boleh diam saja, harus segera bertindak.

Malam itu tanpa keraguan, aku meminta izinn kepada Maryam untuk menikah lagi. Maryam menangis sejadi-jadinya.

"Tega kau kepadaku mas, kau kejam"

Suara Maryam terdengar sangat keras dan penuh emosi. Bukannya dia yang sebenarnya tega kepadaku?
Aku tidak pernah merelakan Maryam pergi ke luar negeri.

Karena aku merasa mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan gaji yang lebih dari cukup untuk kita berdua. Tapi karena Maryam memaksa dengan alasan ingin secepatnya membuka salon kecantikan, akhirnya dengan terpaksa aku mengizinkannya.

Saat itu hanya untuk dua tahun saja, tapi ternyata sudah lebih dari tiga tahun, Maryam belum pulang juga. Masa pengantinan hanya dua bulan saja kurasakan, tak sanggup lagi bertahan, aku butuh seorang istri menemani.

Akhirnya aku menemui kedua orang tua Maryam, mengutarakan maksud untuk menikah lagi. Mertuaku itu sangat tau betul keadaannya, memang semua ini adalah kesalahan Maryam.
Tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka mengijinkanku menikah lagi, dan mereka berjanji akan memberi pengertian kepada Maryam.

Dengan pelantara seorang teman, aku dikenalkan dengan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya. Dari pernikahan mereka ada satu anak yang kini ikut tinggal bersama mertuanya. Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya kami menikah di bawah tangan.

Mirna nama istri baruku itu, meskipun janda sudah beranak, namun Mirna masih cantik dan menarik. Setelah menikah Mirna langsung ikut denganku, dia sudah tau siapa aku sebenarnya, dan siap dengan segala resikonya.

Kebahagiaanku terasa sangat sempurna, bahkan melebihi kebahagiaan yang pernah aku rasakan bersama Maryam dulu. Mirna yang sudah janda, jauh lebih pandai dalam melayaniku. Bukan cuma urusan asmara saja, tapi Mirna juga pandai dalam segala hal. Rumah terasa hidup, semangat terasa bangkit lagi, hidupku bergairah kembali.

Rupanya mertuaku sudah memberi tau Maryam akan pernikahan ini. Malam itu Maryam menangis dan tak rela karena aku sudah menduakannya. Aku tak ingin berbuat dosa, dari pada berzinah lebih baik menikah saja. Karena sudah tidak mampu lagi menahan hasrat, maafkan aku Maryam.

Karena setiap malam Maryam selalu menelpon dan marah-marah, akhirnya HP aku matikan. Aku benar-benar tidak ingin diganggu, masalah Maryam bila pulang nanti dan tidak mau dimadu, ya kuceraikan saja. Karena aku merasa sangat bahagia dengan istri yang sekarang, tak mungkin bisa melepaskannya, apalagi kini dia sedang mengandung anakku.

Pagi itu ketika membuka HP, aku terima sms dari Maryam. Dia mengatakan tidak akan pulang. Karena percuma pulang juga sudah tidak ada yang menginginkannya lagi. Kututup HP sambil tersenyum, aku sangat tau kalau kau terluka dan kecewa, tapi apakah kau juga tau penderitaan dan Kekecewaanku selama ini?

Apapun yang akan terjadi nanti, aku hanya bisa berserah kepada yang Maha Kuasa. Karena apapun itu, tidak akan bisa terjadi tanpa kehendak-NYA. (Titin Ambarwati)

(RED, 23/11)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki