Berita > Seputar TKI
PT EAWM Diduga Menempatkan PMI Secara Ilegal ke Arab Saudi
07 Apr 2018 23:10:08 WIB | Juwarih | dibaca 3206
Ket: Tari binti Sanun PMI asal Indramayu
Foto: LBMI
Indramayu, LiputanBMI - PT Elsafa Adi Wiguna Mandiri yang beralamat di Condet, Jakarta Timur diduga telah menempatkan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Indramayu secara unprosedural/ilegal ke Arab Saudi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Wiralodra Community Arab Saudi. Abdul Aziz Rasman setelah mendapatkan laporan dari salah satu anggotanya saat hendak berangkat umrah ke Makkah bahwa ada PMI asal Indramayu yang terlantar di terminal bus Saptco Aziziah, Exit 21 Riyadh pada 31 Maret 2018 yang lalu.

Wanita tersebut bernama Tari binti Sanun (45), warga Blok Langgeng Wetan, Desa Gabus Kulon, Kecamatan Gabus Wetan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

"Setelah saya dapat info dari anggota saya langsung begegas menuju terminal, setelah bertemu yang bersangkutan mengaku sudah dua hari belum makan kemudian saya amankan membawa beliau ke shelter KBRI di Riyadh," kata pria yang akrab disapa Kang Dul kepada LiputanBMI melalui sambungan telepon pada Sabtu (7/4/2018).

Dari keterangan PMI, Kang Dul mengatakan Tari direkrut oleh Edi, sponsor asal Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pada 13 Maret 2018 oleh PT Elsafa Adi Wiguna Mandiri diberangkatkan ke Riyadh, Arab Saudi dengan menggunakan visa turis dan hanya mengikuti proses selama satu minggu di penampungan.

"Korban diberangkatkan melalui bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju bandara Srilangka kemudian baru ke Arab Saudi dengan menggunakan visa turis," paparnya.

Lanjut Kang Dul, setibanya di Arab Saudi, oleh Sarikah Arco (perusahanan rental PRT) Tari dipekerjakan pada majikan di daerah Taif, namun baru bekerja 15 hari dikembalikan lagi ke agency yang ada di Riyadh dikarenakan tidak bisa memasak.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu, Juwarih, menyampaikan sejak tahun 2015 pemerintah menyatakan untuk pengiriman pekerja migran sektor informal/PRT ke Arab Saudi telah ditutup total.

Pelarangan tersebut tertuang dalam Kepmenaker No. 260 tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Penggunaan Perseorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.

"Dari 19 negara di kawasan timur tengah tersebut salah satunya Arab Saudi, jadi jelas jika ada perekrutan PMI ke Arab Saudi baik dilakukan oleh perorangan maupun menggunakan PPTKIS itu merupakan bentuk pelanggaran tindak pidana," jelas Juwarih.

Juwarih menambahkan, perekrut dapat dijerat dengan Pasal 72 jo Pasal 86 Undang Undang No. 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

"Selain itu perekrut juga dapat dijerat dengan menggunakan UU No. 21 tahun 2007 tentang TPPO jika unsur-unsurnya terpenuhi," tegasnya.
(JWR/IYD, 07/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
jambore keluarga migran 2018
ATC Cargo
psstki