Berita > Seputar TKI
Terbukti Bunuh Bayi Majikan, PMI Asal Cianjur Divonis 7 Tahun di Singapura
28 Nov 2018 17:11:43 WIB | Juwarih | dibaca 1084
Ket: Ilustrasi Tahanan Wanita
Foto: Google
Singapura, LiputanBMI - Terbukti membunuh bayi majikannya, Maryani Usman Utar (25), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Cianjur, Jawa Barat divonis 7 tahun oleh Hakim Joo Sheau Peng di Singapura, pada Kamis 22/11/2018.

Maryani dalam persidangan telah mengakui atas kesalahannya, ia mengaku telah memukul dan mencekik leher anak majikannya bernama Richelle Teo Yan Jia, yang masih berumur satu tahun hingga menyebabkan kematian si bayi, pada pukul 02.00-07.36 di apartemen Block 225, Jalan Simei 4, (8/5/2016).

Informasi tersebut dibenarkan pihak Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI saat dikonfirmasi LiputanBMI melalui pesan singkat di Jakarta, pada Selasa (27/11/2018).

"Kemlu dan KBRI Singapura telah melakukan pendampingan hukum termasuk menunjuk pengacara untuk melakukan pembelaan hukum," ucap Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, kepada LiputanBMI.

Kata Iqbal, dalam persidangan sebelumnya dalam perkara tersebut Maryani dituntut oleh Jaksa delapan sampai sepuluh tahun kurungan, sedangkan Hakim memvonisnya 7 tahun, artinya vonis Hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa.

"Atas putusan hakim, Maryani menyatakan dapat menerima vonis tersebut. Masa sisa hukuman ditambah pengurangan hukuman diperkirakan sekitar 26 bulan lagi bisa bebas," pungkasnya.

Dikutif dari laman Channel News Asian (22/11), menurut fakta dipersidangan, awal kejadian pada saat Maryani sedang tidur si bayi terjatuh dari tempat tidur kemudian ia terbangun dan langsung melihat ke bawah Richelle sudah jatuh tertelungkup di lantai.

Maryani kemudian mengangkat Richelle lalu menepuk-nepuknya sampai si bayi tertidur lagi sekitar satu setengah jam. Tapi sekitar pukul 02.00 bayi tersebut bangun dan menangis lalu dirinya membuatkannya susu namun si bayi kemudian muntah dan mengenai pakaiannya serta baju si bayi sendiri.

Richelle mulai menangis kencang meski Maryani sudah menepuk-nepuk untuk menenangkannya. Tapi si bayi tidak juga berhenti menangis sampai Maryani kesal karena dia sangat mengantuk.

Pada saat itulah Maryani memukul leher sebelah kiri si bayi dan mencekiknya dengan sekuat tenaga supaya bayi tersebut berhenti menangis sekaligus melampiaskan kemarahannya terhadap ibu Richelle.

Setelah dipukul tangis Richell justru kian keras. Maryani lalu memegang leher belakang si bayi sekuat tenaga selama sekitar setengah jam dan menekan tangan kanannya di sisi lain leher Richelle. Akhirnya bayi itu berhenti menangis dan Maryani melepaskan pegangan itu sampai mata Richelle tertutup.

Setelah itu Maryani menaruh si bayi di tempat tidur kemudian membersihkan baju Richelle dan mengganti pakaiannya yang juga kotor. Maryani lalu tidur tanpa memeriksa kondisi Richelle. Pagi esoknya Maryani keluar rumah pukul 07.50 karena dia hari itu libur dan akan menemui keluarganya yang datang ke Singapura.

Ayah Richelle kemudian memeriksa kondisi bayinya pukul 09.00 karena jam itu biasanya si bayi makan. Dia melihat leher kiri putrinya menghitam dan tangan kirinya sampai kaki juga berwarna gelap.

Ketika menyentuh tangan kiri dan kaki putrinya Teo merasa tangan dan kaki itu dingin. Dia kemudian memeriksa hidung anaknya, tidak ada napas.

Teo lalu panik dan membawa bayinya keluar dan menelepon istri serta polisi. Dia lalu meminta bantuan tetangga untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Namun Richelle dinyatakan meninggal tidak lama dari pukul 10.00 setibanya mereka di rumah sakit.
(JWR/IYD, 28/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki