Berita > Seputar TKI
Sempat Divonis Hidupnya Tinggal 6 Bulan, PMI Ini Sembuh dan Boleh Pulang
02 Jun 2019 22:00:35 WIB | Hani Tw | dibaca 4865
Ket: Ketua TCESIA Hwang Yu-jie menyerahkan uang hasil penggalangan dana kepada Aya (kiri) dan kondisi Aya saat dirawat di RS.dari TCESIA
Foto: Dokumen TCESIA
Taipei, LiputanBMI - Setelah menjalani operasi dan perawatan selama lima bulan akibat terkena kanker usus besar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan asal Jawa Tengah akhirnya sembuh dan diizinkan pulang ke Indonesia pada Senin, 3 Juni 2019.

Sebelumnya, dokter telah memvonis PMI yang diketahui bernama Aya tersebut hanya bisa bertahan hidup setengah tahun saja.

Menurut keterangan Asosiasi Agency seluruh Taoyuan (TCESIA), Aya baru bekerja selama delapan bulan sebagai perawat Ama yang ditempatkan di panti jompo. Setiap hari ia berangkat ke panti jompo untuk menemani Ama hingga pukul 5 sore. Setelah itu, ia pulang ke rumah majikan untuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Pada awal bulan Januari lalu, Aya merasakan punggunnya sakit dan segera dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat. Dokter mengatakan kalau Aya terkena kanker usus besar stadium tiga dan harus menjalani operasi. Menurut dokter, kemungkinan Aya hanya mempunyai kesempatan hidup setengah tahun saja.

“Aya sudah putus asa. Agen telah membawanya ke dokter, tapi hasilnya nihil. Bulan Januari lalu Aya sudah merencanakan untuk membeli tiket supaya bisa segera pulang ke Indonesia dan meninggal di kampung halamannya,“ jelas TCESIA.

Di tengah keputusasaan, agen dan direktur panti jompo Lai Shu-e(賴素娥) membujuk dan menyarankan Aya supaya bersedia melakukan operasi. Setelah operasi baru pulang ke Indonesia untuk melakukan perawatan lanjutan.

Ketika TCESIA bersama staf mengunjungi Aya beberapa waktu lalu dan bertanya apa yang diinginkannya, Aya menjawab butuh uang untuk beli tiket supaya bisa secepatnya pulang ke Indonesia.

“Selama empat bulan saya sakit tidak ada pemasukan. Meskipun sehari-hari panti jompo telah menanggung semua keperluan makanan dan tempat tinggal. Saya tidak mempunyai uang untuk membeli tiket serta biaya hidup di Indonesia nanti,” jawab Aya dengan polos.

Mendengar keluhan dan permintaan Aya, TCESIA yang anggotanya adalah pengusaha pemilik kantor agen seluruh Taiwan, atas dukungan ketuanya, Hwang Yu-jie sepakat akan mengadakan penggalangan dana untuk meringankan beban biaya bagi Aya dengan target pengumpulan dana sebesar NTD 50.000.

Tanpa disangka sebelumnya, video penggalangan dana untuk Aya yang berdurasi 4 menit dan baru ditayangkan selama 30 menit, dana sumbangan yang masuk sudah melampaui target yang direncakan dengan jumlah NTD 59.500. Penggalangan dana pun langsung ditutup.

Meski penggalangan dana sudah ditutup, ada salah satu agen yang menambahkan uang NTD 500 sehingga total dana yang terkumpul semua NTD 60.000.

Hasil dana sumbangan dari TCESIA telah diserahkan langsung ke Aya oleh ketua TCESIA, Hwang Yu-jie pada Jumat (31/5/2019). Rencananya, pada 3 Juni besok Aya akan dipulangkan ke Indonesia.
(HNI/FK, 02/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-