Berita > Cerpen Puisi
Tentang Aku, Kau dan Rumah Biru
15 Feb 2018 02:12:43 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2432
Ket: ilustrasirumah biru
Foto: google
Jeddah, LiputanBMI - Tidak semua yang terlihat baik itu akan berakhir indah, terutama dalam sebuah perkawinan yang notabene dilakukan di luar negeri.

Pada umumnya, pernikahan yang dilakukan di luar negeri hanya alasan untuk membenarkan sebuah alibi "dari pada zina lebih baik menikah".

Tentunya hal tersebut kembali kepada pribadi masing-masing, tentang memaknai arti sebuah kepercayaan, kejujuran dan komitmen dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Seperti pernikahan yang kujalani dengan Anisa, perempuan yang aku kenal dengan pribadi baik dan penuh pengertian terhadap suami. Sebagai seorang TKI yang sama-sama kaburan di Jeddah, Arab Saudi kami pun dengan gigih bekerja mengumpulkan uang untuk masa depan kelak di Tanah Air.

Status kami sebagai kaburan tidak bisa diprediksikan tentang waktu kepulangan, hanya nasib yang dapat menjawabnya.

Tiga tahun biduk rumah tangga itu kujalani bersama Anisa, sebuah rumah sederhana telah berhasil kami miliki hasil kerja keras berdua. Karena statusku duda yang belum mempunyai anak, maka rumah itu dibangun di daerah tempat tinggal istri.

Setiap bulannya, gaji kami berdua dikumpulkan dan dikirimkan ke keluarga Anisa. Sesekali aku juga mengirimkan uang untuk kedua orang tuaku. Anisa juga sangat ramah terhadap kedua orang tuaku, setiap bulan pasti menelpon untuk menanyakan kabar ayah dan ibu.

Rencananya kami akan membeli sebuah mobil secara kredit, namun nasib berkata lain. Di hari yang nahas itu kami tertangkap razia di jalan. Aku dan Anisa lantas dibawa ke tahanan imigrasi (Tarhil) untuk menunggu dideportasi ke Indonesia.

Selama di tahanan imigrasi aku tidak mengetahui kabar Anisa karena kami ditempatkan di kamar yang berbeda. Bahkan nomor HP Anisa juga tidak aktif.

Hingga lamanya 10 hari masa tahanan, aku pun dideportasi ke Indonesia bersama puluhan WNI lainnya. Tapi sayang, Anisa tidak ada dalam rombongan itu.

Kemanakah istriku, aku sangat khawatir dengan keadaanya. Mungkin saja dia masih ditahan di Tarhil dan belum pulang, atau dia sudah berada di Indonesia.

Aku cek Facebook dan WhatsApp Anisa juga tidak aktif, nasib baik aku kenal dengan Dewi teman akrab istriku.

Awalnya Dewi begitu keberatan memberikan kabar tentang Anisa, namun aku coba merayu dan memohonnya hingga akhirnya dia pun memberikan alamat Anisa di Indonesia.

Pesan Dewi kepadaku sangat membuatku gelisah, dia bilang, "Mas kamu jangan bawa-bawa aku dan jangan kaget setelah tahu kabar Anisa".

Apa sebenarnya yang tersirat dengan pesan tersebut yang membuat hati ini tambah bimbang. Apakah terjadi sesuatu dengan Anisa, mudah-mudahan saja dia dalam keadaan baik baik saja.

Hari itu aku mencoba memutuskan mendatangi alamat yang diberikan Dewi, perjalanan empat jam menggunakan bus dari rumahku ke tempat Anisa.

Setibanya di terminal, aku coba menanyakan alamat kepada tukang ojek, dan ternyata ada salah satu tukang ojek yang mengetahui alamat tersebut.

Selama dalam perjalanan, aku dan tukang ojek panjang lebar cerita tentang tujuanku mencari alamat tersebut. Tapi rupanya dia kaget ketika aku mengaku sebagai suami Anisa.

Tukang ojek itu bilang bahwa Anisa sudah mempunyai anak dan suami sebelum berangkat ke Arab Saudi. Aku begitu terkejut mendengar kabar tersebut, tapi hati mencoba tenang, barangkali yang dimaksud bukan Anisa istriku. Di dunia ini tentu banyak sekali yang mempunyai nama Anisa.

Tibalah aku di tempat yang dituju, tukang ojek menunjukan rumah berwarna biru. Betul sekali, rumah itu persis seperti gambar yang diberitahu Anisa hasil jerih payah kami berdua selama di Arab Saudi.

Baru saja kakiku hendak turuh dari motor, di rumah itu keluar seorang perempuan bersama seorang laki-laki yang mengendong anak kecil.

Aku mencoba perhatikan dari kejauhan, persis sekali wanita itu adalah Anisa istriku. Tapi siapakah laki-laki itu, apa benar dia suaminya seperti yang diceritakan tukang ojek.

Tukang ojek itu lantas meyakinkanku, "Mas coba lihat, itu Anisa adan suaminya".

"Iyah betul Pak, tapi saya masih belum percaya dengan apa yang saya lihat," timpalku kepada tukang ojek.

Untuk meyakinkan Anisa mempunyai suami, aku pun meminta tukang ojek mengantar ke Kantor Urusan Agama di daerah tersebut. Aku ingin tahu kepastian ini, apa betul Anisa mempunyai anak suami.

Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit, ternyata benar sekali Anisa tercatat menikah dengan suaminya pada tahun 2002 dan belum pernah bercerai.

Seperti disambar petir rasanya saat ini semua menjadi kado pahit di awal kepulanganku ke Tanah Air. Hati ini masih bertanya-tanya tentang sosok Anisa yang selama ini kukenal sebagai perempuan baik.

Lantas siapakah orang yang dulu aku telepon mengaku sebagai orang tua Anisa untuk menjadi wali pernikahan, apakah ini hanya sebuah rekayasa saja untuk memuluskan rencana busuknya. Sungguh tega kalau pun demikian.

Sikap manja dan perhatiannya selama ini rupanya terselubung dusta yang begitu besar untuk sebuah ambisi dunia dengan menistakan norma-norma agama.

(IYD/IYD, 15/02)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki