Berita > Kesehatan
Departemen Kesehatan Taipei Keluarkan Peringatan Tentang Bunga Blue Butterfly Pea
13 May 2019 15:15:07 WIB | Yully Agyl | dibaca 1230
Ket: Bunga Blue Butterfly Pea dilarang untuk campuran makanan dan minuman.
Foto: CNA
Taipei, LiputanBMI - Departemen Kesehatan Kota Taipei, Taiwan menyarankan pada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi bunga Blue Butterfly Pea sebagai makanan atau minuman karena masih kurangnya penilaian keamanan pangan terkait tanaman berbunga.


Tanaman berwarna nila cerah ini telah banyak dikonsumsi dalam bentuk minuman dan sebagai bahan dalam memasak oleh orang-orang di bagian Asia Tenggara, karena sifat kesehatan yang diyakini terkandung dalam bunga tersebut. Tren ini perlahan mulai berkembang di Taiwan.


Sebagaiman dilansir CNA, Jumat (10/5/2019), menurut Direktur Divisi Makanan dan Obat-obatan (Food and Drug Administration / FDA), Wang Ming-li (王 明理), di Taiwan, bunga Blue Butterfly Pea saat ini hanya diizinkan untuk digunakan sebagai zat pewarna, dan tidak dipasarkan sebagai bahan untuk makanan atau minuman.


Bunga Blue butterfly Pea mengandung flavonoid, yang diketahui menyebabkan kontraksi rahim. Wanita hamil tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan atau minuman apa pun yang mengandung bahan ini.


Wang Ming-li juga menjelaskan, meskipun saat ini marak penggunaan bunga ini, masyarakat harus menghindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang dibuat hanya dari tanaman ini sampai ada penilaian makanan yang jelas dari departemen kesehatan


Saat ini ada empat toko minuman di Taipei yang menggunakan bunga Blue Butterfly Pea sebagai zat pewarna, namun sejauh ini belum ada izin dari departemen kesehatan untuk menyetujui produk makanan atau minuman mereka dari bunga tersebut.


Departemen kesehatan kota Taipei melalui Undang-Undang yang Mengatur Keamanan dan Sanitasi Makanan Pangan, memperingatkan bahwa siapa pun yang ketahuan menjual tanaman berbunga ini sebagai makanan atau minuman yang mengandung bunga Blue Butterfly Pea akan dikenakan denda mulai dari NTD 60.000 hingga NTD 200 juta.
(YLA/YLA, 13/05)
Universitas Terbuka Riyadh
-