Berita > Seputar TKI
Nasib Pilu Tuti TKI di Irak, Kelaparan dan Sering Disiksa
28 Dec 2016 00:25:48 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 8470
Ket: Tuti
Foto: doc/fb

Dunia, LiputanBMI - Melalui salah satu media sosial, Tuti bercerita tentang kondisi pekerjanya di kota Baghdad, Irak. TKI asal Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini mengaku sudah tidak kuat lagi bekerja pada majikannya. Pasalnya selain bekerja di dua rumah dengan jam kerja yang panjang Tuti mengaku sering mengalami kekerasan fisik, selain itu ia juga hanya dikasih makan sepiring nasi dalam sehari tanpa ada lauknya.

“Kalau dikasih makan, paling dikasih nasi kaya gini aja,” tuturnya sembari menunjukan gambar nasi yang diunggahnya di sosial media facebook, Minggu (25/12/2016).

Lebih ironis lagi, TKI yang diberangkatkan pada 9 November 2015 lalu ini, pernah mengalami kelaparan selama seminggu karena tidak pernah dikasih nasi, makanan pokok yang biasa dikonsumsi.

“Udah berapa Minggu saya cuman satu kali makan jam 6 Maghrib, nasi sama roti, kadang-kadang rotinya diambil lagi oleh majikan perempuan untuk makan malam suaminya,” ungkapnya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitulah nasib yang dialami Tuti, rupanya perlakuan keji tidak hanya dilakukan oleh majikannya, namun sang anak majikannya juga sama kurang ajarnya.

“Kamu harus kerja jangan ngumpet aja, lalu kepala saya dipukul pakai sandal sampai kepala saya benjol, Ya Allah padahal saya baru mengangkat jemuran di lantai atas, terus saya harus masak dan semua isi kulkas dibuangnya, tapi dia nyuruh saya masak, masak apa, gak ada apa-apa, sedangkan kalau dia beli makanan gak pernah ngasih sama saya, berarti saya gak boleh makan," tuturnya lagi.

Lebih lanjut, Tuti mengaku sudah tidak kuat dengan kondisi kerja seperti itu, bekerja diperlakukan seperti binatang. Padahal menurutnya, kasusnya sudah dilaporkan ke KBRI Baghdad, namun hingga saat ini belum ada tindakan apapun yang dilakukan untuk menolongnya.

Sementara itu Sekjen SBMI Bobi Anwar Ma’arif mengatakan bahwa Tuti adalah salah satu dari 20 korban yang mengadukan dengan jenis persoalan yang hampir sama. Menurutnya, kasus Tuti juga sudah dilaporkan kepada Direktorat Pengamanan dan Pengawasan BNP2TKI. Korban diberangkatkan secara perseorangan oleh mafia Condet dan Depok.

“Dari semua kesaksian pengadu, mereka di rekrut oleh Irfan dan Heri yang beralamat di Condet, serta Aida yang beralamat di perumahan Gobel Depok,” jelasnya kepada LiputanBMI, Selasa (27/12/2016)

Bobi mengungkapkan, korban dijanjikan bekerja di Erbil yang dikatakan sebagai kota maju seperti kota London, Inggris. Korban tidak mengetahui bahwa Erbil adalah salah satu kota di Irak, negara yang masih dalam situasi perang.

“Berdasarkan pasal 73 UU 39/2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri junto pasal 28 Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2013 tentang Perlindungan TKI di Luar Negeri, salah satu dasar alasan kepulangan TKI adalah terjadi perang, jadi meraka harus dipulangkan, kemudian pelakunya harus ditangkap,” tandasnya.
(IYD, 28/12)

PBBC Liputan BMI
Universitas Terbuka Riyadh