Berita > Seputar TKI
Biaya Pemulangan Shinta dari Taiwan Sebesar Rp 244 Juta Lebih Ditanggung Pemerintah
30 Nov 2018 09:46:03 WIB | Yully Agyl | dibaca 2231
Ket: Proses pemulangan Shinta Danuar
Foto: Web BNP2TKI
Taipei, LiputanBMI - Shinta Danuar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mengalami lumpuh selama tiga tahun lebih di Taiwan, akhirnya bisa dipulangkan ke tanah air, Kamis (29/11/2018)

Proses pemulangan Shinta difasilitasi sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia.
Dengan menggunakan pesawat Eva Air, Shinta diterbangkan dari Taoyuan International Airport (Taiwan) pukul 09:00 waktu Taiwan dan diperkirakan tiba di Bandara International Soekarno Hatta, Jakarta pukul 13.20 WIB.

Dikutip dari website BNP2TKI (29/11), total biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk pemulangan Shinta sebesar NTD 520.000 atau setara dengan Rp 244.606.415 (kurs NTD 1 = Rp. 470,39).

Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid mengatakan, pemulangan Shinta dilakukan atas dasar izin dokter dan permintaan pihak keluarga dan selanjutnya Tim Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei memfasilitasi pemulangan dengan menggunakan fasilitas khusus Emergency Medical Services (EMS) yang dilengkapi dengan peralatan medis serta dokter dan perawat yang menjaga kondisi Shinta selama penerbangan dari Taiwan hingga ke Jakarta.

Disampaikan juga, pemerintah Indonesia menanggung sepenuhnya biaya pemulangan Shinta dari Taiwan hingga tiba di Indonesia.

Bahkan, pemerintah juga menanggung biaya perawatan selama dirawat di rumah sakit di Indonesia sampai kembali ke kampung halamannya di Banyumas serta memfasilitasi akomodasi dan penginapan keluarganya selama Shinta dirawat di Jakarta.

Menurut Nusron Wahid, KDEI Taipei, Kemnaker, Kemlu, dan BNP2TKl bersama-sama menyiapkan kepulangan Shinta Danuar dari Taiwan. Seperti menyiapkan ambulance di bandara kedatangan, menyiapkan rumah sakit rujukan, menyiapkan pemulangan ke daerah asal di Banyumas serta menyiapkan berbagai perlengkapan yang diperlukan.

Pemulangan Shinta melalui proses yang panjang karena kondisi kesehatannya.

Mulai dari survey pihak Emergency Medical Services (EMS) yang melakukan Primary Survey di rumah sakit terkait kesiapan dan kondisi terbaru Shinta sekaligus pelengkapan kesiapan administrasi dokumen.

Selanjutnya, pengurusan surat persetujuan tanpa paksaan dari pihak keluarga atas semua risiko, mencari maskapai penerbangan yang bersedia dan kesiapan maskapai tersebut, serta persiapan dan kesiapan dari pihak penjemput di Indonesia.

Seperti telah diberitakan selama ini, Shinta yang masuk ke Taiwan pada Maret 2014 dan bekerja sebagai penjaga orang sakit itu mengalami lumpuh sejak Desember 2014 karena adanya virus pada sistem syaraf tulang belakangnya.


Selama menjalami perawatan pihak KDEI secara rutin menjenguk Shinta dan juga memfasilitasi kedatangan ibu dan anak Shinta ke Taiwan. Selain itu, selama Shinta berada di rumah sakit, para relawan dan PMI di Taiwan juga banyak memberi bantuan.
(YLA/YLA, 30/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh
BNI Saudi Arabia
ATC Cargo
psstki