Berita > Seputar TKI
Dokumen Hilang Dan Dipalsukan Broker, PPI Minta KBRI Kuala Lumpur Panggil PT TAG MARINE
14 May 2018 04:36:30 WIB | Syafii | dibaca 1265
Ket: Loggo TAG Marine
Foto: Google
Dunia, LiputanBMI - Tim Advokasi Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) meminta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia untuk memanggil Perusahaan TAG MARINE/TAG LOGISTICS MANAGEMENT SDN BHD yang beralamat di G35 @135, Blok 5, Laman Seri Business Parks, Section 13, 40100 Shah Alam, Selangor, Malaysia. Tlp. : 603-5510-0770 terkait kasus yang diadukan oleh pelaut Indonesia yang mengaku tiga sertifikat kepelautannya telah dihilangkan oleh pihak perusahaan.

“Saya kerja dengan kontrak enam bulan di kapal TUG NUR DUA dan telah selesai. Ketika akan pulang saya minta sertifikat kepelautan saya, eh katanya hilang. Tiga sertifikat yang hilang meliputi sertifikat Ahli Tehnika Tingkat IV Management, Endorsement dan Medical Care On Board Ship,” ujar Nazril kepada Liputan BMI saat ditanya jenis sertifikat yang hilang tersebut, Senin (14/5/18) melalui telepon.

Nazril mengungkapkan, pasca hilangnya sertifikat itu dirinya meminta tanggung jawab kepada pihak perusahaan.

“saya disuruh pulang dulu. Katanya sertifikat itu mungkin keselip, akan dicarikan dan kalau ketemu akan dikirimkan ke Indonesia via jasa pengiriman dokumen. Namun nyatanya saya tunggu-tunggu tidak ada informasi lagi, jadi saya minta tanggung jawab perusahaan untuk mengganti,” keluhnya.

Lanjut Nazril, sebelumnya perusahaan sudah meminta kepada dirinya untuk mengurus semua dokumen tersebut yang hilang dengan biaya akan ditanggung oleh perusahaan. Namun karena faktor ketidaktahuan dalam kepengurusan dokumen serta besaran biayanya, maka ia pasrahkan kepada perusahaan untuk memakai jasa perusahaan di Indonesia. Sayangnya, jasa yang dipakai oleh perusahaan dalam mengurus dokumen tersebut tidak benar, dengan terbukti ternyata dokumen tersebut palsu.

“Saya curiga dengan dokumen saya yang diurus oleh jasa, kok begitu cepat prosesnya. Kemudian saya adukan ke PPI. Oleh pengurus PPI dokumen itu di cek di Ditjen Perhubungan Laut dan ternyata hasilnya tidak terdaftar atau palsu,” ucap Nazril.

Terpisah, Wakil Ketua Dalam Negeri PPI, Azhari Anwar menyatakan bahwa kasus tersebut telah dilaporkan kepada pihak yang berwajib, karena sudah masuk unsur tindak pidana pemalsuan dokumen.

“Berbekal surat kuasa, kronologis kejadian, dan surat keterangan dari Ditjen Hubla kami laporkan dugaan pemalsuan ini ke Polres Jakarta Utara. Saat ini kasusnya sudah dalam proses BAP,” ucap Azhari.

Azhari menambahkan, terlepas dari persoalan dugaan tindak pidana yang telah dilakukan oleh jasa yang dipakai oleh perusahaan TAG MARINE, bahwa Nazril dalam hal ini selaku korban jelas telah dirugikan.

“kerugian Nazril jelas. Yakni, kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja di kapal akibat dokumen yang hilang dan diurus ternyata palsu. Selain itu, Nazril juga harus merogoh kocek untuk kembali mengurus dokumen baru yang asli serta biaya hidupnya selama di Jakarta dalam proses mengurus dokumen tersebut di Jakarta, mengingat ia bukan warga yang tinggal di Jakarta,” tegasnya.

Azhari menambahkan, bahwa sebelumnya PPI telah mengadukan kasus tersebut kepada Dit. PWNI & BHI Kementerian Luar Negeri melalui surat resmi No. P.011/PB-DIT-PWNI-BHI-KEMLU/DPP-PPI/I/2018 tertanggal 11 Januari 2018 yang meminta Kemlu dapat segera melakukan koordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur terkait kasus tersebut, namun hingga detik ini belum ada info update dari Kemlu.

Maka, atas dasar itulah PPI kembali meminta kepada pemerintah baik Kemlu maupun KBRI dapat berama-sama dalam membantu penyelesaian kasus dimaksud, mengingat setiap Warga Negara Indonesia berhak atas perlindungan agar merasakan arti hadirnya negara.

“Tuntutan Nazril sesuai kerugian yang ia alami meliputi ganti rugi biaya kepengurusan dokumen, biaya hidup selama mengurus dokumen di Jakarta dan ganti rugi selama ia tidak bisa bekerja selama empat bulan dengan total semua sekitar Rp 37 juta lebih sesuai yang tercantum dalam BAP di Polres Jakut,” pungkas Azhari.
(IS/IS, 14/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki