Berita > Seputar TKI
Hati-hati, Langgar Peraturan Karantina di Taiwan Bisa Terancam Denda Hingga NTD 1 Juta
03 Nov 2020 14:36:20 WIB | Hani Tw | dibaca 234
Ket: Hati-hati, Langgar Peraturan Karantina di Taiwan Bisa Terancam Denda Hingga NTD 1 Juta
Foto: United Daily News
Taipei, LiputanBMI - Pusat Komando Epidemi Central Taiwan (CECC) mengumumkan, tiga klaster baru COVID-19 di Taiwan pada 1 November adalah dua orang WNI dan satu orang warga Taiwan yang tinggal di Amerika.

Dua orang WNI yang dinyatakan positif COVID-19, satu orang diantaranya seorang pelajar perempuan berumur belasan tahun yang merupakan kasus ke 557. Masuk Taiwan pada 29 Oktober, ketika di bandara ia mengatakan kalau sebelum berangkat ia mengalami gejala. Dan setelah dilakukan pemeriksaan di bandara dinyatakan positif.

Sedangkan satu orang lagi seorang PMI (laki-laki) berumur sekitar 30 tahun yang merupakan kasus ke-558. Sebelum berangkat ke Taiwan sudah menjalani rapid test di Indonesia dan hasilnya negatif.

PMI itu, masuk Taiwan tanggal 14 Oktober. Selama menjalani masa karantina, CECC menerima laporan dari petugas karantina bahwa PMI tersebut tidak mengalami keluhan apapun.

Setelah masa karantina selesai dan ia bersama dua orang PMI lainnya melakukan test rapit. Namun dari hasil pemeriksaan, PMI tersebut dinyatakan positif sementara dua lainnya hasilnya negatif.

Pada saat itulah ketahuan kalau pada malam harinya setelah masuk Taiwan PMI itu mengalami flu pilek. Ia minum obat pereda sakit, tetapi tidak melaporkannya ke petugas karantina.

Juru bicara CECC Zhuang Ren-xiang mengatakan, jika pada saat menjalani karantina dan melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang ditetapkan maka bisa dikenakan denda NTD 10.000 hingga NTD 1juta.

Zhuang Renxiang menambahkan, terkait kasus ini Dinas kesehatan sedang melakukan penyelidikan. Dalam hal ini, apakah PMI atau agensi yang tidak jujur, kemudian akan diputuskan siapa yang akan dikenakan denda.

Menurut Dinas kesehatan ada lima orang yang memiliki kontak langsung dengan PMI tersebut saat ini melakukan karantina mandiri.

Sementara itu Staff TIWA, Wu Jingru, mengatakan bahwa kebanyakan Pekerja migran mengalami kendala bahasa. Mereka bukan bermaksud sengaja mau melanggar hukum, namun seharusnya CECC bisa mempertimbangkan secara khusus, serta harus memberi kesempatan untuk menjelaskannya supaya mereka jangan menanggap enteng.

“Jika tidak ada yang menjelaskan secara jelas tentang peraturan mana yang harus diikuti selama masa karantina rumah, kemungkinan mereka (pekerja migran) tidak mengetahui atau tidak yakin gejala yang seperti apa yang harus dijelaskan secara proaktif dan kepada siapa mereka harus menjelaskannya, “ ungkap Wu Jingru.
(HNI/, 03/11)
Universitas Terbuka Riyadh
-