Berita > Ekosospol
Anak WNIO yang Tidak Sekolah Jadi Perhatian Para Aktivis di Jeddah
14 Jul 2019 13:36:41 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 862
Ket: ilustrasi anak WNIO
Foto: LBMIKSA
Jeddah, LiputanBMI - Pendidikan dini bagi anak-anak sangatlah penting, pada umumnya orang tua sudah memasukkan anaknya ke Pendidikan Anak Usia Dinii (PAUD) atau taman kanan-kanak sejak berusia 4 tahun. Akan tetapi tidak semua anak-anak mempunyai kesempatan yang sama, meski usianya sudah layak untuk sekolah.

Hal itu diungkapkan para aktivis yang tergabung dalam Aliansi Pekerja MIgran Indonesia di Jeddah yang mengaku prihatin dengan anak pasangan WNI overstayer dan pria asing. Pasalanya, mereka kerap menemukan anak usia sekolah belum bisa baca tulis.

"Kami sering menemukan anak-anak pasangan WNIO dan pria asing tidak bisa baca tulis, padahal usianya sudah 10 tahun," ungkap Ketua Projo KSA, Efendi Baharudin saat berdiskusi di taman Indonesia, Jeddah pada Jumat (13/07.2019) malam.

Menurut Efendi, pendidikan adalah salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang tua. Jika tidak, orang tua sudah melakukan kejahatan kepada anaknya sendiri.

Pernyataan itu juga diamini pengurus SBMI Jeddah, M Roland Kamal yang mengungkapkan para orang tua sering menutupi kondisi anaknya.

"Biasanya mereka (orang tua, Red) sering tertutup. Makanya harus diberi edukasi dan dorongan agar mereka peduli terhadap pendidikan anaknya," ujarnya.

Pertemuan para aktivis tersebut dihadiri ormas SBMI Jeddah, BMI-SA, Projo KSA,Rais Syuriah NU Riyadh Guslik An-Namiri, Reza FM dan Ustad Abdullah.

Pada pertemuan tersebut para aktivis sepakat untuk mendata WNIO yang tidak disekolahkan untuk memberikan edukasi dan pemahamam kepada para orang tua agar memasukkan anaknya sekolah kejar paket A.

(IYD/IYD, 14/07)
Universitas Terbuka Riyadh
-