Berita > Seputar TKI
Kenali Penipu Melalui Media Sosial Secara Dini
09 Sep 2018 22:51:15 WIB | Hani Tw | dibaca 1617
Ket: Transaksi melalui ATM
Foto: Internet
Taipei, LiputanBMI - Semakin canggihnya peralatan elektronik serta banyaknya aplikasi pengiriman uang, memudahkan kita untuk melakukan transaksi apapun tanpa harus ke luar rumah.

Hal tersebut ternyata juga dimanfaatkan penipu untuk melakukan aksinya. Sudah banyak korban modus penipuan melalui media sosial, seperti toko online, jasa pengiriman uang bahkan dari teman akrab yang dikenal baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Lagi-lagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi sasaran empuk penipu. Terlebih lagi yang baru mengenal media social, tidak bisa ke luar rumah maka dengan mudah menjadi korban penipuan.

Berikut beberapa cara untuk mengenali kriteria penipu di media sosial :

1. Berpura-pura menderita, menangis minta belas kasihan. Penipu ini biasanya dari teman kita sendiri, ia akan beralasan ada keluarganya yang sakit, usahanya bangkrut, pinjam kreditnya belum turun, ceknya belum cair.

2. Mengatasnamakan instansi pemerintah. Penipu dalam melakukan aksinya menggunakan nama instansi pemerintah seperti bank, rumah sakit, kantor telekom, kantor pos, kantor polisi, perusahaan jasa pengiriman kerja dan lain-lain. Mereka akan berpura-pura sebagai petugas, kemudian meminta uang dengan alasan untuk membayar jaminan, menebus obat, membayar job atau menebus barang bukti.

3. Mengaku sedang dalam bahaya. Penipu akan mengelabui calon korban seolah-olah ia dalam bahaya, seperti ditangkap polisi, disekap, dianiaya dan meminta untuk segera dikirimi uang.

4. Membobol akun FB, LINE, WA, atau aplikasi lainnys. Penipu akan membobol akun atau memakai akun dengan nama orang yang dirasakan dekat dengan calon korban.
5. Meminjam nama orang lain untuk transaksi. Penipu biasanya menggunakan nama orang lain dengan meminjam foto copy pasor, KTP atau ARC (ARC: Allient Residence Certificate,red.), memberikan bukti transferan yang menggunakan ATM, atau menggunakan identitas palsu dengan mengedit foto KTP,ARC maupun paspor.

6. Menggunakan pesan singkat (sms), inbox ke LINE, FB, WA atau aplikasi lainnya. Penipu akan melakukan aksinya melalui pesan pendek.

7. Mendapat hadiah atau bonus. Penipu akan berpura-pura sebagai salah satu karyawan perusahaan, perbankan dengan mengirim pesan kalau kita mendapatkan bonus hadiah dan meminta nomor rekening kita.

8. Menelepon tanpa bersuara. Penipu akan menghubungi nomor telpon calon korban tanpa mengeluarkan suara, dengan tujuan supaya calon korban menelpon balik. Jika kita mencoba menelpon maka akan dimatikan atau dialihkan dengan nada sibuk, akan tetapi penipu sedang mencatat nomor telpon kita.

9. Transaksi dilakukan melalui transfer ATM. Dengan mentransfer uang melalui ATM maka tidak akan terlihat nama pemilik rekening pada bukti transaksi. Penipu akan memantau saat kita sedang melakukan transfer uang, jika transaksi pertama salah nomor maka akan segera memberikan nomor rekening yang lain.

10. Bukti transferan palsu, hasil editan. Jika kita melakukan transaksi pinjam meminjam, seorang penipu akan memberikan resi transferan palsu. Bukti pengiriman uang akan diedit mulai dari nama, nomor pemilik rekening, nominal uang juga tanggal transaksi.

Jenis penipuan yang sering terjadi Taiwan adalah bukti transferan palsu. Saat ini yang sering dipakai penipu adalah slip pengiriman uang dari Bank Kantor Post, karena slipnya mudah untuk diedit, sedangkan slip pengiriman uang dari bank lain tidak ada kolom kosong untuk bisa di edit ulang.

Jika kita mengalami hal diatas sebaiknya ditanggapi dengan tenanga, jangan terburu-buru atau gugup. Sebelum melakukan transaksi pastikan dulu nomor, nama pemilik rekening. Apabila kita menjadi korban penipuan dalam waktu 24jam segera menelepon untuk
(HNI/IYD, 09/09)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki