Berita > Cerpen Puisi
Karma Ngarijo
19 Jan 2017 20:02:16 WIB | Redaksi | dibaca 1948
Ket: ilustrasi
Foto: pixabay.com

Nasional, LiputanBMI - Perjalanan hidup manusia di atas dunia ini, bukan hanya sebuah langkah tanpa duri dan sebab akibat. Semua pasti akan menuai hisab pada saatnya nanti. Seperti kisah yang kutulis ini.


***

Ngarijo terdiam, butiran bening mengalir dari sudut matanya. Sebagai seorang kakek, ia sangat terpukul dan menderita melihat keadaan cucu satu-satunya yang terlahir tanpa pengakuan seorang ayah.

Terlebih lagi fisiknya tak sempurna. Bayi perempuan cucu Ngarijo itu terlahir tanpa tangan alias buntung.

Roro Kasihan, nama yang diberikan Ngarijo kepada cucunya itu. Sumiati, ibu dari sang bayi merupakan anak semata wayang, buah cinta Ngarijo dengan Ulmah, wanita yang entah sudah nomor keberapa menjadi istri kumpul kebonya.

Sejenak bayang lamunan Ngarijo kembali pada masa itu, saat ia bisa menguasai kenikmatan hidup di dunia.

***
Saat itu Ngarijo yang muda dan gagah, banyak digandrungi kaum hawa di daerahnya. Wajah yang lumayan tampan dengan perawakan yang tegap, membuat banyak wanita tergila-gila dan memujanya.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ngarijo.

Segalanya dapat ia peroleh dengan sangat mudah dari para wanita-wanita itu.

Bukan cuma materi, tapi kepuasan dalam bercinta telah pula ia rasakan di usianya yang masih sangat belia. Saat itu ia berumur dua puluh tahun.

Tak hanya gadis atau janda, bahkan banyak istri orang yang kepincut kepadanya. Ngarijo tengah berjaya. Seakan keindahan dunia hanya tercipta untuknya seorang.

Namun, banyak pula hati wanita yang terluka karena kecewa. Janji manis dan rayuan untuk dipersunting hanya isapan jempol belaka. Setelah harta benda dan raganya puas ia nikmati, tanpa perasaan Ngarijo berlalu pergi.

"Enak saja nyuruh aku bertanggung jawab, asal kamu tau ya, Ana, anakmu itu pelacur! Siapapun bisa tidur dengannya.”

Seperti itulah kata-kata Ngarijo saat orang tua Ana minta pertanggung jawaban atas perbuatannya. Ana, gadis manis pacar Ngarijo itu hamil tiga bulan dan menuntut tanggung jawab.
Ngarijo menolak.

Padahal, benih yang dikandung Ana adalah hasil perbuatan bejat Ngarijo. Ana masih perawan tulen saat Ngarijo memaksa melayaninya dengan alasan cinta. Tak sanggup menanggung beban, Ana mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas ke dalam jurang.

Hampir tiga puluh tahun peristiwa itu. Ngarijo tak percaya kalau sekarang ia merasakan kepedihan itu. Ternyata sangat sakit dan perih.

Sumiati –anaknya- mengalami nasib yang sama seperti Ana. Hamil dan tak ada yang mengakui. Pada waktu itu, Ngarijo hanya bisa berdoa, semoga Sumiati tidak berpikiran sempit seperti Ana.

Sungguh takut ia membayangkannya. Itu belum seberapa. Masih menggunung dosa-dosa Ngarijo di masa lalunya.

Dan kini …, karma itu telah datang. Kehidupan Ngarijo sudah terbalik 180 derajat. Dulu, dunia dengan segala kenikmatannya seolah berada dalam genggaman tangannya, tetapi kini, ia sangat menderita.

Perasaan Ngarijo teramat sakit melihat keadaan anak dan cucunya. Serasa ia sendiri yang mengalami. Ya .., Ngarijo baru tersadar bahwa karma itu memang ada.

Tuhan tidak main-main dengan janji-Nya. Siapa sangka, Ngarijo yang dulu disegani, banyak dikagumi dan berjaya, kini menjadi bahan hinaan dan cemoohan.

Ngarijo yang dulu gagah dan menjadi sang idola,kini sudah tua, kurus, lusuh, dan tak terurus. Dulu, dengan mudah uang datang menghampiri, tetapi kini mengemis pun tiada yang memberi.

Menyesal kini tiada arti lagi. Balasan dari segala perbuatan masa lalu terus mengikuti ke mana langkahnya pergi. Kadang kekuatan Ngarijo goyah, ingin mengakhiri hidup. Tapi ia masih mengingat anak dan cucunya yang tidak bersalah apa-apa.

‘Andai waktu bisa diulang, aku tak akan mengulangi kesalahan yang mengakibatkan penderitaan seperti ini. Ya Allah …, beri aku kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri sebelum Engkau memanggilku.’

Sebaris doa selalu terucap lirih dari bibir Ngarijo di setiap akhir sujudnya.

Butiran bening selalu mengalir deras. Sederas penderitaan yang ia rasakan karena karma masa lalunya.

***TAMAT***

(Titin)

(RED, 19/01)

BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki