BNI Saudi Arabia
Berita > Seputar TKI
Belum Bisa kembali ke Luar Negeri, PMI Ini Buka Usaha Membuat Sepeda Mini
24 Jun 2020 12:47:11 WIB | Jafry Aljawad | dibaca 647
Ket: Lukman Hakim, pembuat sepeda minion di Ponorogo
Foto: Detikcom
Madiun, LiputanBMI - Pandemi COVID-19 belum berakhir. Banyak warga yang belum bisa kembali bekerja seperti biasa, di masa menuju new normal ini.

Seperti para TKI yang belum bisa kembali ke negara rantau. Hal itu dirasakan oleh Lukman Hakim, warga Jalan Ki Lelono, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo.

Pada September 2019, Lukman yang menjadi TKI di Malaysia pulang ke Indonesia karena habis kontrak. Namun saat akan kembali ke Malaysia, ternyata negara tersebut menerapkan lockdown. Akhirnya, ia pun tak bisa kembali ke perantauan.

Karena bingung tak ada penghasilan, pria 38 tahun ini iseng membuat sepeda goyang. Terlebih, Lukman memiliki keahlian mengelas.

"Saya kan di Malaysia kerjanya bagian ngelas, di sini saya cari spare part, saya pasang sendiri juga. Jadi lah sepeda goyang," tutur Lukman kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Rabu (24/6/2020).

Awalnya, ada salah satu temannya yang meminta Lukman membuat sepeda minion. Sebab, di Ponorogo tren sepeda minion sedang naik. Para peminatnya pun datang dari berbagai kalangan.
"Awalnya saya nggak tahu sepeda minion itu gimana, saya cari di internet. Lihat seperti apa, ternyata ada operannya, saya contoh," terang Lukman.

Temannya itu kemudian menyiapkan bahan atau spare part sepeda minion dan dibawa ke rumah Lukman. Dari situ, usahanya pun mulai berjalan.

"Akhirnya saya suruh beli bahan dan membawa sepedanya ke sini. Saya rakit alhamdulillah jadi. Saya belajar otodidak dari YouTube," jelas Lukman.

Saat ini, lanjut Lukman, dirinya sudah menyelesaikan tiga sepeda minion. Sedangkan empat sepeda minion lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

"Kalau proses pembuatan cepat, butuh waktu 2 minggu. Seminggu pertama masang grup set, cakram. Minggu kedua ngecat, paling lama nunggu cat kering," imbuh Lukman.

Satu sepeda jenis minion buatannya dipatok dengan harga Rp 2,5 juta. Sedangkan mini track dipatok Rp 1,5 juta.
"Tapi itu bahannya sudah harus disiapkan sama pemilik," papar Lukman.

Sebab, saat ini spare part sepeda mulai langka di pasaran akibat diburu para pembeli. Bahkan dia harus membeli spare part sepeda hingga ke Madiun.

"Karena di Ponorogo spare part itu sudah langka, akhirnya saya cari di Madiun. Kadang saya beli online juga. Di sini sudah susah carinya," sambung Lukman.

Sebagai orang yang terdampak pandemi Corona, menurut Lukman, ini menjadi salah satu ladang usaha yang menguntungkan. Terlebih, masyarakat saat ini sedang suka bersepeda.

"Selagi ada permintaan, usaha ini saya teruskan," pungkas Lukman.

(Source: Detikcom)
(JWD/JWD, 24/06)
Universitas Terbuka Riyadh
-