Berita > Kajian
Pesantren Sabilul Hidayah Basis Pendidikan Agama yang Terlupakan
20 Jun 2017 18:48:03 WIB | A Hadi Akram | dibaca 810
Ket: ilustrasi santri
Foto: Google
Sukabumi, LiputanBMI - Pondok Pesantren, adalah basis pendidikan agama yang dimiliki masyarakat bawah yang tak berduit, sehingga terkesan pola pendidikannya pun manual, klasik dan tidak modern, terlebih pesantren yang berbasis hanya pada pengajian kitab-kitab klasik (salafy).

Bantuan dan aliran dana yang digelontorkan pemerintah terhadap pola pendidikan semacam pondok pesantren ini, sangatlah minim dan nihil, bahkan mendekati tidak ada. Lain halnya bantuan terhadap pendikan formal, SD, SMP dan SMA atau yang sederajat lainnya.

Bagaimana outputnya?

Dipungkiri atau tidak, masyarakat hari ini dalam hal dunia pendidikan agama, lebih percaya terhadap dunia pendidikan yang berbasisi pesantren. Karena salah satu yang menjadi krisis global adalah persoalan etika dan akhlak yang harganya hari ini sangatlah mahal.

Sabilul Maghfiroh salah satu pondok pesantren yang berada di daerah kampung Talaga Girang, Kecamatan Caringin, Kapupaten Sukabumi memberikan contoh konkrit output dari sebuah pendidikan klasik, selain para santrinya dibekali ilmu agama, pesantren ini juga mengajarkan bagaimana agar para santri bisa mandiri tanpa harus hidup bergantung kepada orang lain.

“Ayah kami mendirikan pesantren Sabilul Hidayah ini sejak tahun 1982, bermula dari pengajian santri di rumah, dan pada tahun 1983 masyarakat membangunkan pesantren di atas tanah wakaf seluas 450 m2 dengan ukuran luas bangunan 25X8 m2, yang terdiri dari 3 bangunan ruang atas untuk tidur dan 3 ruang bawah untuk proses belajar," papar Irfan kepada LiputanBMI di Sukabumi, Senin (19/6).

Lanjut kata Irfan, Semenjak ayahnya meninggal pada tahun 1987, estafeta perjuangan pondok pesantren dilanjutkan oleh Hj. E Siti Suaebah yang dibantu anak-anaknya, dan baru pada tahun 2013 pesantren ini mempunyai Mesjid yang dibangun oleh swadaya masyarakat, dengan jumlah santri 150 orang, 70 santriwati dan 80 santriwan, dari usia didik mulai 6 sampai 23 tahun dari berbagai daerah dengan tenaga Pengajar 8 orang.

“Kami sedang membangun kembali 3 lokal untuk kelas, dengan anggaran dari swadaya masyarakat dan para dermawan tanpa bantuan pemerintah. Pembangunan baru berjalan 60% dan agak terkatung-katung karena tidak punya biaya anggaran yang diandalkan. Jangankan untuk melanjutkan pembangunan, kitab untuk kami mengajipun nunggu ada rezeki agar bisa diphotocopy, kemudian dibagikan ke para santri untuk dikaji bersama”, ungkapnya.

Nandan salah satu tokoh masyarakat setempat berpendapat, kurang pedulinya pemerintah terhadap dunia pondok pesantren sangat disayangkan, padahal menurutnya, andalan terakhir basis pembangunan moral dan akhlak adalah pondok pesantren, karena sekolah-sekolah umum hari ini tidak bisa diandalkan.

"Kenapa Pemerintah masih berat sebelah, padahal hak mendapat pendidikan dijamin undang-undang," tukasnya.
(HDI, 20/06)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki