Berita > Opini
Sanksi dan Denda, Dari Dulu Aturannya Begitu, Nyatanya Tidak Berlaku! Mujur atau Terlanjur?
19 Jul 2017 23:01:46 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 4046
Ket: Seorang TKI visa ziarah dicampakkan majikan di depan gerbang KBRI Riyadh
Foto: Portal Kita
Riyadh, LiputanBMI - Asep, sebut saja begitu namanya, sudah enam tahun bekerja sebagai sopir perumahan di Riyadh. Ia tak pernah ditilang ataupun ditahan walaupun tidak memiliki Rukhsah Siyaqah (SIM).

Setiap Ia melewati taftis (operasi lantas), Polisi hanya memperhatikan wajah Asep sekilas, lalu melambaikan tangan mempersilahkannya untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, Ahmad (bukan nama asli) pernah beberapa kali diperiksa kelengkapan dokumennya saat melewati taftis. Karena semua lengkap (Iqama, Rukhsa), maka Ahmad pun dipersilahkan melanjutkan miswar-nya.

Begitulah peraturan! Terkadang yang lengkap diperiksa, yang kosongan malah tidak! Apakah itu artinya peraturan tidak diterapkan? Bisa jadi pas mujur saja!

Ya! Sepertinya, saat itu Asep sedang mujur! Kalau saat apes, sopir yang punya iqama dan rukhsa pun bisa dipermasalahkan hingga ditahan dulu atas sebuah tuduhan yang tak pernah Ia lakukan.

Banyak cerita tentang “kemujuran” beberapa teman sopir lainnya, sebanyak cerita nestapa para TKI yang kena razia hingga bagasi digeledah polisi.

Peraturan, ancaman hukuman, dan denda selalu mengintai para pelanggar. Ada yang lolos karena mujur, banyak pula yang terjaring razia saat di kamar tidur!

Lalu bagaimana dengan ancaman sanksi dan denda bagi TKIU/WNIO pasca amnesti?

Sepertinya aturan denda bagi pelanggar izin tinggal dan siapapun yang menampungnya (termasuk pribumi) akan mulai diberlakukan secara nyata.

Kini ceritanya lain lagi, jangankan denda puluhan ribu, denda 100 Riyal gara-gara parkir bukan pada tempatnya pun langsung difoto dan SMS tagihan denda langsung dikirim ke HP pelanggar, harus segera dibayar!

Pemerintah menaikkan pajak karyawan asing dan biaya tanggungan ekspatriat yang membawa serta keluarga (istri dan atau anak).

Jadi sekarang ini, bukan lagi saatnya meremehkan sanksi dan denda. Jika kita menginginkan hasil yang baik tentu harus dengan cara yang baik pula. Ingin rezeki yang barokah jangan melanggar aturan pemerintah apalagi aturan syariah.

Memang ada beberapa teman TKIU/WNIO yang seolah-olah meremehkan sanksi dan denda, “aturannya dari dulu juga begitu, tapi nyatanya nggak berlaku!” kilah salah satu teman di facebook.

“Saya di sini bekerja! Bukan maling ataupun melakukan hal yang tidak baik. Kalau saya pulang, siapa yang menanggung biaya sekolah anak-anak saya? Nggak apa-apa saya ilegal, Allah Kariiim!” komentar TKI lainnya yang sudah lima tahun di Riyadh.

Pilihan ada di tangan kita, hasil yang akan kita dapatkan sesuai dengan upaya dan jalan yang kita tempuh.

Bertahun-tahun bekerja secara ilegal atau tanpa dokumen yang sah, tak pernah kena razia, bisa jadi kita sedang mujur. Namun, mujurnya TKIU/WNIO ini membuat si majikan terlanjur keenakan dan lebih diuntungkan.

Bagaimana tidak? Majikan tak pernah bayar visa! Tidak bayar biaya perpanjangan iqamah! Tidak bayar asuransi apalagi tiket cuti pulang pergi setiap dua tahun, yang menjadi hak TKI.

Terlanjur dan mujur yang saling menyandera, hingga tiba saatnya TKIU/WNIO tak dibutuhkan lagi oleh sang majikan, atau TKIU/WNIO sudah tak sanggup lagi bekerja karena sakit atau usia yang semakin menua.

Sering terjadi sang majikan mencampakkan begitu saja TKI visa ziarah di depan bagalah, majikan tak mau menanggung biaya tiket, atau biaya saat pekerjanya terbaring di rumah sakit.

Barulah saat itu sadar, mujur kita hanya dimanfaatkan oleh majikan yang terlanjur keenakan. Berpuluh-puluh tahun mengabdi tak dihargai, padahal anaknya sudah kita anggap seperti anak sendiri.

(TTG, 19/07)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
ATC Cargo
psstki