Berita > Ekosospol
Warga Saudi Makin Minati Bahasa Indonesia, Raja Salman Mendukung
28 Jun 2019 06:52:42 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1134
Ket: Peserta BIPA foto bersama dengan Konjen Hery (tengah)
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Bahasa Indonesia semakin diminati warga Arab Saudi, hal itu terbukti saat 262 warga Saudi ikut mendaftar kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan KJRI Jeddah. Jumlah tersebut merupakan rekor terbanyak angkatan BIPA ke-15 sejak diadakan tahun 2006.

“BIPA tahun ini mengakomodir 61 orang peserta dari 262 orang peserta pendaftar yang merupakan hasil dari seleksi penerimaan yang ketat. Karena keterbatasan tempat dan untuk kenyamanan serta keefektifan proses belajar mengajar, jumlah peserta kami batasi, peserta dibagi dalam dua kelas, A dan B. Kelas A berjumlah 30 orang dengan waktu belajar (Minggu dan Selasa) dan kelas B berjumlah 31 orang dengan waktu belajar (Senin dan Rabu) dan kursus dimulai dari jam 17.00 s.d 20.00”. Ujar Pelaksana Fungsi Pensosbud-2 KJRI Jeddah, Tubagus M. Nafia saat acara penutupan sebagaimana rilis yang diterima LiputanBMI, Kamis (27/06/2019).

Kursus BIPA digelar sejak tanggal 19 Februari sampai dengan 10 April 2019 dengan jumlah pertemuan sebanyak 15 kali. Program tahunan itu diikuti warga Saudi dari berbagai latar belakang pekerjaan seperti pegawai pemerintah, pengusaha, dosen.

Konsul Jenderal RI Jeddah, Dr. Mohamad Hery Saripudin mengatakan, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa yang diminati oleh warga Saudi. Berdasarkan informasi yang diperoleh Konjen Hery dari pengusaha Macca Chamber of Commerce (Kadin) Makkah, Raja Salman mendorong para pengusaha haji dan umrah agar mempelajari bahasa Indonesia dengan mengeluarkan dekrit.

“KJRI Jeddah berupaya mempromosikan hubungan bilateral Indonesia – Arab Saudi ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih akrab lagi. Hal tersebut salah satunya adalah melalui program kursus BIPA”. Ucap Konjen pada saat menutup acara kursus BIPA.

Konjen Hery menyebutkan, setidaknya ada 100 ribu orang Indonesia berlalu lalang sekitar Makkah dan Madinah yang menjadi agen promosi Indonesia. Melalui interaksi inilah hubungan kedua negara akan dipererat.

Hubungan diplomatik, lanjut Konjen Hery, bukan monopoli pemerintah saja dan bukan pejabat Indonesia dengan pejabat Arab Saudi saja tapi yang lebih penting hubungan masyarakat dengan masyarakat (people to people).

“Kami mempunyai rencana menyelenggarakan program reuni akbar para alumni kursus BIPA dari angkatan pertama sampai dengan angkatan 15 dan untuk keberhasilan pelaksanaannya diperlukan partisipasi dan dukungan dari para peserta kursus BIPA. Kami menganggap bapak bukan sebagai mitra lagi tapi sudah sebagai anggota keluarga besar KJRI Jeddah. Ke depannya Keluarga besar BIPA ini bisa dimanfaatkan untuk hubungan sosial, promosi kebudayaan, bisnis dan parawisata. Hal ini mendukung program Kerajaan Arab Saudi dalam Saudi Vision 2030 dan diharapkan menjadi pelobi-pelobi Indonesia di Arab Saudi," papar Konjen.



(IYD/IYD, 28/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-