Berita > Seputar TKI
Dekan Psikologi UNAIR Ungkap Tingkat Stres Para PMI
14 Nov 2019 22:52:23 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 530
Ket: Para Calon Pekerja Migran Indonesia sedang di penampungan (ilustrasi)
Foto: Google
Surabaya, LiputanBMI - Memahami kondisi stres pada seseorang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi situasi dengan tuntutan tertentu. Hal itu juga harus dimiliki oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Banyak kasus di media massa para TKI sering mendapatkan perlakuan tidak baik hingga mengakibatkan stres.

Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga, Dr. Nurul Hartini, S. Psi., M. Kes., bersama mahasiswa bimbingannya Trisha melakukan penelitian yang mengungkapkan tingkat stres TKI pada pekerjaanya. Stres akulturasi pada para TKI disebabkan proses penempatan yang panjang dan hal ini dapat memberatkan para pekerja.

“Para tenaga kerja migran akan mengalami serangkaian proses dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, budaya, dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang baru,” ungkapnya.

Nurul juga menambahkan proses adaptasi tersebut dapat mengarah kepada stres akulturasi yang dapat terjadi ketika para tenaga kerja menemui kesulitan dalam menjalani hidup di negara di mana ia ditempatkan. Enam faktor sumber stres, antara lain tingkat ekonomi sangat rendah, kesulitan dalam berbahasa, perbedaan cara pandang, status keimigrasian yang bermasalah, adanya penolakan dari lingkungan sekitar, dan hal-hal baru yang asing berkaitan dengan nilai-nilai dan hukum di negara yang akan ditempati.

Ia juga mengungkapkan bahwa para TKI perlu untuk menerapkan self-esteem. Self esteem merupakan faktor penting yang membantu individu dalam melakukan adaptasi di lingkungan baru. Kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi situasi dengan tuntutan tertentu mampu mereduksi stres dan memberikan dampak positif.

Individu yang memiliki self-esteem dan optimisme tinggi memiliki kemampuan penyesuaian diri terhadap situasi penuh stres yang lebih baik. Tetapi sebaliknya jika self-esteem rendah akan memiliki hubungan dengan stres akulturasi, kecemasan, depresi, ketidakberdayaan, serta kecenderungan bunuh diri baik pada anak-anak dan orang dewasa yang melakukan migrasi.

Tinggi rendahnya self-esteem dipengaruhi oleh dukungan sosial dari keluarga, teman, dan kerabat. Selain itu, faktor budaya kolektif juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan self-esteem, kebahagiaan, dan kesehatan mental pekerja migran terutama wanita.

Nurul dalam penelitiannya juga mengungkapkan adanya variabel internal dalam diri para TKI yaitu approach coping atau pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Coping efektif dinyatakan sebagai faktor yang mampu mencegah timbulnya efek stres. Coping merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi pekerja migran di lingkungan yang baru.

Para pekerja migran akan memaknai kesulitan yang dihadapinya terkait dengan proses adaptasi secara berbeda-beda. Para TKI jika menerapkan coping efektif, maka mereka dapat beradaptasi dengan cepat dan sukses.

(Source: Unair News)
(JWD/JWD, 14/11)
Universitas Terbuka Riyadh
-