Berita > Seputar TKI
Divonis Sakit Tumor Hati PMI Asal Blitar Butuh Biaya Besar untuk Selamatkan Nyawanya
11 Oct 2020 19:00:34 WIB | Hani Tw | dibaca 206
Ket: Divonis Sakit Tumor Hati PMI Asal Blitar Butuh Biaya Besar untuk Selamatkan Nyawanya
Foto: Faisal Soh
Taipei, LiputanBMI - Seorang PMI asal Blitar, Sari (25th) divonis menderita penyakit tumor hati (liver) setelah melakukan pemeriksaan di salah satu RS di Taoyuan pada Hari ini (10/10/2020).

Seperti dijelaskan Faisal soh melalui akun Facebooknya (10/10), Sari mendatangi rumahnya untuk minta bantuan proses MD. Melihat kondisi Sari yang dalam keadaan sakit kemudian Faisal membawa Sari ke rumah sakit terdekat untuk melakukan pemeriksaan.

Faisal sempat kebingungan ketika tiba di RS tim medis nampak gugup melihat kondisi Sari.

"Saya sempat bingung dan bertanya-tanya kenapa para team medis sangat gugup melihat kondisi Sari. Ada apa sebenarnya, "jelas Faisal.

Faisal dibuat terkejut lagi saat dokter memperlihatkan hasil rontgen Sari. Didalam liver (hati) Sari terdapat tumor sebesar 14,6cm. Menurut dokter, tumor ini juga sudah mengakibatkan infeksi pada saluran kenc*ing seperti ginjal, ov*rium, dan sebagainya pada tubuh Sari.

"Her disease is life threatening (penyakitnya telah mengancam nyawanya)," ungkap dokter yang menangani Sari.

Sari merupakan PMI dengan job jaga lansia. Ia datang ke Taiwan awal Januari 2020 silam dengan membayar biaya sebesar 19 juta rupiah. Awalnya ia bekerja menjaga pasien stroke di Taoyuan. Karena kondisinya sakit Sari hanya bisa bertahan selama 2 bulan.

Kemudian Sari pindah majikan sekaligus pindah agensi. Dari agensi ke dua ia dimintai uang NTD 10.000 untuk membayar biaya ganti job.

Di job kedua ini Sari bekerja merawat dua orang lansia, kakek dan nenek. Selain menjaga mereka, Sari tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah lainnya atau yang sering disebut dengan doble job.

Pada bulan ke lima Sari bekerja, nenek yang dijaganya meninggal dunia. Kemudian ia beralih menjaga kakek.

Dari sinilah awal mula Sari mengalami banyak masalah. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sepeninggal nenek, kakek mengalami gangguan kejiwaan. Emosinya tidak stabil dan sering marah-marah. Sari ketakutan, namun dia masih berusaha bertahan. Semua dilakukan demi anaknya yang masih berusia 8 tahun jadi ia harus kuat.

Akan tetapi Sari merasakan kondisi tubuhnya makin memburuk. Dia berulang kali memohon ke agensi untuk diantar ke rumah sakit guna melakukan pemeriksaan, namun agensi jarang sekali mau mengangkat telpon dan berkomunikasi dengannya.
Kalaupun terhubungi, bukannya dibawa medical, Sari malah sering diancam akan dipulangkan.

Akhirnya Sari nekat keluar dari rumah majikan kemudian mencari bantuan teman untuk berobat, namun semua klinik yang dia datangi menganjurkan dirinya untuk segera melakukan perawatan medis ke rumah sakit besar.

Selama keluar dari rumah majikan Sari tidak mengangkat telpon dari agensi maupun majikan, sehingga setelah dalam waktu 3x24 jam tidak menemukan Sari, status Sari secara resmi tercatat sebagai PMI ilegal.

Sari menjadi ilegal selama 38 hari, selama itu pula Sari tidak mendapatkan solusi. Akhirnya hari ini (10/10/2020) Sari menyerah dan mendatangi mess Faisal untuk meminta bantuan proses MD.

Saat ini Sari masih dirawat di UGD salah satu RS pemerintah di Taoyuan. Faisal sangat berharap kepada teman-teman yang memiliki rezeki lebih supaya bisa membantu Sari, karena biaya operasinya sangat besar.
(HNI/IYD, 11/10)
Universitas Terbuka Riyadh
-