Berita > Ekosospol
Indonesia Diminta Segera Ratifikasi Konvensi ILO 190, Akhiri Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja
23 Jun 2019 20:42:42 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 540
Ket: Konferensi ILO di Genewa, Swiss
Foto: ILO.ORG
Nasional, LiputanBMI - Aliansi Stop Kekerasan, Diskriminasi, dan Pelecehan di Dunia Kerja menilai, pengesahan Konvensi ILO 190 tentang Mengakhiri Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja merupakan angin segar bagi pekerja di Indonesia.

Untuk itu, aliansi yang terdiri dari berbagai jaringan serikat buruh dan organisasi masyarakat sipil di Indonesia ini mendorong dan mendesak agar Pemerintah Indonesia yang sudah melakukan vote dalam konferensi mendukung Konvensi ILO 190 untuk segera meratifikasinya.

International Labour Conference atau Konferensi Perburuhan Internasional di Genewa, Swiss pada 21 Juni 2019 telah berhasil mengadopsi The Convention on Violence and Harrasment in the World of Work atau Konvensi ILO 190 dan rekomendasi tentang mengakhiri kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

Dalam rilis yang diterima redaksi LiputanBMI, Jumat (21/6), Aliansi Stop Kekerasan, Pelecehan, dan Diskriminasi di Dunia Kerja menyebut, konvensi ini sangat penting untuk segera diratifikasi Pemerintah Indonesia mengingat banyaknya kekerasan, pelecehan dan diskriminasi di dunia kerja di Indonesia.

Aliansi memandang bahwa hasil konvensi ini merupakan hal yang signifikan bagi perjuangan buruh selama ini. Selama dua tahun, aliansi telah melakukan advokasi kepada pemerintah, Apindo, dan DPR RI untuk mendorong agar disahkannya konvensi ini.

Kekerasan di dunia kerja adalah kekerasan yang terjadi pada para pekerja dari dan di rumah, di jalan, hingga di tempat kerja. Pelecehan dan kekerasan serta diskriminasi juga banyak menimpa perempuan pekerja, PRT, buruh dan di semua sektor kerja di Indonesia.

Perwakilan aliansi yang ikut hadir menjadi peserta konferensi mencatat perdebatan terjadi antara banyak pihak terutama kelompok pengusaha serta negara ketika memperdebatkan masuknya klausul Lesbian, gay, biseksual, transgender, queer and interseksual (LGBTQI) di dunia kerja.

LGBTQI selama ini banyak mendapatkan kekerasan dan diskriminasi. Perdebatan ini kemudian harus diakhiri dengan voting yang menghasilkan kesepakatan bahwa semua orang tidak terkecuali tidak boleh mendapatkan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

Isu lain yang cukup alot adalah tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga/ KDRT (domestic violence) yang dianggap banyak kalangan sangat relevan dengan dunia kerja, terutama saat korban menjadi terganggu bekerja karenanya.

Konvensi ini dinilai sebagai angin segar bagi para pekerja di Indonesia karena akan dapat melindungi para pekerja, termasuk pencari kerja di semua sektor baik formal maupun informal di wilayah dan sektor seperti PRT, pekerja rumahan, pekerja hiburan, pekerja di kaki lima, dan di semua wilayah kerja baik tempat kerja publik maupun privat.
(FK/FK, 23/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-