Berita > Ekosospol
Tak Sengaja Bawa Peluru, Jemaah Umrah Ditahan Polisi Bandara Jeddah
16 May 2018 00:40:21 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2064
Ket: RAahmat AMing (kiri), RS dan istrinya
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Seorang jemaah haji Indonesia berinisial RS, ditahan oleh pihak keamanan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah Minggu malam, 13 Mei 2018.
 
Berdasarkan rilis pers dari KJRI Jeddah, jemaah asal DKI Jakarta yang berprofesi sebagai anggota Polri ini ditahan karena dalam tas ranselnya kedapatan teselip tiga butir peluru yang terdeteksi oleh mesin X-Ray.
 
Semula Jemaah tersebut menyangkal kalau dirinya membawa barang terlarang itu. Namun saat membuka dan memeriksa tasnya, petugas menemukan tiga butir peluru terselip di tas itu.
 
RS telah mencoba meyakinkan petugas bahwa tidak ada unsur kesengajaan karena niatnya untuk beribadah.
 
Permasalahan yang dialami RS diketahui oleh seorang petugas protokol KJRI Jeddah yang tengah bertugas malam itu. Petugas  itu segera melaporkan kasus tersebut kepada pimpinan di KJRI Jeddah.
 
Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, segera memerintahkan Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi (PF) Konsuler-3 merangkap Kepala Kanselerai dan Majedi Sarbaini, staf KJRI, segera mendatangi kantor penyidik untuk memberikan pendampingan kepada RS.
 
Atas jaminan KJRI Jeddah, RS akhirnya berhasil dikeluarkan dari tahanan dan diinapkan sementara di kantor KJRI Jeddah bersama istri.
 
Anggota yang sudah 14 tahun bertugas di Satuan Bhayangkara ini menuturkan, dirinya teringat sekitar dua bulan lalu saat bertugas. Dia mengisi senjatanya dengan enam butir peluru dan tiga lagi sebagai cadangan ia selipkan di tas ransel tersebut.
 
"Yang enam sudah di silinder, tiga saya taruh di tas," tutur RS kepada petugas KJRI.
 
Usai bertugas, sambung RS, tas gendong yang digunakan saat bertugas itu ia taruh tanpa memeriksa dan mengeluarkan isinya. Tas itu pula yang ia bawa saat berangkat ke Arab Saudi bersama istri untuk menunaikan ibadah umrah.
 
"Saya juga kadang-kadang orangnya gak open (perhatian) pak, yah," ujar RS.
 
Saat berangkat tas ransel itu kosong dan hendak digunakan untuk menaruh oleh-oleh. Karena kosong tas itu ditaruh dikoper dan dimasukkan ke bagasi sehingga lolos saat pemeriksaan di bandara Madinah.
 
Namun, saat hendak pulang melalui bandara Jeddah, dalam tas gendong tadi  tidak hanya telah  penuh dengan  oleh-oleh, melainkan juga terselip benda terlarang yang terdeteksi mesin x-ray.
 
Rahmat Aming meminta RS dan istri agar  bersabar atas ujian yang menimpa mereka. Pasalnya, penyelesaian kasusnya akan memakan waktu karena harus menunggu jawaban terhadap surat dari KJRI Jeddah yang berisi  permohonan penghentian penyidikan dari kantor pusat di Riyadh.   
 
"Pengurusannya makan waktu paling cepat seminggu. Bisa dua minggu, sebulan atau bahkan dua bulan," terang Rahmat Aming.
 
Ayah dari dua anak, kelahiran Banyumas 1979, ini bersama istri segera memberitahukan pimpinan di kantor tempat ia bekerja, sambil menunggu penuntasan kasusnya.
(IYD/IYD, 16/05)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki