BNI Saudi Arabia
Berita > Seputar TKI
Alasan PMI Asal Brebes yang Lompat ke Jembatan Lewat Jendela Mobil Bikin Nyesak
17 Jul 2020 20:25:20 WIB | Hani Tw | dibaca 740
Ket: PMI Asal Brebes yang terbaring tak berdaya di RS Taiwan setelah Lompat ke Jembatan Lewat Jendela Mobil
Foto: Faisal Soh
Taipei, LiputanBMI - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Brebes, MW (28) nekad melompat dari jendela mobil ke arah jembatan di daerah Hsinchu, Taiwan pada Sabtu (12/7) ketika kena razia polisi yang sedang patroli.

Di dalam mobil van yang ditumpangi MW, ada 9 orang PMI semua berstatus ilegal. Namun ke delapan teman MW lainnya lebih memilih menyerah ketika di razia, sementara ia nekad melompat keluar dan terjun ke arah jembatan.

Naas memang nasib MW, ia mengira di bawah jembatan adalah sungai, namun ternyata sebuah jurang sehingga ia mengalami luka yang serius di bagian tulang rusuk dada dan patah pada tulang persendian panggul dan punggung.

Sebagaimana diceritakan MW kepada Faisal soh hari ini (17/7) ketika ia menjenguk MW yang Hingga saat ini masih terbaring tak berdaya di RS Hsinchu.

Menurut keterangan Faisal, biaya operasi dan perawatan diperkirakan dapat menembus angka kurang lebih NTD 500.000 atau setara dengan 240 juta rupiah.

Dokter menyarankan untuk melakukan operasi. Namun MW sampai detik ini masih terkatung-katung belum dilakukan operasi karena keterbatasan biaya. MW hanya bisa terbaring meratapi nasib. Jangankan untuk berdiri, duduk saja mustahil baginya dalam waktu dekat.

Kepada Faisal MW menceritakan, ia
memilih kabur karena ada alasannya. Ia sempat diancam mau dipulangkan oleh agensi dengan alasan MW sering mabuk laut, selain itu ia juga disuruh mengganti rugi biaya keberangkatan.

"Selain hendak dipulangkan sepihak, saya juga sempat diminta ejen untuk membayar ganti rugi biaya keberangkatan sebesar 50 juta, "jelas MW.

MW masuk Taiwan bulan Oktober tahun 2019 lalu. Ia hanya menjadi ABK resmi selama sebulan. Ia memilih kabur dan bekerja di perusahaan kontruksi, selain karena alasan di atas ia juga harus menghidupi dan membiayai kedua anaknya yang masih kecil.

"Tolong bantu anak saya yang masih di bangku sekolah. Seng wedok (8th) seng lanang (6th), aku wes ora duwe bojo ( yang perempuan 8th, yang laki-laki 6th red.,). Anak-anakku bergantung padaku. Saya mohon mas, "ungkap MW sambil menanggis.

MW menyadari aksi nekad yang dilakukannya ini benar-benar berbahaya sekali, namun penyesalan pun sudah tidak berarti untuk saat ini. MW menghimbau kepada teman-teman kaburan lain dan meminta tolong Faisal untuk memberitahu yang lain (kaburan), apabila mau keciduk pasrah saja, jangan melarikan diri.

"Biar saya saja yang merasakan penderitaan ini. Semoga saya yang terakhir dan untuk ke depannya tidak terjadi lagi. Saya tahu saya salah, saya juga pasrah ke yang Di Atas, "pungkasnya dengan intonasi pelan karena menahan rasa sakit dibagian dada.
(HNI/IYD, 17/07)
Universitas Terbuka Riyadh
-