Berita > Sosok
Inilah Delapan Penerima Anugerah TKI Inspiratif Dari Kemnakertrans
16 May 2017 01:20:14 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 3425
Ket: Menakertrans memberikan anugerah TKI Inspiratif
Foto: Detikcom
Jakarta, LiputanBMI - Delapan tenaga kerja Indonesia (TKI) dinilai mampu menginspirasi masyarakat. Mereka diharapkan dapat memberi inspirasi bagi para TKI lainnya untuk gigih dan bekerja keras, sehingga memberi perubahan positif bagi diri dan lingkungannya.

"Selama ini pemberitaan tentang TKI lebih menonjolkan sisi kelamnya. Memang ada sisi kelam. Namun kisah TKI yang sukses memperbaiki nasib serta mengubah lingkungannya juga banyak. Pemerintah juga terus meningkatkan perlindungan terhadap TKI," kata Menaker Hanif Dhakiri sebagaimana dilansir detikcom, Senin (5/2017).

Hanif menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan dalam acara pemberian anugerah TKI Inspiratif di Hotel Millennium Jakarta. Pemberian anugerah yang terselenggara bekerja sama dengan Tempo Media Group ini diharapkan menginspirasi masyarakat untuk gigih bekerja dan melakukan perubahan bagi dirinya dan masyarakat luas.

"Seperti apa yang sudah dilakukan oleh delapan TKI penerima anugerah," ungkapnya.

Delapan TKI tersebut adalah :
1. Dwi Tantri (49), perempuan asal Surabaya yang menjadi buruh migran di Taiwan. Tak hanya bekerja sebagai perawat orang jompo, ia juga aktif memberikan advokasi kepada ribuan TKI yang tersandung masalah di Taiwan.

2. Budi Firmansyah, mantan anak buah kapal yang bekerja di Okinawa, Jepang, juga menjadi pembela ribuan TKI di Okinawa. Kedekatannya dengan aparat kepolisian setempat dimanfaatkannya untuk membantu ribuan TKI di Okinawa yang bermasalah.

Mulai dari gaji yang tidak dibayar sampai tersandung kasus hukum. Kini pria 36 tahun asal Kuningan, Jawa Barat, ini menjadi manajer salah satu perusahaan penyalur tenaga kerja di Okinawa.

3. Siti Badriyah. Perempuan 41 tahun asal Grobogan, Jawa Tengah, ini mempunyai pengalaman buruk saat menjadi buruh migran di Malaysia pada 2002.

Paspornya ditahan oleh agen penyalur, gaji tak dibayar, hingga harus melarikan kembali ke Tanah Air dengan kapal barang. Tak ingin pengalaman buruknya menimpa TKI yang lain, dia aktif di Konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi) dan Migrant Care, dua lembaga nonpemerintah yang aktif memberikan advokasi kepada TKI.

4. Balq Nurhasanah, mantan TKI Arab Saudi dua periode asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Sepulang merantau, dia aktif menjadi kader kesehatan desa menolong para keluarga TKI sambil bertani.

Juga membantu mengelola uang kiriman TKI secara sukarela agar tidak habis. Atas ketulusannya, kini ia menjadi salah satu anggota DPRD Lombok Timur dari PDIP. Kebiasaannya membantu keluarga TKI, tetap ia lakoni.

5. Sutriyana dari Kulon Progo, DI Yogyakarta. Mantan operator mesin di Malaysia selama enam tahun ini pulang ke desanya dan membuka usaha pengolahan gula semut. Mampu mempekerjakan 30 orang, dan 80 persen produknya diekspor

6. Siti Mariam Ghozali, mantan TKI di Hong Kong dan Taiwan asal Wonosobo, Jawa Tengah. Saat menjadi TKI, dia aktif mengikuti kursus bahasa Inggris dan Mandarin. Juga rajin menulis cerita pendek.

Selain menerbitkan banyak novel, di kampungnya ia mendirikan perpustakaan Istana Rumbia, yang dibuka secara gratis. Siti juga menjadi pengusaha makanan tiwul instan secara online. Pasarnya hingga luar negeri.

7. Heni Sri Sundani, mantan TKI di Hong Kong asal Bogor, Jawa Barat. Lahir dari keluarga miskin, Heni bermimpi menjadi guru untuk anak-anak senasib. Setelah lulus sekolah menengah kejuruan, ia bekerja di Hong Kong. Gelar sarjananya ia peroleh dari Universitas Terbuka.

Pada medio 2012, Heni mendirikan Gerakan Anak Petani Cerdas. Mulanya, ia hanya mengajari 15 anak petani di Kampung Sasak. Tahun berikutnya, komunitas ini melebarkan sayap kampung-kampung sekitar. Sekarang, anak didik Heni tersebar di lima kabupaten di Jawa Barat.

8. Yusup Nuryana, mantan TKI di Brunei Darussalam asal Desa Hegarmanah, Bayongbong, Garut, Jawa Barat. Kecelakaan kerja di Brunei memaksa dia pulang. Ratusan juta uang asuransi dari Brunei tak kunjung cair.

Beruntung, dia mendapatkan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan dari pemerintah untuk mantan TKI. Juga mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. Ia memilih mengembangkan tenun akar wangi untuk aneka suvenir. Kini usaha tenunnya mempekerjakan belasan pekerja wanita di desanya.

Seluruh penerima anugerah hadir, kecuali Budi Firmansyah dan Dwi Tantri, yang diwakili keluarganya, karena mereka masih di luar negeri.
(JWD, 16/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki