Berita > Seputar TKI
Ayah Catur Tiba di Taiwan: Apapun Yang Terjadi Dengan Catur Mohon Supaya Bisa Dipulangkan
06 Mar 2020 13:34:48 WIB | Hani Tw | dibaca 6460
Ket: Ketua NESA dan TCESIA, Hwang Gao-Jie memberikan sumbangan kepada ayanhya Catur. Ayah meminta apapun yang terjadi dengan Catur mohon supaya bisa Dipulangkan
Foto: TCESIA
Taipei, LiputanBMI - Ayah dan kakak laki-laki dari Catur, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Tulung Agung, korban laka lantas telah tiba di Taiwan untuk menjenguk anaknya akan tetapi belum diizinkan ke RS karena masih harus di karantina terlebih dulu selama beberapa hari.

Ketika berada di kantor Taoyuan City Employment Service Institute Association (TCESIA) ayah Catur, Suwarno, meminta bantuan kepada TCESIA apabila nanti Catur bisa siuman mohon sekiranya dia dipulangkan, dan jika memang Catur tidak bisa diselamatkan lagi, ia meminta supaya jenazahnya juga dipulangkan.

"Saya mohon bantuannya, jika anak saya siuman maka pulangkan dia, dan apabila dia ditakdirkan meninggal saya mohon jasadnya bisa dipulangkan, "jelas Suwarno dengan mata berkaca. Menurutnya, sebesar apapun nilai uang yang diberikan tidak bisa menggantikan anaknya.

Meskipun belum bisa secara langsung menjenguk Catur, namun agen telah menghubungkannya dengan pihak rumah sakit melalui video call untuk melihat kondisi Catur. Ketika mendengar suara ayahnya, Catur yang masih terbaring di ruangan ICU memberikan sedikit respon meskipun sangat lemah.

Sebagaimana diceritakan sekretaris TCESIA Muriel Yu kepada LiputanBMI (5/3/2020), ayah bersama kakaknya Catur dengan didampingi agen hari ini mendatangi kantornya untuk menandatangani surat kuasa pengajuan klaim kompensasi kepada kantor asuransi di Taiwan.

Pada kesempatan tersebut Muriel Yu selain memberikan dukungan dan semangat kepada ayah Catur dan kakaknya, ia juga menanyakan bagaimana keadaan ekonomi keluarga mereka.

Menurut keterangan kakaknya Catur, Yudi, keadaan ekonomi keluarga mereka pas-pasan. Demi untuk menjenguk dan melihat keadaan adiknya, ayahnya telah menggadaikan sertifikat rumah untuk biaya keberangkatan mereka ke Taiwan.

Suwarno juga mengatakan, sebelumnya Catur pernah bekerja di Malaysia selama empat tahun. Uang hasil kerja di Malaysia ia gunakan untuk proses ke Taiwan. Sehari sebelum berangkat, Catur mengatakan kalau hasil kerja di Taiwan nantinya akan digunakan untuk membuat rumah, biaya menikah, namun tidak disangka Catur mengalami nasib seperti ini dan harus berbaring di RS tanpa bergerak sama sekali.

Sementara itu, ketua Asosiasi Federasi Nasional Perdagangan dan Layanan Ketenagakerjaan (NESA) dan TCESIA Hwang Gao-Jie (黃杲傑) ketika memberikan dana santunan kepada Suwarno menjelaskan, sesuai pengalaman sebelumnya kasus tuntutan ganti rugi seperti ini bisa memakan waktu paling cepat dua tahun hingga empat tahun.

Lebih lanjut Hwang Gao-Jie mengatakan, selain agen dan NESA, ia mengharapkan bantuan dari teman-teman untuk meringankan beban keluarga Catur. Saat ini, untuk biaya rumah sakit saja dalam sebulan tidak kurang dari NTD 30.000 dan merupakan bantuan dari agen juga Konghue.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Catur mengalami kecelakaan lalu lintas pada liburan Imlek akhir Januari lalu. Pada saat itu, ia sedang bersepeda bersama teman lainnya, tiba-tiba ia ditabrak oleh mobil travel. Hingga sekarang masih dirawat di ruangan ICU RS Heping kota Hsinchu, Taiwan.
(HNI/IYD, 06/03)
Universitas Terbuka Riyadh
-